Home Alone
Semenjak aku ikut dengan ibu di desa, kami pindah dari rumah peninggalan nenek ke rumah kebun yang terletak diluar kampung. Dulu ibu nggak mau tinggal disitu karena sunyi. Tapi dengan adanya aku, maka ibu bilang sebaiknya kita tinggal di rumah kebun. Enak, karena halamannya luas, dan dibagian belakangnya ditanami buah dan sayuran.
Di rumah kebun, kami juga memelihara ayam. Ada dua ekor ayam jantan dewasa, dan sepuluh ekor ayam betina. Beberapa induk ayam itu sedang mempunyai anak. Anak ayam itu selalu mengikuti perintah induknya berkeliaran disekitar induk. Kadang-kadang induk ayam berkelahi dengan kucing atau ayam lain kalau ada yang mengganggu anaknya. Kadang kadang dia mengikuti ibu yang sedang menyiangi tanamannya. Dan biasanya ibu mengusirnya, karena kalau ayam ini mangkais kais di bagian tanaman sayuran pasti jadi berantakan semuanya. Maka bagian kebun sayuran selalu disekat dengan pagar bambu.
Cerita ini bermula ketika ibu mulai turun ke sawah, dan aku tidak diijinkan ikut ke sawah karena musim hujan. Hampir tiap sore turun hujan di desa kami, sehingga ibu berfikir hujan itu akan dapat merusak kesehatanku. Jadilah aku setiap pulang sekolah tinggal di rumah. Tugasku dirumah adalah memipil jagung dengan cara dipukul pukul pakai kayu, pada sebuah tempat perontok jagung yang terbuat dari bambu, sehingga semua bulir jagung terlepas dari tongkolnya.
Kalau ada yang tersisa masih lengket di tongkol maka dirontokkan dengan jari saja. Biasanya ketika aku bekerja merontokkan jagung, ayam ayam itu akan mendekat, dan setiap butir jagung yang mencelat keluar dari ruang perontok dan jatuh ke tanah, maka ayam ayam itu akan berebut menyambarnya. Yang lucu adalah induk ayam yang punya anak masih sangat kecil, eh diajaknya juga anaknya itu memakan jagung, mana mungkin paruh sekecil itu bisa menelan jagung. Ada juga goblog-goblognya ayam itu.

Jagung tua siap dipipil Foto Wikipedia
Yang kadang mengagetkan kalau anaknya terlalu dekat ke tempat pemukulan, lalu tertimpa tongkol jagung berciap-ciap kesakitan, lucunya induknya bisa juga marah sama kita. Maka kadang-kadang aku berkelahi juga sama ayam. Kugodain dengan mengepung anaknya dalam keranjang jagung. Induknya akan teriak-teriak mengelilingi lumbung jagung, dan saking gusarnya terbang ke atap. Nah kalau sudah begitu, baru dikeluarkan semua anaknya, maka dengan panik dia akan memanggil anaknya semu dan membawanya kebawah pohon kopi, dan melindunginya dengan sayapnya dan istirahat disana.
Lelah merontok jagung, aku menggelar tikar untuk menjemur jagung yang sudah dirontok. Mengapa harus dikeringkan, karena harga jagung kering jauh lebih mahal dari jagung basah. Dan menjualnya juga lebih mudah. Nah pada saat aku menggelar tikar ini, aku mengakkan serumpun pohon serai, dannnnnnnnnnnnnnnnn ternyata dibawah pohon serai itu terdapat enam butir telur ayam.
Aku melihat berkeliling, apakah ada yang lain juga bertelur di semak-semak? Periksa rumpun serai yang lain, tidak ada. Hanya rumpun yang satu itu dihuni oleh telur. Lalu hatiku bertanya, ayam betina yang mana ini yang nakal, bertelur kok di rumput. Kalau nanti ada musang atau burung hantu tahu, pastilah dimakannya telur telur ini fikirku. Lalu kuambillah keenam telur itu kuletakkan diatas onggokan jagung yang sudah dipipil.
Aku berfikir kemana diletakkan telur ini, kalau diletakkan di sangkaka yang lain, nanti induk yang bertelur disitu pasti kenal dan pasti memecahkannya.
Akhirnya, kurebuslah telur itu semuanya, dan setelah matang kumakan satu butir. Sisanya kukembalikan kebawah pohon serai itu, supaya tidak menjadi persoalan dengan ibu. Lalu aku menjemur jagung sampai sore. Selesai mengangkat jagung dan memasukkannya kedalam goni, disimpan di gudang depan. Pergi mandi ke sungai dengan teman. Sepulang mandi, rupanya ibu belum pulang dari sawah. Maka teringat dengan telur rebus, diambil satu lagi dan dimakan dengan nikmat. Lalu mengandangkan seluruh ayam. Selesai mengandangkan ayam, periksa seluruh pintu pagar di bagian belakang kebun, kemudian tutup jendela-jendela rumah. Nyalakan lampu petromak. Sambil masak nasi sore. Teringat telur rebus tadi, sambil menunggu nasi tanak, dimakan satu lagi, dan ternyata nggak cukup, maka ambil satu lagi. Jadilah empat butir sudah dimakan.
Ketika ibu sampai di rumah, diletakkannya bakulnya dan kulihat isinya adalah umbi talas ungu. Talas kesukaanku. Ada juga buah embacang. Memang disawah kami ada pelataran dengan pondok yang cukup besar, oleh mendiang kakek ditanami nenas, pohon nangka, pohon embacang dan jambu kelutuk. Ibu mengambil alih posisiku sebagai supir dapur, dan aku duduk didekatnya. Ibu biasanya duduk diatas dingklik, sedangkan aku bersila diatas tikar. Ibu menyelesaikan masak sayur dan mengarsik ikan hasil dia menangguk tadi siang di sawah. Aku mengambil buku pelajaran dan belajar didekat tungku. Selain terang, hangat didekat api. Maklum desa kami berada pada ketinggian 1400 m dari permukaan laut, dingin.
Ibu mempertanyakan seluruh kegiatanku hari ini. Aku jelaskan semua, tentang jagung . Tentang telur ayam yang setengah lusin belum kujelaskan. Tapi tiba-tiba perutku mual dan rasanya ada yang memulas didalam ususku. Melihat aku meringis, ibu jadi gugup dan mencoba memeriksa wajahku dan menanyakan kenapa dengan perutku? Aku jawab bahwa perusku rasa melilit lilit, rasa mual mau muntah, dan…. Hhhuuuuaaaaaakkkkkk muntahlah aku kedalam baskom tempat rendaman sayuran ibu. Mmmmhhhh bau telur menyengat diseluruh ruangan dapur. Dengan memuntahkan isinya itu perutku serasa lega. Ibu membuatkanku the manis. Lalu dia bertanya, dari mana aku ambil telur, dari sangkak ? Bukankah yang disangkak itu sudah mengerami?
Sekejab aku ragu menjawabnya, tapi ini harus dijawab sebelum ibu marah.
Maka kuceritakan tentang telur dibawah pohon serai itu dan telah merebus semuanya, bahkan empat butir sudah kumakan. Ibu menggeleng-gelengkan kepala sambil mengkusust-kudutkan rambutku. Dia bilang, semua seisi rumah ini milikku, tapi didalam pemanfaatannya harus ada peraturannya. Memakan telur sebanyak empat butir dalam tiga jam adalah diluar kelaziman, maka layaklah mendapat ganjaran sakit perut. Akupun lega setelah mengetahui ibu tidak marah dengan setengah lusin telur yang kurebus itu. Bahkan ibu bangga, karena aku dapat memutuskan apa yang harus kukerjakan di rumah tanpa beliau. Dan ketika ayah datang dari kota pada malam minggu, ibu menceritakan semuanya kepada ayah. Ayah hanya mengangguk menunjukkan pengertiannya. Ternyata ibu sangat menyayangiku.

