BERBAGI RASA DAN SUKA CITA
Ada kebahagiaan yang mendalam yang kurasakan ketika berbaur dalam kehidupan nyata ditengah tengah masyarakat pedesaan. Beberapa program pencerahan dan penguatan kepada masyarakat didalam meningkatkan mutu kehidupan mereka, serta menata hubungan interaksi dan keterkaitan yang serasi, sehingga keyakinan akan masa depan yang cerah dapat diperkokoh untuk menumbuhkan gairah dan semangat yang lebih tinggi lagi untuk berproduksi.
Kemudian…..
Ada satu kejadian yang berkesan bagiku hari ini.
Tadi siang aku bersama istri menghadiri sebuah Undangan Resepsi Pernikahan di pinggiran kota Binjai, yakni Kelurahan Tanah Seribu. Pasangan pengantin baru ini adalah anggota Grup Tari Sanggar Melati Suci, yang konon ketika Bapak SBY datang berkunjung ke Sumatera Utara beberapa bulan lalu, menjadi Penari Resmi Penyambutan Bapak Presiden di Parapat. Maka tidaklah heran kalau resepsi ini dipenuhi dengan dunia tari-tarian.
Salah satu tari yang ditampilkan (yang menurut protokol khusus dipersembahkan kepadaku, orang Karo yang hadir dalam Pesta Orang
Melayu) ) Tari Kreasi versi Etnis Karo dengan judul Ula Cidadap. Konon tari ini beberapa waktu lampau mereka tampilkan di Bali, bahkan menjadi juara pada Festival tari di Yogyakarta.
Ketika tarian itu ditampilkan, aku protes, karena pakaian (kostum) yang mereka kenakan bukan busana tradisi Karo. Maka buru buru, sang Pengelola Sanggar menyuruh stafnya menjemput kostum (kain) ke Sanggar. Tapi rupanya, kain yang dibawa, kurang satu. Mestinya penari wanita memakai kain GATIP berwarna hitam. Tapi karena yang ada hanya dua, maka satu orang memakai BEKA BULUH yang warna merah yang seharusnya menjadi kain yang dipakai penari laki-laki.
Tapi upaya mereka untuk menyenangkan hati saya, pantas juga dihargai, dan kukatakan biar keliru satu nggak apa-apa. Apalagi dari keenam penari itu satupun tidak ada yang berasal dari Etnis Karo, semua mereka adalah Etnis Melayu. Dan aku sangat bangga dengan keterampilan mereka.
Sungguh penampilan mereka, kendatipun diatas sebuah panggung kecil di pinggiran kota (dengan ladang ubi disekitarnya) , sangat mengesankan.





Betapa senangnya bisa mendapatkan persembahan khusus sebuah tari dan berasal dari daerah tercinta pula…
Coba yang dari Karo nggak tahu adat-istiadatnya pasti nggak protes soal kain dan pakaian. Sayangnya sang putra dari Karo ini benar-benar memahami adat dan budaya Karo jadi kesalahan kainpun bisa terdeteksi..
Photo pengantin baru dan pengantin lamanya, sama-sama kelihatan sebagai pasangan serasi Bang. Sukses selalu dan thanks
Sis:
Critanya……
Waktu kubisikkan: Mana kostumnya yang bener??? Komentar Penata Tari (Freidy Idris yang nama ngetopnya sebagai seniman adalah Bung Andy), oh iya ya… buaya mau kita kadalin, mana mempan….. Cepet ambil kostum ke sanggaaaaarrr, jangan sampai kita malu…… Cepaaaat.!!!
Aku hanya senyum-senyum saja.
Anyway…..Gimana khabar terakhir Mr Barak Obama mbak Dewi ??????? Dan gimana khabar acara musim dinginnya ? Makasih udah berkunjung.
Oleh: yulism on November 10, 2008
at 7:20 am
Bang, foto yang paling atas itu lagi ngapain? Kok ceritanya kurang lengkap. Abang ngasih program apa buat masyarakat pedesaan setempat?
Nah, kalau soal tari adat Karo, aku nggak ngerti Bang. Tarian Batak yang aku tahu cuma Si Gale-Gale (eh, bener nggak sih?).
Kapan-kapan aku pengin ke Medan Bang, lihat budaya Batak secara langsung. Pengin ke Samosir, Danau Toba.
