PENANGGALAN SEBAGAI PEDOMAN
Setelah merampungkan posting ke lima tentang Kisah Pawang Ternalem, begitu banyak disebut mengenai hari sial, mengenai makna hari kelahiran dan tata kegiatan tradisi lainnya. Mungkin akan menjadi lebih difahami dan diminati apabila diketahui latar belakang dan materi penanggalan itu sendiri. Akhirnya aku memutuskan memposted kalender itu, sebagai bahan referensi. Terlebih-lebih ada kaitan faktor waktu acara Ngulak, Buang Sial, Erpangir Lamsam, yang wajib dilakukan oleh Pawang Ternalem. Semoga dapat menambah wawasan.
Nama-nama Penanggalan Dalam Kalender Karo, yang diduga berasal dari penanggalan Hindu (Sansekerta). Terbagi dalam 12 Paka, satu Paka berarti peredaran bulan dalam satu siklus terdiri dari Empat Minggu diawali satu malam sebelum bulan muncul dan diakhiri satu malam setelah bulan mati, maka totalnya adalah 28 + 2 = 30 hari. Setiap hari mempunyai identitas tersendiri dan makna tersendiri pula. Uraian ringkasnya adalah sebagai berikut.
Minggu I
1. Aditia
2. Suma
3. Nggara
4. Budaha
5. Beraspati Pultak
6. Cukera Enem Berngi
7. Belah Naik
Minggu II
8. Aditia Naik
9. Sumana Siwah
10. Nggara Sepuluh
11. Budaha Ngadep
12. Beraspati Tangkep
13. Cukera Dudu/Lau
14. Belah Purnama Raya
Minggu III
15. Tula
16. Suma Cepik
17. Nggara Enggo Tula
18. Budaha Gok
19. Beras Pati Sepulusiwah
20. Cukera si Duapuluh
21. Belah Turun
Minggu IV
22. Aditia Turun
23. Sumana Mate
24. Nggara Simbelin
25. Budaha Medem
26. Beraspati Medem
27. Cukera na Mate
28. Mate Bulan
29. Dalin Bulan
30. Sami Sara ( setelah itu diawali kembali dengan Aditia dst).
Dari penanggalan ini dapat dilihat bahwa ada tujuh jenis hari dalam satu minggu, dan masing masing mempunyai identitas sama sebagai berikut:
Identitas untuk Minggu I, II, III, dan IV sebagai berikut:
Hari Pertama :Aditia, Aditia Naik, Tula, dan Aditia Turun.
Hari kedua : Suma, Sumana Siwah, Suma Cepik, dan Sumana Mate.
Hari Ketiga : Nggara, Nggara Sepuluh, Nggara Enggo Tula, dan Nggara Simbelin.
Hari Keempat: Budaha, Budaha Ngadep, Budaha Gok, dan Budaha Medem.
Hari Kelima : Beraspati Pultak, Beraspati Tangkep, Beraspati Sepulusiwah dan Beraspati Medem.
Hari Keenam: Cukera enem berngi, Cukera Dudu, Cukera Duapuluh, Cukera Mate.
Hari ketujuh: Belah Naik, Belah Purnama Raya, Belah Turun, Mate Bulan.
Hari pengenapan setelah mate bulan (hari ke duapuluh delapan) maka untuk menggenapkan tiga puluh hari adalah : Dalin Bulan dan Samisara. Setelah itu kembali ke tanggal satu yakni Aditia.
Untuk perhitungan tiga puluh hari disebut satu Paka dengan satu tahun terdapat duabelas Paka. Nama-nama Paka (identitas Bulan) adalah:
Penyesuaian Tanggal Masehi Tahun 2008
- Paka I = Kambing (10 Januari s/d 8 Februari) Kambing
- Paka II = Lampu ( 9 Februari s/d 10 Maret) Lampu
- Paka III = Gaya (11 Maret s/d 9 April) Cacing Tanah
- Paka IV = Padek (10 April s/d 10 Mei ) Kodok
- Paka V = Arimo (11 Mei s/d 9 Juni) Harimau
- Paka VI = Kuliki (10 Juni s/d 9 Juli) Rajawali
- Paka VII = Kayu (10 Juli s/d 8 Agustus) Kayu
- Paka VIII= Tambok (9 Agustus s/d 8 September) Telaga
- Paka IX = Gayo (9 September s/d 9 Oktober) Kepiting
- Paka X = Baluat (10 Oktober s/d 9 Nopember ) Seruling
- Paka XI = Batu ( 10 Nopember s/d 9 Desember) Batu
- Paka XII = Binurung (10 Desember s/d 9 Januari 2009). Ikan
Pedoman Penggunaan Penanggalan Wari Karo.
