Oleh: Sony | September 9, 2008

BERKEBUN JERUK

BERGUMUL DENGAN TANAH

Setelah Ibunda saya meninggal dunia, kami mewarisi lahan pertanian kering di dua tempat, lahan sawah juga dua tempat.  Lahan pertanian kering tersebut atas saran kakak saya yang tertua, kami tanam jeruk, dengan perjanjian bahwa pengelola sehari-hari adalah mereka, karena letak kebun tersebut sekitar delapan puluh kilometer dari rumah kami. Pekerjaannya meliputi Penyemprotan gulma dengan Roundup atau Gramaxon tiga bulan sekali, pembabatan rumput bawah dua bulan sekali, penyemprotan pestisida, fungisida, insektisidan dan akarisida sekali dalam satu minggu, pemupukan dengan KCL, NPK, Urea/Hydro, Amaphos, Rustica dll, dengan dosis satu kilogram per batang sekali dalam dua bulan, pemupukan dengan organik atau pupuk kandang/kompos sekali dalam empat bulan, pengguntingan dahan dan ranting kering dua kali setahun setiap kali sehabis panen besar.  Dalam usia delapan tahun, rata rata produktivitas dalam satu kali panen adalah empat puluh kilogram per pohon.  Untuk kebun dengan jumlah  enam ratus pohon, dalam dua kali panen terhitung sejumlah empat puluh delapan sampai lima puluh ton.  Kendatipun di Jakarta harga jeruk Brastagi berkisar antara sepuluh sampai dua belas ribu rupiah per kilogram, di kebun harganya oleh agen atau pemborong rata-rata hanya tiga ribu rupiah per kilogram. Sehingga kalau diperkirakan total pendapatan kotor adalah seratus lima puluh juta rupiah per tahun.  Biaya produksi mencapai tujuh puluh lima persen atau sekitar seratus lima belas juta.  Keuntungan bersih hanya sekitar tigapuluh lima juta rupiah atau sekitar tiga juta rupiah per bulan.  Setara gaji PNS golongan III/a masa kerja dua puluh tahun. Kini yang menjadi pemikiran adalah bagaimana meningkatkan nilai tambah dan memperkuat posisi tawar terhadap pasar, karena kesan saya, selama ini petani sangat lemah posisinya dan tidak pernah dapat berbuat apa apa ketika harga jatuh.  Mengapa harga jatuh juga kerap kali tidak ada alasan yang logis. Mungkin perlu dilakukan proteksi terhadap petani dalam negeri, sebagaimana Amerika juga sangat melindungi petani-petani mereka.  Tapi untuk mampu berkata tidak, pemerintah kita harus memiliki kekuatan yang cukup di dunia internasional.  Kalau tidak, ya suara kita tidak didengar orang.  Perdagangan Internasional itu ibarat Harimau, sangat protektif terhadap anaknya dan sangat kejam kepada musuhnya. Mungkin ada fikiran fikiran sederhana yang sangat jernih, mampu menjernihkan kabut nasib kaum tani. Silahkan berkiprah.

About these ads

Responses

  1. Waow … luar biasa, jeruknya lebat sekali,dan kuning semua. Sangat menyenangkan melihatnya.
    Tapi ada yang membuat aku heran, pupuknya 1 kg per pohon? Banyak sekali ya?
    Untuk meningkatkan posisi tawar (bargaining position) petani jeruk, harus ada organisasi persatuan antar petani, dan petani harus taat pada harga yang ditentukan organisasi.
    Sis
    Inilah yang membuatku selalu dan selalu rindu pulang ke desa. Di kebun itu, jejak-jejak karya orang tua yang tersisa seperti pohon mangga, pohon jambu kelutuk, pohon biwa, membuatku semakin menghargai jasa-jasanya melahirkan dan membesarkanku.