Ohya, cerita Bang Sis tentang kain para penari itu membuat aku ingat, aku suka mengoleksi kain-kain tradisional dari berbagai daerah. Ada songket (Riau, Palembang, Padang), tenun-tenun dari Ambon, Toraja, Makassar, NTT, NTB, Bali, batik Madura, Pekalongan, Cirebon, Jawa (sudah pasti). Ulos yang aku belum punya. Ntar deh, kalau ada langkah ke Medan, aku mau beli kain-kain tradisional Batak.
Kalau aku ke Medan, bisa nggak Bang Sis kasih rekomendasi rental mobil dan driver yang bisa dipercaya?
Sis:
Program membangunkan asset tidur.(Satu saat nanti kita ulas panjang lebar).
Datanglah sebelum Danau Toba kering. Masalah driver, bila perlu aku aja he..he..he (honornya harus full + pajak penghasilan golongan IV). Ulos adalah istilah Batak Toba, kalau Karo menyebutnya Uis atau Sabe. Di Sumut kain ini dikaitkan dengan sub etnis, seperti Toba, Angkola, Mandailing, Pakpak, Simalungun, Karo. Masing-masing juga memiliki jenis-jenis tersendiri, totalnya bisa ratusan atau barangkali ribuan macam. Orang Karo saja memiliki jenis : Julu, Teba, Gatib, Beka buluh, Uis Nipes, Uis Kapal, Arinteneng, dst.
Oleh: tutinonka on November 11, 2008
at 9:35 pm
Lihat foto Bang Sis bersama pengantin, kelihatan bedanya pengantin baru dan pengantin lama. Pengantin baru berdiri berhadapan dan berpegangan tangan, pengantin lama berdiri sendiri-sendiri dan tangan nggak bersentuhan … qiqiqiqi
Sis:
Heeeee nggak tahu aja. Foto kami waktu pengantin baru dulu…. jauuuuuuuuhhhh lebih mesra dari mereka itu. Kalau sekarang namanya Ja-im aja.
Oleh: tutinonka on November 11, 2008
at 9:40 pm
pak sony…
Kain kain songket si penari bagus bagus ya…suatu saat kalau ada kesempatan jalan jalan kesana…mau juga lihat lihat kain songket…
Binjai ??,,,yang saya ingat cuma ada rambutan enak dari Binjai…demikian ..betul ?
Sis:
Di Medan dan kota sekitarnya, banyak Rumah Songket yang dapat kita kunjungi. Koleksinya juga bagus-bagus. Tentang rambutan, bergantung musim. Kalau lagi musim rambutan, sepanjang jalan orang jual rambutan. Herannya, harga di Medan lebih murah dari di Binjai (walau sama-sama Rambutan Binjai).
Oleh: dyahsuminar on November 12, 2008
at 8:01 pm
Hallo Mbak Dyah, kita sama-sama ke Medan yuuk … berburu songket yang kata Bang Sis ada ratusan atau ribuan jenis. Hwaduuh, gimana bawanya ya? Ah, itu mah gampang, dikirim aja. Yang susah kan : dari mana uang buat belinya ya (untuk saya lho, kalau untuk Mbak Dyah mah tinggal buka dompet atau gesek credit card … )
Tapi kalau drivernya Bang Sis, nggak sanggup bayarnya Bang
Golongan IV jee ….
Beneran nih Bang, serius, saya pengin ke Medan …
Sis:
Ulos dengan songket itu beda. Ulos adalah kain tenun, kalau songket ada tambangan benang-benang emasnya. Di Sumut itu pada umumnya dari kawasan Melayu ( pesisir Timur).
Tentang ke Medan, kalau Desember orang Medan Sibuk Natalan dimulai tgl 12 Desember, dan hotel-hotel agak padat karena Batak-batak perantau pada pulang kampung. Dan orang-orang kantoran di Medan pada sibuk tutup buku (akhir tahun). Tapi masing-masing kondisi punya daya tarik tersendiri juga sih.
Oleh: tutinonka on November 12, 2008
at 10:10 pm
melihat tari karo itu membuat saya stress sendiri
kalo menikah nanti khan wajib, dan dilihat berapa ratus pasang mata.
Saya tidak bisa nari sama sekali hikkssss hikssss
mungkin nanti kursus kilat dulu hehehhehe
Sis:
Calonmu orang mana Ndah ? Kalau orang Karo kan nggak sulit, minta diajarin aja. Misal kalau orang Manado, atau Ambon atau Papua malah jadi nggak akan sulit, kan kamu punya alasan, calon misua kamu nggak pandai nari. Kalau misalnya calon kamu bermarga Sembiring, bolehlah aku yang mengkursus kamu nanti. Kapan ya pesta kawinmu ?