1. Aditia
Baik untuk memulai sesuatu kegiatan, satu permufakatan.
2. Suma
Hari untuk mahluk berkaki dua, termasuk manusia dan bangsa unggas. Baik mengerjakan pekerjaan berburu.
3. Nggara
Hari panas, baik untuk memerangi musuh, membuang sial, meramu obat-obatan, membuka hutan untuk perladangan.
4. Budaha
Hari bagi mahluk empat kaki, hari untuk padi, baik untuk mulai menanam benih, menyimpan padi ke lumbung, juga untuk kenduri.
5. Beras Pati Pultak.
Hari yang licin, baik untuk memulai pembangunan rumah, memasuki rumah baru, memulai usaha berjualan/buka kedai, melamar pekerjaan. Jangan ada perdebatan/perselisihan paham pada hari ini.
6. Cukera Enem Berngi.
Hari penutup kegiatan, hari untuk berangkat merantau, melamar pekerjaan, menghadap orang besar/berpangkat, mengadakan pesta perkawinan, juga melamar calon istri atau menyatakan cinta.
7. Belah naik.
Hari penuh keramat, Hari Raja, Hari Perkawinan, Hari Bersyukur, baik untuk Ergendang (Pesta Musik Tradisional).
8. Aditia Naik.
Hario baik untuk semua jenis pesta dan kenduri. Memulai permufakatan, Membuat Syukuran, Memasuki Rumah Baru.
9. Sumana Siwah
Hari kurang baik. Harus hati-hati. Baik untuk memasang jerat atau bubu, pergi berburu atau menangkap ikan.
10. Nggara Sepuluh.
Hari panas. Hati-hati berbicara, jangan bertengkar, baik untuk meramu obat, Memulai satu usaha, Buang Sial, Memasuki Rumah Baru, Perkawinan, Membangun Kuburan/Tugu.
11. Budaha Ngadep.
Hari sempurna, baik untuk segala kegiatan.
12. Beraspati Tangkep.
Hari baik menghadap orang besar atau pejabat, Melamar Pekerjaan, Pesta-pesta keluarga, Erpangir Kulau, Perumah Begu Jabu, Memberikan Persembahan kepada Tuhan.
13. Cukera Dudu (Cukera Lau).
Hari baik melangsungkan perkawinan, Nuan Galoh Lape-lape, Membangun Rumah Tempat Berdoa, Memasuki Rumah Baru, Erpangir ku Lau.
14. Belah Purnama Raya.
Hari Raja. Baik untuk semua pekerjaan mulia, Erpangir kulau, Guro guro Aron, Naruhken Anak ku Kalimbubu.
15. Tula.
Hari Sial. Sebaiknya jangan mengerjakan sesuatu. Satu-satunya yang dianjurkan adalah Menanam Kelapa.
16. Suma Cepik.
Hari kurang baik kalau ada kekurangan atau tidak selesai atas sesuatu yang dilakukan hari itu. Perlu penggenapnya Bulung-bulung Simalem-malem. Baik memasang jerat, memasang bubu, memancing/menjala ikan dan berburu.
17. Nggara Enggo Tula.
Baik untuk melaksanakan upacara buang sial, Meramu obat, Erpangir Selamsam.
18. Budaha Gok.
Hari Panen Raya. Baik untuk semua kegiatan bercocok tanam. Menanam, menuai, menyimpan ke lumbung atau mengambil padi dari lumbung.
19. Beraspati Sepulusiwah.
Membuka lahan atau merambah hutan, Menebang Kayu untuk membangun rumah, membuat Pondok di Ladang/Kebun.
20. Cukera si Duapuluh.
Baik untuk memasak obat obatan, Memasuki Rumah Baru, Nampeken Tulan tulan, Erkata Gendang.
21. Belah Turun.
Buang Sial, Memasang Jerat, berburu dan Memancing.
22. Aditia urun.
Meramu Obat, Menghanyutkan seluruh unsur kesialan ke laut.
23. Sumana Mate.
Buang Sial, Memasang Jerat, berburu dan Memancing.
24. Nggara Si Mbelin.
Meramu Obat, Hari Berdoa Kepada Tuhan untuk Permintaan Yang Baik.
25. Budaha Medem.
Baik untuk semua kegiatan bercocok tanam. Menanam, menuai, menyimpan ke lumbung atau mengambil padi dari lumbung.
26. Beras pati Medem.
Hari Kesejukan. Membuat Upacara Penghormatan Kepada Orang Tua, Ndahi Kalimbubu, Mere nakan man Orang Tua.
27. Cukera Mate
Buang Sial, Meramu Obat, Berburu dan memancing.
28. Mate Bulan.
Ngulak, Buang Sial, Nubus Semangat, Berburu, Turun ke Laut.
29. Dalin Bulan.
Hari untuk Menindik Kuping.
30. Samisara
Hari Penutupan. Menyelesaikan semua pekerjaan, Penutupan Arisan, Numbuki Aron, Hari Berdoa.
Demikianlah penanggalan yang harus dipedomani, yakni Wari, dan Paka sebagai dasar penentu pelaksanaannya.

Ternyata kebudayaan Karo juga ada hal-hal semacam itu. Di Jawa juga ada cara mencari hari baik untuk berbagai kegiatan yang mirip seperti penanggalan Karo itu. Dan saya salut karena Bang Sony masih mengetahuinya. Di Jawa terutama di desa saya sudah jarang sekali orang yang bisa mencari hari baik. Salut Bang Sony, semoga tidak lelah dan bosan untuk senantiasa melestarikan kebudayaan Karo. thanks
Sis:
Senarnya ya mbak Dewi, semua hari baik. Hanya saja pengalaman orang-orang terdahulu secara empiris dapat juga dilogikakan contohnya Hari Mate Bulan disebut cocok turun ke laut, karena malam pasti gelap. Jika malam terang bulan, ikan tidak mudah didapat.
Tentang mencintai kebudayaan, saya membaca bahwa bangsa ini dulu berjaya pada zaman Sriwijaya dengan peradaban Buddha dan Majapahit yang berperadaban Hindu juga karena kematangan budayanya. Dan sebenarnya itulah yang menjadi akar budaya lokal yang masih dipakai dipedusunan dan pelosok tanah air kita secara turun temurun tanpa kita sadari dasar keberadaannya didalam kehidupan kita.
Oleh: yulism on Oktober 10, 2008
at 10:16 pm
terima kasih postingannya , jadi bertambah wawasan saya ttg budaya Karo
melihat atap rumah adat Karo di atas, jadi ingat rumah2 beratap hampir sama di sini yang biasanya hanya orang yang uangnya lebih yang bisa membangunnya karena mahal sekali dibandingka dgn rumah beratap genting
terima kasih kunjungannya ke blog saya
Sis:
Atapnya terbuat dari ijuk pohon aren, dengan sebelumnya dibuat gelagar dari belahan bambu, diikat pakai rotan. Rumah adat ini sama sekali tidak memakai paku, dinding papannya terikat dengan panel dan penguatnya adalah jalinan temali ijuk. Pengecatannya dilakukan dengan menggunakan tanah liat dan warna daun-daun atau tumbuhan hutan. Rumah yang pernah kami miliki (warisan kakek), direhab tahun 1937 dan telah dirubuhkan pada tahun 1997, karena kami tidak lagi mampu memeliharanya. Trims atas kunjungannya dan semoga tidak bosan.
Oleh: Elys Welt on Oktober 13, 2008
at 1:09 am
Hitung2annya menarik Pak, saya campuran Palembang dan Jawa tp untuk urusan tanggalan hari baik gini saya ga begitu paham, yg penting menikah hehehe…
terimakasih buat infonya Pak, mudah2an saya bisa nikah sebelum Januari 2009 jd bisa dicocokin sm kalendernya
Sis :
Aku dukung rencana dan upayamu seratus persen. Memang, menunggu itu kadang-kadang seperti menunggu bangku kosong sambil berdiri diatas Bus PPD. Kita berdiri didekat seseorang yang nampaknya akan turun sebentar lagi. Tapi rupanya tidak beruntung karena satu halte sebelum dia turun, naik seseorang yang dia kenal dan mereka bercakap-cakap. Ketika yang bersangkutan mau turun, disuruhnya temannya duduk ditempat itu, sehingga kita tetap berdiri. Waspadai keadaan seperti ini. Rebut masa depanmu dengan lebih militan. Semoga rencanamu terwujud seperti yang kamu rencanakan. Go go go…
Oleh: pimbem on Oktober 13, 2008
at 8:43 am
Rumit juga ya..seperti di Jawa..
tapi ngomong ngomong sekarang buku primbon juga laku keras…orang banyak ingin tahu tentang perhitungan banyak hal melalui budaya.