  2. whuaaaa jeruknya keliatan menggiurkan sekali… duh kapan ya bisa punya kebun jeruk kyk pak sonny, lg suntuk dgn kerjaan ktr, memetik buah jeruk pasti menyenangkan sekali.
    Sis:
    Disebelah kebun kita, ada kebun kopi yang mau dijual pemiliknya. kalau mau beli…. silahkan kontak kami. Ntar kita tebang pokok kopinya, kita ganti jeruk, tiga tahun… dijamin berbuah…… mauuuuu?
    he..he..he…

  3. Asyik sekali kalau lihat sudah berbuah lebat begitu.Baca tulisan ini…jadi makin ngerti,susah juga ya jadi petani,cukup rumit.kita yang tinggal di kota gak tahu proses.
    Lha iya,,,produksi dalam negeri saja bagus dan berkualitas..lha kok dimana mana jeruk impor,apel impor,anggur impor…piye to ya ??
    Sis:
    Kaum Tani Indonesia (yang rata-rata UMKM) ditekan dari segala penjuru. Satu sisi pupuk mahaaaaaal,( sudah mahal langka pula). Sisi lain, produk kita dihargai suuuangaaaaat murah, sudah murah diboikot pula dengan segala alasan teknis dan hygienis (sulit masuk seper market). Kemudian macan-macan produk negara tetangga kita seperti Thailand dan Taiwan dengan produsen buah serba Bangkoknya (pepaya bangkok, durian bangkok, jambu bangkok dst), dan buah-buahan dari daerah empat musim seperti apple, pier, kiwi, peach dst, benar-benar menggilas nasib buah-buahan produk dalam negeri. Konon bagi importir dalam negeri akan memperoleh kompensasi tinggi jika mampu memasukkan barang dari luar negeri itu, dengan kemudahan ekspor produk pangan kita , yang sayangnya kemudahan itu tidak diarahkan kepada produk pertanian, tapi sektor manufakturing dan makanan non farming. Bahkan kadang ada kesan mengimpor hasil pertanian dari luar negeri seolah dipaksakan seperti impor beras dan gula. Mbak Dyah sebagai orang ekonomi, tambah sebagai bekas muridnya Pak Mubyarto, yang ekonom pertanian itu, bantu dong ini nasib kami petani kecil ini, setidaknya dalam pemikiran pun jadilah.

  4. Pernah tercetus ide dari kami bersaudara, bagaimana bila jeruk itu tidak hanya dijual dalam bentuk buah saja. Yang kebanyakan dikirim ke pulau Jawa. Saat musim buah harganya drop.

    Kalau di tanah karo sudah ada pabrik untuk mengolah jeruk jadi juice dan bisa di eksport khan nilainya bisa lebih tinggi.

    Menurut Bapak bagaimana? ;)
    Sis:
    Ide itu baik dari segi konsep, tapi sulit direalisasikan. Tantangan dan hambatannya besar. Pertama, masalah siapa yang membuat pabrik, kalau pihak non petani….. nasib petaninya masih tanda tanya besar karena itu namanya memasukkan pihak ketiga kedalam dunia petani. Kalau koperasi petani,…. mengorganisasikan petani itu juga sulit, terutama kalau nanti sudah berhasil, seperti anjing berebut tulang (lihat itu partai-partai politik, seperti itulah nantinya). Kalau sistim bapak angkat, Tanah Karo sudah tidak punya lahan lagi untuk kebun Inti. Kalau pabriknya terpisah dengan petani, lihat kegagalan Asparagus. Jadi, cara sekarang sudah benar… pasarkan sendiri langsung ke konsumen. Tinggal bagaimana keterampilan petani meningkatkan kualitas produk, kontinuitas dari produk (mungkin dengan cara pergudangan/cold storage) dan mencoba menata masa panen dengan teknologi rekayasa/menipu jeruk sehingga dia mau berbuah pada saat kita mau (lihat cara ini berhasil untuk tanaman Appel di Malang).
    Tapi kalau Indah mau banyak belajar, buka saja situs Masyarakat Jeruk Indonesia, melalui Google.