Oleh: Indah Sitepu on November 14, 2008
at 9:30 am
ya tuh
pakaian melayu
tapi tari adat karo
tapi gak apa yang penting hiburannya
matap
salam kenal pak
Sis:
Kalau generasi muda Karo nggak care terhadap budayanya, maka satu saat nanti Orang Karo belajar Tari Karo sama orang Melayu.
Oleh: satya sembiring on November 14, 2008
at 11:17 am
wah padahal kalo ditambah videonya keren lho pak…saya tertarik dengan budaya kita yang bervariatif
Sis:
Mungkin lain peristiwa kita posting plus videonya. Trims ya udah mengunjungi kami.
Oleh: omiyan on November 14, 2008
at 2:49 pm
orang karo juga, merga Bangun
tapi sama begoknya sama aku, ga bisa landek juga.
Pestanya belum jelas kapan.
Tapi pastinya di Medan, doakan saja semua lancar
^_^
Sis:
Dari Kecamatan Payung juga tho !!!!!!! Ok. Selamatlah klo githu.
Masalah landek nggak usah dipikirin, nanti banyak Br Sitepu yang bisa ngawani kamu.
Easy Going, don’t worry…be happy.
Oleh: Indah Sitepu on November 14, 2008
at 8:02 pm
ayooo mbak Tutik…serius nih…kita ke Medan yuk…tenan lho..kapan mbak Tutik punya waktu ??/aku manut bu dosen aja..
Sis:
Mbak berdua, rembug dulu ya…. ntar kalau udah pasti, beri tahu kami di Medan via e-mail, dan sebaiknya plus nomor yang bisa dihubungi.
Oleh: dyahsuminar on November 16, 2008
at 5:25 pm
Wah…aku senang kalau ada orang mau menulis tentang kebudayaan sendiri yang sangat indah.
Saya usul…buat satu tulisan tentang budaya Karo,adat istiadanya,tariannya,adat pengantinya,keistimewaan kain songketnya,aku rasa pasti sangat menarik,karena banyak orang Indonesia tidak mengetahui keindahan yang ada dinegeri kita.
Coba,ngak bilang,saya kira-kira 2 pasangan itu sama-sama pengantin baru! sudah terbongkar rahasia…tapi hati kan selalu hati pengantin baru,ya kan?
Salam kenal buat ibunya!
Oleh: kweklina on Desember 11, 2008
at 8:20 am
saya datang lagi dengan sejuta senyuman

salam kenal
Sis:
Udah kuhitung, senyumnya kok kurang tiga ? Selamat kenal kembali ya mas teguh.
Oleh: tukyman on Desember 17, 2008
at 4:45 pm
wah keren banget rian! palagi tariannya and org-orgnya kreatif semua and oke banget
Sis:
Oo Gitu ya. Terima kasih ya.
Oleh: muhammad isa on Februari 10, 2009
at 5:54 pm
qu sangat bangga sama abang cinta akan kebudayaan sendiri,aq juga lg belajar ne…tadinya cuma iseng mw bwt skripsi tentang kain karo kebetulan aq jurusan fashion desain,eh malah keterusan mw pengen cri tw tentang uisnya saja tapi sekarang pengen belajar tentang tata cara adat n semua tentang budaya karo sampe aq diledekin sama temen kamu mw jadi ketua adat ya…..doain ya bang semoga skripsiqu berjalan dengan lancar…
Sis:
Usahamu patut diacungi jempol. Kalau kamu dukungan moril, aku dukung seratus persen. Btw, URL mu belum ada ya? Ngeblog aja dulu biar tambah gaul.
Oleh: florentina br ginting on Februari 11, 2009
at 10:19 am
ga ngerti cara bwtnya bang…eh bang mw crita dikit ne..td aq dah wawancara sama ketua adat n perias pengantin karo,mereka sangat mendukungku…cuma dukungan moril aja bang…materinya mana hehehe..tq
Sis:
Kesuksesan membutuhkan Perjuangan dan Doa. Keep spirit ya. Maju terus.
Oleh: florentina br ginting on Februari 18, 2009
at 6:49 pm
bang mana lagi foto-foto yang lain dari dulu gini melulu, aku juga pernah belajar nari di sanggar kak predi…kak predi galak juga yaa…kalau marah kumisnya naik semua…kalau bisa diperbanyak gambar tentang kebudayaan yang ada dibinjai……salam knal bang…horas….
Sis
Akhir akhir ini sibuk banget, jadi nggak sempat hunting obyek fotografi. Kalau sudah ada waktu luang, aku akan buatkan lagi postingan budaya yang baru.
Oleh: Muhammad Isan on Mei 7, 2009
at 4:48 pm