Foto2 nya bagus…suatu saat harus ke Karo….sepertinya banyak yang unik
Sis:
Budaya leluhur itu mengingatkan kita bahwa kendatipun mereka bukan orang pintar, tetapi mereka adalah orang-orang yang bijak, penuh penghargaan terhadap alam dan sangat taat kepada sang Pencipta.
Dataran Tinggi Karo, berada pada ketinggian 1200 s/d 1600 m dpal. Salah satu sudut daerah ini berada pada pantai Danau Toba disebut Tongging. Jarak ke pusat kabupaten dari Kota Medan 76 km, dengan jalan berliku-liku ditempuh lebih kurang dua jam. Produksi teruniknya adalah Syrop Marquisa yang dibuat dari Buah Markisah. Disamping segala jenis sayuran, buah dan kopi.
Oleh: dyah suminar on Oktober 13, 2008
at 9:53 am
rumit…tp menarik walaupun saya masih bingung hehehe..
Sis:
Pada dasarnya semua hari juga baik.
Sepanjang kita juga masih dapat dikatakan sebagai orang baik-baik…he..he…
Makasih ya udah datang berkunjung.
Oleh: Retno Damayanthi on Oktober 13, 2008
at 12:22 pm
tulisan silih Sony tentang Penanggalan ini
sangat menarik, educated dan
perlu dipelajari secara mendalam
utamanya bagi generasi muda Karo
soalnya bnyk generasi muda kita
sudah tak paham warisan budaya leluhur
mejuah juah banta karina
adi lit guro guro aron bas kutanta
erkata kam silih
Sis:
Sebagai satu pemikiran, bahwa nenek moyang kita dahulu, setiap memulai pekerjaan didahului dengan persiapan dan ketaatan kepada azas yang telah diyakini. Terima kasih.
Oleh: mikekono on Oktober 14, 2008
at 4:52 pm
Wah, saya baru tahu kalau Batak Karo dulu memiliki budaya Hindu. Barangkali berasal dari India ya?
Btw, penanggalannya rumit juga ya Bang. Apakah anak-anak muda Karo jaman sekarang masih paham penanggalan seperti itu?
Sis:
Orang Karo (Karonese) menurut pakar anthropologi berasal dari Hindia Belakang, dikenal sebagai Melayu Tua, jauh sebelum Puak Melayu datang ke Sumatera. Mereka membawa budaya aslinya (ya Hindu itu) dari negeri asalnya. Mereka ini kemungkinan sama dengan yang ada di Burma, Laos dan Kamboja sekarang. Puncak kebudayaan mereka adalah pada kejayaan Kerajaan Haru, yang kemudian ditaklukkan oleh Gajah Mada pada Abad ke XV (lihat Nagara Kerta Gama). Agama Islam masuk abad ke XVI melalui perdagangan pesisir dari Samudera Pasai (Aceh Timur), sedangkan agama Kristen masuk ke Tanah Karo tahun 1900 oleh Pendeta JH. Newmann dimulai dari Desa Buluhawar (Deli Serdang).
Anak muda jaman sekarang mungkin 99,99% dari komunitas Karo yang diperhitungkan jumlahnya lebih kurang satu juta jiwa, tidak faham penanggalan ini. Anak muda jaman lalu (usia 40 – 60 tahun sekarang bisa jadi 99% yangtidak mengerti. (Kesimpulannya, aku termasuk binatang eh manusia langka dari sisi yang satu ini).
Oleh: tutinonka on Oktober 17, 2008
at 11:14 pm
yah bgs seh n emg bener byak generasi muda karo yang g paham ttg penanggalan karo tapi g ada kata terlambatkan buat aku mejuah-juah
Sis:
Bagus…..dan semoga tidak bosan bosan belajar untuk memperluas wawasan dan kematangan spiritual questionityndu ya.
Oleh: nde tepu on Mei 30, 2009
at 5:39 pm
tuhu kin adina kalak karo lit denga nentuken tanggal tapi adana gundari la kel ipergunaken perban mbuesa man timan adina nimai tanggal sitepat…
e me bage..
bujur ras mejuah-juah kita kerina
Oleh: augustine millala on September 16, 2009
at 10:38 am