<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: PAWANG TERNALEM Bagian Keenam)</title>
	<atom:link href="http://sonyssk.wordpress.com/2008/10/08/pawang-ternalem-bagian-keenam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sonyssk.wordpress.com/2008/10/08/pawang-ternalem-bagian-keenam/</link>
	<description>Rona  Alam dan Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Nov 2009 14:07:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: augustine millala</title>
		<link>http://sonyssk.wordpress.com/2008/10/08/pawang-ternalem-bagian-keenam/#comment-325</link>
		<dc:creator>augustine millala</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 03:38:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sonyssk.wordpress.com/?p=148#comment-325</guid>
		<description>tuhu kin adina kalak karo lit denga nentuken tanggal tapi adana gundari la kel ipergunaken perban mbuesa man timan adina nimai tanggal sitepat...

e me bage..

bujur ras mejuah-juah kita kerina</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tuhu kin adina kalak karo lit denga nentuken tanggal tapi adana gundari la kel ipergunaken perban mbuesa man timan adina nimai tanggal sitepat&#8230;</p>
<p>e me bage..</p>
<p>bujur ras mejuah-juah kita kerina</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: nde tepu</title>
		<link>http://sonyssk.wordpress.com/2008/10/08/pawang-ternalem-bagian-keenam/#comment-302</link>
		<dc:creator>nde tepu</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 10:39:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sonyssk.wordpress.com/?p=148#comment-302</guid>
		<description>yah bgs seh n emg bener byak generasi muda karo yang g paham ttg penanggalan karo tapi g ada kata terlambatkan buat aku mejuah-juah
&lt;strong&gt;Sis:&lt;/strong&gt;
&lt;em&gt;Bagus.....dan semoga tidak bosan bosan belajar untuk memperluas wawasan dan kematangan spiritual questionityndu ya.&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yah bgs seh n emg bener byak generasi muda karo yang g paham ttg penanggalan karo tapi g ada kata terlambatkan buat aku mejuah-juah<br />
<strong>Sis:</strong><br />
<em>Bagus&#8230;..dan semoga tidak bosan bosan belajar untuk memperluas wawasan dan kematangan spiritual questionityndu ya.</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: tutinonka</title>
		<link>http://sonyssk.wordpress.com/2008/10/08/pawang-ternalem-bagian-keenam/#comment-65</link>
		<dc:creator>tutinonka</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Oct 2008 16:14:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sonyssk.wordpress.com/?p=148#comment-65</guid>
		<description>Wah, saya baru tahu kalau Batak Karo dulu memiliki budaya Hindu. Barangkali berasal dari India ya?
Btw, penanggalannya rumit juga ya Bang. Apakah anak-anak muda Karo jaman sekarang masih paham penanggalan seperti itu?
&lt;strong&gt;Sis:&lt;/strong&gt;
&lt;em&gt;Orang Karo (Karonese) menurut pakar anthropologi berasal dari Hindia Belakang, dikenal sebagai Melayu Tua, jauh sebelum Puak Melayu datang ke Sumatera.  Mereka membawa budaya aslinya (ya Hindu itu) dari negeri asalnya. Mereka ini kemungkinan sama dengan yang ada di Burma, Laos dan Kamboja sekarang. Puncak kebudayaan mereka adalah pada kejayaan  Kerajaan Haru, yang kemudian ditaklukkan oleh Gajah Mada pada Abad ke XV (lihat Nagara Kerta Gama). Agama Islam masuk abad ke XVI melalui perdagangan pesisir dari Samudera Pasai (Aceh Timur), sedangkan agama Kristen masuk ke Tanah Karo tahun 1900 oleh Pendeta JH. Newmann dimulai dari  Desa Buluhawar (Deli Serdang). 
Anak muda jaman sekarang mungkin 99,99% dari komunitas Karo yang diperhitungkan jumlahnya lebih kurang satu juta jiwa, tidak faham penanggalan ini. Anak muda jaman lalu (usia 40 - 60 tahun sekarang bisa jadi 99% yangtidak mengerti. (Kesimpulannya, aku termasuk binatang eh manusia langka dari sisi yang satu ini).&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, saya baru tahu kalau Batak Karo dulu memiliki budaya Hindu. Barangkali berasal dari India ya?<br />
Btw, penanggalannya rumit juga ya Bang. Apakah anak-anak muda Karo jaman sekarang masih paham penanggalan seperti itu?<br />
<strong>Sis:</strong><br />
<em>Orang Karo (Karonese) menurut pakar anthropologi berasal dari Hindia Belakang, dikenal sebagai Melayu Tua, jauh sebelum Puak Melayu datang ke Sumatera.  Mereka membawa budaya aslinya (ya Hindu itu) dari negeri asalnya. Mereka ini kemungkinan sama dengan yang ada di Burma, Laos dan Kamboja sekarang. Puncak kebudayaan mereka adalah pada kejayaan  Kerajaan Haru, yang kemudian ditaklukkan oleh Gajah Mada pada Abad ke XV (lihat Nagara Kerta Gama). Agama Islam masuk abad ke XVI melalui perdagangan pesisir dari Samudera Pasai (Aceh Timur), sedangkan agama Kristen masuk ke Tanah Karo tahun 1900 oleh Pendeta JH. Newmann dimulai dari  Desa Buluhawar (Deli Serdang).<br />
Anak muda jaman sekarang mungkin 99,99% dari komunitas Karo yang diperhitungkan jumlahnya lebih kurang satu juta jiwa, tidak faham penanggalan ini. Anak muda jaman lalu (usia 40 &#8211; 60 tahun sekarang bisa jadi 99% yangtidak mengerti. (Kesimpulannya, aku termasuk binatang eh manusia langka dari sisi yang satu ini).</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: mikekono</title>
		<link>http://sonyssk.wordpress.com/2008/10/08/pawang-ternalem-bagian-keenam/#comment-63</link>
		<dc:creator>mikekono</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 09:52:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sonyssk.wordpress.com/?p=148#comment-63</guid>
		<description>tulisan silih Sony tentang Penanggalan ini
sangat menarik, educated dan 
perlu dipelajari secara mendalam
utamanya bagi generasi muda Karo
soalnya bnyk generasi muda kita
sudah tak paham warisan budaya leluhur
mejuah juah banta karina
adi lit guro guro aron bas kutanta
erkata kam silih
&lt;strong&gt;Sis:&lt;/strong&gt;
&lt;em&gt;Sebagai satu pemikiran, bahwa nenek moyang kita dahulu, setiap memulai pekerjaan didahului dengan persiapan dan ketaatan kepada azas yang telah diyakini.  Terima kasih.&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tulisan silih Sony tentang Penanggalan ini<br />
sangat menarik, educated dan<br />
perlu dipelajari secara mendalam<br />
utamanya bagi generasi muda Karo<br />
soalnya bnyk generasi muda kita<br />
sudah tak paham warisan budaya leluhur<br />
mejuah juah banta karina<br />
adi lit guro guro aron bas kutanta<br />
erkata kam silih<br />
<strong>Sis:</strong><br />
<em>Sebagai satu pemikiran, bahwa nenek moyang kita dahulu, setiap memulai pekerjaan didahului dengan persiapan dan ketaatan kepada azas yang telah diyakini.  Terima kasih.</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Retno Damayanthi</title>
		<link>http://sonyssk.wordpress.com/2008/10/08/pawang-ternalem-bagian-keenam/#comment-62</link>
		<dc:creator>Retno Damayanthi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 05:22:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sonyssk.wordpress.com/?p=148#comment-62</guid>
		<description>rumit...tp menarik walaupun saya masih bingung hehehe..
&lt;strong&gt;Sis:&lt;/strong&gt;
&lt;em&gt;Pada dasarnya semua hari juga baik.
Sepanjang kita juga masih dapat dikatakan sebagai orang baik-baik...he..he...
Makasih ya udah datang berkunjung. &lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>rumit&#8230;tp menarik walaupun saya masih bingung hehehe..<br />
<strong>Sis:</strong><br />
<em>Pada dasarnya semua hari juga baik.<br />
Sepanjang kita juga masih dapat dikatakan sebagai orang baik-baik&#8230;he..he&#8230;<br />
Makasih ya udah datang berkunjung. </em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: dyah suminar</title>
		<link>http://sonyssk.wordpress.com/2008/10/08/pawang-ternalem-bagian-keenam/#comment-61</link>
		<dc:creator>dyah suminar</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 02:53:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sonyssk.wordpress.com/?p=148#comment-61</guid>
		<description>Rumit juga ya..seperti di Jawa..
tapi ngomong ngomong sekarang buku primbon juga laku keras...orang banyak ingin tahu tentang perhitungan banyak hal melalui budaya.
Foto2 nya bagus...suatu saat harus ke Karo....sepertinya banyak yang unik
&lt;strong&gt;Sis:&lt;/strong&gt;
&lt;em&gt;Budaya leluhur itu mengingatkan kita bahwa kendatipun mereka bukan orang pintar, tetapi mereka adalah orang-orang yang bijak, penuh penghargaan terhadap alam dan sangat taat kepada sang Pencipta.
Dataran Tinggi Karo, berada pada ketinggian 1200 s/d 1600 m dpal.  Salah satu sudut daerah ini berada pada pantai Danau Toba disebut Tongging.  Jarak ke pusat kabupaten dari Kota Medan 76 km, dengan jalan berliku-liku ditempuh lebih kurang dua jam.  Produksi teruniknya adalah Syrop Marquisa yang dibuat dari Buah Markisah. Disamping segala jenis sayuran, buah dan kopi.&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Rumit juga ya..seperti di Jawa..<br />
tapi ngomong ngomong sekarang buku primbon juga laku keras&#8230;orang banyak ingin tahu tentang perhitungan banyak hal melalui budaya.<br />
Foto2 nya bagus&#8230;suatu saat harus ke Karo&#8230;.sepertinya banyak yang unik<br />
<strong>Sis:</strong><br />
<em>Budaya leluhur itu mengingatkan kita bahwa kendatipun mereka bukan orang pintar, tetapi mereka adalah orang-orang yang bijak, penuh penghargaan terhadap alam dan sangat taat kepada sang Pencipta.<br />
Dataran Tinggi Karo, berada pada ketinggian 1200 s/d 1600 m dpal.  Salah satu sudut daerah ini berada pada pantai Danau Toba disebut Tongging.  Jarak ke pusat kabupaten dari Kota Medan 76 km, dengan jalan berliku-liku ditempuh lebih kurang dua jam.  Produksi teruniknya adalah Syrop Marquisa yang dibuat dari Buah Markisah. Disamping segala jenis sayuran, buah dan kopi.</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: pimbem</title>
		<link>http://sonyssk.wordpress.com/2008/10/08/pawang-ternalem-bagian-keenam/#comment-59</link>
		<dc:creator>pimbem</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 01:43:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sonyssk.wordpress.com/?p=148#comment-59</guid>
		<description>Hitung2annya menarik Pak, saya campuran Palembang dan Jawa tp untuk urusan tanggalan hari baik gini saya ga begitu paham, yg penting menikah hehehe...
terimakasih buat infonya Pak, mudah2an saya bisa nikah sebelum Januari 2009 jd bisa dicocokin sm kalendernya :smile:
&lt;strong&gt;Sis :&lt;/strong&gt;
&lt;em&gt;Aku dukung rencana dan upayamu seratus persen.  Memang, menunggu itu kadang-kadang seperti menunggu bangku kosong sambil berdiri  diatas Bus PPD. Kita berdiri didekat seseorang yang nampaknya akan turun sebentar lagi.  Tapi rupanya tidak beruntung karena satu halte sebelum dia turun, naik seseorang yang dia kenal dan mereka bercakap-cakap.  Ketika yang bersangkutan mau turun, disuruhnya temannya duduk ditempat itu, sehingga kita tetap berdiri.  Waspadai keadaan seperti ini.  Rebut masa depanmu dengan lebih militan.  Semoga rencanamu terwujud seperti yang kamu rencanakan.  Go go go...&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hitung2annya menarik Pak, saya campuran Palembang dan Jawa tp untuk urusan tanggalan hari baik gini saya ga begitu paham, yg penting menikah hehehe&#8230;<br />
terimakasih buat infonya Pak, mudah2an saya bisa nikah sebelum Januari 2009 jd bisa dicocokin sm kalendernya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':smile:' class='wp-smiley' /><br />
<strong>Sis :</strong><br />
<em>Aku dukung rencana dan upayamu seratus persen.  Memang, menunggu itu kadang-kadang seperti menunggu bangku kosong sambil berdiri  diatas Bus PPD. Kita berdiri didekat seseorang yang nampaknya akan turun sebentar lagi.  Tapi rupanya tidak beruntung karena satu halte sebelum dia turun, naik seseorang yang dia kenal dan mereka bercakap-cakap.  Ketika yang bersangkutan mau turun, disuruhnya temannya duduk ditempat itu, sehingga kita tetap berdiri.  Waspadai keadaan seperti ini.  Rebut masa depanmu dengan lebih militan.  Semoga rencanamu terwujud seperti yang kamu rencanakan.  Go go go&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Elys Welt</title>
		<link>http://sonyssk.wordpress.com/2008/10/08/pawang-ternalem-bagian-keenam/#comment-58</link>
		<dc:creator>Elys Welt</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 18:09:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sonyssk.wordpress.com/?p=148#comment-58</guid>
		<description>terima kasih postingannya , jadi bertambah wawasan saya ttg budaya Karo 

melihat atap rumah adat Karo di atas, jadi ingat rumah2 beratap hampir sama di sini yang biasanya hanya orang yang uangnya lebih yang bisa membangunnya karena mahal sekali dibandingka dgn rumah beratap genting 

terima kasih kunjungannya ke blog saya :)
&lt;strong&gt;Sis:&lt;/strong&gt;
&lt;em&gt;Atapnya terbuat dari ijuk pohon aren, dengan sebelumnya dibuat gelagar dari belahan bambu, diikat pakai rotan.  Rumah adat ini sama sekali tidak memakai paku, dinding papannya terikat dengan panel dan penguatnya adalah jalinan temali ijuk.  Pengecatannya dilakukan dengan menggunakan tanah liat dan warna daun-daun atau tumbuhan hutan. Rumah yang pernah kami miliki (warisan kakek), direhab tahun 1937 dan telah dirubuhkan pada tahun 1997, karena kami tidak lagi mampu memeliharanya.&lt;/em&gt; Trims atas kunjungannya dan semoga tidak bosan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>terima kasih postingannya , jadi bertambah wawasan saya ttg budaya Karo </p>
<p>melihat atap rumah adat Karo di atas, jadi ingat rumah2 beratap hampir sama di sini yang biasanya hanya orang yang uangnya lebih yang bisa membangunnya karena mahal sekali dibandingka dgn rumah beratap genting </p>
<p>terima kasih kunjungannya ke blog saya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
<strong>Sis:</strong><br />
<em>Atapnya terbuat dari ijuk pohon aren, dengan sebelumnya dibuat gelagar dari belahan bambu, diikat pakai rotan.  Rumah adat ini sama sekali tidak memakai paku, dinding papannya terikat dengan panel dan penguatnya adalah jalinan temali ijuk.  Pengecatannya dilakukan dengan menggunakan tanah liat dan warna daun-daun atau tumbuhan hutan. Rumah yang pernah kami miliki (warisan kakek), direhab tahun 1937 dan telah dirubuhkan pada tahun 1997, karena kami tidak lagi mampu memeliharanya.</em> Trims atas kunjungannya dan semoga tidak bosan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: yulism</title>
		<link>http://sonyssk.wordpress.com/2008/10/08/pawang-ternalem-bagian-keenam/#comment-55</link>
		<dc:creator>yulism</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 15:16:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sonyssk.wordpress.com/?p=148#comment-55</guid>
		<description>Ternyata kebudayaan Karo juga ada hal-hal semacam itu.  Di Jawa juga ada cara mencari hari baik untuk berbagai kegiatan yang mirip seperti penanggalan Karo itu.  Dan saya salut karena Bang Sony masih mengetahuinya.  Di Jawa terutama di desa saya sudah jarang sekali orang yang bisa mencari hari baik.  Salut Bang Sony, semoga tidak lelah dan bosan untuk senantiasa melestarikan kebudayaan Karo. thanks
&lt;strong&gt;Sis:&lt;/strong&gt;
&lt;em&gt;Senarnya ya mbak Dewi, semua hari baik.  Hanya saja pengalaman orang-orang terdahulu secara empiris dapat juga dilogikakan contohnya Hari Mate Bulan disebut cocok turun ke laut, karena malam pasti gelap.  Jika malam terang bulan, ikan tidak mudah didapat.
Tentang mencintai kebudayaan, saya membaca bahwa  bangsa ini dulu berjaya pada zaman Sriwijaya dengan peradaban Buddha dan Majapahit yang berperadaban Hindu juga karena  kematangan budayanya. Dan sebenarnya itulah yang menjadi akar budaya lokal yang masih dipakai  dipedusunan dan pelosok tanah air kita secara  turun temurun tanpa kita sadari dasar keberadaannya didalam kehidupan kita. &lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata kebudayaan Karo juga ada hal-hal semacam itu.  Di Jawa juga ada cara mencari hari baik untuk berbagai kegiatan yang mirip seperti penanggalan Karo itu.  Dan saya salut karena Bang Sony masih mengetahuinya.  Di Jawa terutama di desa saya sudah jarang sekali orang yang bisa mencari hari baik.  Salut Bang Sony, semoga tidak lelah dan bosan untuk senantiasa melestarikan kebudayaan Karo. thanks<br />
<strong>Sis:</strong><br />
<em>Senarnya ya mbak Dewi, semua hari baik.  Hanya saja pengalaman orang-orang terdahulu secara empiris dapat juga dilogikakan contohnya Hari Mate Bulan disebut cocok turun ke laut, karena malam pasti gelap.  Jika malam terang bulan, ikan tidak mudah didapat.<br />
Tentang mencintai kebudayaan, saya membaca bahwa  bangsa ini dulu berjaya pada zaman Sriwijaya dengan peradaban Buddha dan Majapahit yang berperadaban Hindu juga karena  kematangan budayanya. Dan sebenarnya itulah yang menjadi akar budaya lokal yang masih dipakai  dipedusunan dan pelosok tanah air kita secara  turun temurun tanpa kita sadari dasar keberadaannya didalam kehidupan kita. </em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