  5. Haloo..pak salam kenal. saya dari daerah magelang yang sempat terkenal dengan jeruk keproknya. namun sekarang produksinya sudah jauh menurun. saya berinisiatif untuk mencari bibit jenis baru. apakah bapak juga menyediakan bibit jeruk seperti yang bapak tanam dan bisa bapak gambarkan kondisi alam daerah bapak. daerah saya pegunungan dengan suhu kurang lebih 17 – 23 cc. Terima kasih.
    Sis:
    Kami tidak memproduksi bibit. Bibit yang kami pakai, kreasi dari keponakan kami dengan teknik sambung mata tunas dari tanaman dasar (akar) adalah jenis jeruk asam disemai dari biji, kemudian mata tempel diambil dari kulit jeruk keprok yang sudah berproduksi dan dinilai baik hasilnya. Induk asal dari mata tunas khabarnya dari daerah Kacang tepian Danau Singkarak, Sumatera Barat, tapi sudah generasi ke sekian. Menurut pendapatku, di Jawa banyak bibit yang bagus, terutama dari Jawa Timur. Tentang suhu, cuaca, dan Iklim daerah Karo hampir sama dengan daerah Magelang, Parakan, Temanggung, Wonosobo, mungkin sebagian Banjar Negara. Jenis tanah sebagian Andosol, dan Tuffa Vulkan ada juga sedikit kearah Danau Toba berupa Podsolik Merah Kuning. Curah hujan diatas 3000 mm/tahun. Bulan kering kurang dari tiga bulan per tahun. Atau menurut Schmidt & Fergusson termasuk Iklim Af.

  6. Ass. pak/ bu sy punya pohon jeruk tp ga tau jenisnya apa, km bingung cara bertanam jeruk yg baik seperti apa.. tiap x berbuah selalu saja tdk termakan abis rasanya aneh… klo dibiarkan matang d pohon rasa buahnya sudah tidak ada airnya atau seperti busa.. klo dipetik masih hijau rasanya asam sekali.. yang saya tanyakan kapankah tepatnya km harus memetik buah jeruk yang pas… apakah ada jangka waktunya atau harus dipetik terus disimpan biar matang sendiri… terimakasih bila bpk/ibu dapat memberi saran kepada sy… thanks.

  7. Ass. pak/ bu sy punya pohon jeruk tp ga tau jenisnya apa, km bingung cara bertanam jeruk yg baik seperti apa.. tiap x berbuah selalu saja tdk termakan abis rasanya aneh… klo dibiarkan matang d pohon rasa buahnya sudah tidak ada airnya atau seperti busa.. klo dipetik masih hijau rasanya asam sekali.. yang saya tanyakan kapankah tepatnya km harus memetik buah jeruk yang pas… apakah ada jangka waktunya atau harus dipetik terus disimpan biar matang sendiri… terimakasih bila bpk/ibu dapat memberi saran kepada sy… thanks. nb daerah saya di kab. sumedang cocok g ya untuk berkebun jeruk?
    Sis:
    Sumedang cocok untuk jeruk, jenis apa saja. Coba diperiksa tingkat keasaman tanahnya, maunya pH sekitar 5 – 7, nah kalau dibawah 5, tebarkan saja pupuk dolomit dengan diosis 1000 kg/ha, tebarkan merata. Sebenarnya tidak ada masalah dengan buah asal saja pupuknya baik unsur Makro (NPK) maupun mikro Na, Cl, dst, mencukupi. Sekarang ini banyak pupuk organik dijual, coba saja gunakan itu. Semoga berhasil.

  8. Salam kenal,pak. Saya punya rencana bertanam jeruk tapi dlm skala kecil dulu utk permulaan. Mohon petunjuk bpk bagaimana cara yg benar dan tepat. Terima kasih.

  9. asskum mbak/pak…

    saya butuh bibit jeruk thailand yang seperti mbak tanam….

    kira2 dimana saya bisa mendapatkan bibit tersebut…

    Terima kasih,
    jasrizal
    08127572624
    e-mail : fosterwheeler01@yahoo.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: