LAGU RINDU PUTRI BRU PATIMAR
Sudah empat bulan Pawang bekerja keras membuka hutan. Nampaknya lahan yang akan dirancangnya sebagai kebun sudah cukup. Lima puluh rante sebagai kebun kelapa, lima puluh rante kebun durian dicampur rambutan dan duku, sepuluh rante untuk pertanian huma untuk ditanami padi, ubi-ubian dan pisang. Lalu sebagian rawa kira-kira sepuluh rante untuk bertanam nipah dan akan dibuatkan kolam ikan atau tambak. Masa pembakaran masih ada dua bulan lagi, sehingga , Pawang Ternalem berpamitan kepada Pengulu Jenggi Kumawar untuk pulang ke Srenggani. Karena sesuai janjinya dengan Datuk Rubia Gande, dia akan menjalani ritual Ngulak dan Upacara Ngombak. Karena bulan sudah naik sesuai tanggal yang telah dijanjikan. Malam itu, Pawang juga berpamitan kepada Putri Bru Patimar. Pawang meninggalkan bulang-bulang (ikat kepala) sebagai tanda perikatannya, dan Bru Patimar juga menyerahkan selendang sebagai tanda pengingat, selama masa perpisahan. Tidak banyak yang dikatakan Pawang kecuali menjelaskan bahwa penundaan ini semata-mata demi kebaikan masa depan mereka. Berat rasa hati Bru Patimar untuk melepaskan sang kekasih, namun bibirnya serasa kelu, kecuali butir air mata yang jatuh berderai dipipinya. Pawang menghilang ditengah kegelapan, mata Bru Patimar menerawang langit penuh bintang. Bulan sabit tipis sekali, terlihat mengintip diujung atap beranda. Ada genderang yang bertalu-talu didalam dadanya, tapi juga ada jerit yang sangat dalam dilembah hati seorang wanita yang tengah dilanda cinta.
Diambilnya pandan anyaman, lalu dia duduk diberanda sambil menganyam tikar putih. Enam bulan terakhir ini dia sungguh sungguh telah berubah. Dia belajar memasak, dia belajar bertenun, dan juga belajar menganyam sumpit dan tikar. Dan yang mengubah segalanya adalah cinta. Jemarinya yang lentik mulai mengait dan menepis pandan, sambil bersenandung.
Bagi si lit bagi si lahang
Sora erlebuh man bangku
Kepe warina langa terang
Sanga tertunduh kal aku
Ije minter medak mata ngku
Iluh pe mambur bas ayongku
Kupernehen ku kawes kemuhun
Ise pe la lit kuidah
Ije kuinget arih-arihta sindube pe lolo
Nambah nambahi ate megogo
De uga denga kal kubahan bangku turang
Megati jumpa ningen lanai bo banci sayang kusayangi
Enda kuinget kal kam si tiap berngi jadi kal ateku
Nambah nambahi ate mesui
Terjemahan bebas
Antara ada dengan tiada
Sayup sayup suara yang memanggilku
Ternyata hari masih malam
Saat tertidur ragaku
Lalu ketika aku terjaga
Terasa air mata berlinang di pipiku
Kupalingkan wajah ke kiri dan kekanan
Tiada ada siapa pun jua
Menyentuh ingatanku tentang cinta kita yang terbengkalai
Menambah luka dalam hatiku
Duhai apa lagikah yang dapat kulakukan
Seabab untuk bersuapun semakin sulit
Walau ingatanku hanya dikau sepanjang malam
Manambah penderitaanku, semakin dalam
Malam semakin larut dan binatang-binatang malam dihutan semakin merdu meneriakkan lagu-lagunya. Ngilu perasaan Bru Patimar mengenang kisah kasihnya. Kekasih pujaan telah berangkat untuk meretas jalan pertemuan sejati. Berapa lama lagikah dia harus menunggu Pawang pulang. Dan jikalaulah perjuangan mengusir segala halangan itu tidak berhasil….., ngeri rasanya memikirkan hal-hal yang tidak menguntungkan itu. “Ya Tuhan, berikan perlindunganmu kepada Kakanda Pawang Ternalem, agar semua rintangan itu dapat dia singkirkan, segeralah Dikau kembalikan dia kepadaku…..” begitulah bisik Bru Patimar dalam doa tengah malamnya. Digulungnya tikar yang telah separuh jadi, dia beranjak ke rumah untuk meneruskan lamunanya bersama bantal di Pulau Kapuk.
Sementara itu, perjalanan Pawang Ternalem menuju Srenggani sudah hampir sampai. Suara kokok ayam hutan menandakan subuh hampir tiba. Langit di Timur merah membara. Pawang dapat menatap Selat Malaka dari kejauhan. Laut itu terasa teduh dan sangat luas. Seteduh dan seluas hati manusia yang penuh keyakinan.
Srenggani masih seperti dulu. Dengusan air terjun yang tidak menghiraukan perjalanan waktu. Ranting-ranting kering berderak patah terbanting ke tanah. Daun-daun berguguran menumpuk lapis demi lapis dipermukaan tanah, lembut terpijak kaki Pawang. Suara burung Jungkararip diatas pohon yang tinggi, menyambut pagi hari ini. Hari-hari penuh dengan tugas-tugas baru.
Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa, bisa merubah hal yang mustahil menjadi nyata. Istri memang demikian adanya, ketika sang kekasih hati pergi berjuang untuk keluarga tak henti-hentinya untuk memanjatkan do’a keselamatan bagi kekasih hatinya.
Wah sudah bagian ketujuh ya Bang, terlambat deh. Baca bagian satu sampe enamnya dulu ah. Thanks
Sis:
Aku senang, kalau mbak Dewi bersedia membaca dari bagian pertama sampai keenam. Kutunggu banget komentarnya. Salam Musim Dingin dari negeri Panas.
Oleh: yulism on Oktober 24, 2008
at 12:00 am
Wah, Bru Patimar sudah jadi gadis baik ya sekarang, bukan lagi gadis manja dan sombong seperti dulu. Semoga saja Pawang cepat pulang dan bisa menjalani hidup bersama kekasihnya.
Tujuan Pawang ke Srenggani untuk apa?
Sis:
Ke Srenggani menjumpai gurunya Datuk Rubia Gande, agar bersama-sama ke Kuta Lau Simbelin menjumpai kakek dan kaum kerabatnya. Satu lagi kewajibannya adalah memohon ijin kepada pamannya (saudara laki-laki dari ibundanya) untuk melangsungkan perkawinannya dengan Bru Patimar. Sebelumnya harus juga dilakukan ritual NGULAK (buang sial) karena hari kelahiran mereka berdua terhitung tidak berjodoh, jadi harus ada ritual khusus, sekali gus menyusun rencana pelaksanaan tahapan perkawinannya. Tahapan itu antara lain: 1. ngembah belo selambar, 2. nganting manuk, 3. Maba nangkih, 4. Kerja erdemu bayu. Nampaknya untuk mengesahkan perkawinan itu, masih panjang perjalanan.
Oleh: tutinonka on Oktober 29, 2008
at 12:14 am