Telur Ayam Foto Wikipedia

Ayam Jantan Bantam Foto Wikimedia

Sepasang Yang Mesra Foto: Wikipedia
waaaaaaaaa … pengen mudikkkkkkkk
Sis:
Mas Ahmad, kalau masih bisa mudik (masih ada sesuatu di kampung) ya syukurlah. Soalnya banyak temen yang cerita kalau mereka mau mudik juga udah nggak tahu kemana. Sawah ladang dan rumah nenek di kampung udah dijual dan udah dipindahkan ke Jakarta. Mau mudik kemana lagi?
Oleh: Hilal Achmad on Februari 7, 2009
at 9:22 pm
Waaaa…. jadi rindu kampung…
Salam kenal.
Sis:
Salam kenal kembali.
Pulang kampung sekarang sudah lain suasananya. Orang di kampung juga sudah bisa chatting dengan orang di New Yorl atawa di Paris jeee.
Oleh: sunardi on Februari 7, 2009
at 10:57 pm
Wah, ada kemajuan Bang, sudah mulai pakai banyak foto. Itu foto-foto bagus diambil dari Wikipedia semua? Cuma kok jagungnya item gitu Bang?
Seneng ya, ngebayangin hidup di desa seperti masa kecil Abang. Sekarang rumah itu masih ada nggak Bang? Oh ya, Ibu juga masih ada?
Sis:
Rumah itu masih ada, tapi udah mau runtuh, sedangkan kebun belakang dulu sekarang sudah dibuat keponakan kita menjadi kandang kerbau dan kambing, baunya bukan main, tapi dibutuhkan kotorannya buat pupuk jeruk.
Ibunda kita telah meninggal dunia Tahun 1997.
Oleh: tutinonka on Februari 8, 2009
at 11:31 pm
ke tigax..(weeh udah keduluan mas hilal pertamaxnyaa)
iihh seneng ya..tinggal di desa..Oom ceritanya ada lucunya..ada serunya..
ayamnya yg berdua ‘gemesin bgt.. bwat aku doong..satu ajaa..
met nostalgia ya Oom..
Sis:
Emma, kalau aku kasih ayam, kamu bisa pelihara khan? Kalau bisa, ntar aku pikir-pikir dulu (baru mau mikir nih).
Oleh: emma on Februari 8, 2009
at 11:35 pm
Wah masa kecilnya Pak Sony menyenangkan ya.. saya jd bisa membayangkan betapa Sony Kecil merupakan anak yg aktif, rajin, sedikit nakal, rasa ingin tahunya besar hehehe
duh jd inget masa kecil nih jadinya
Sis:
Kayaknya masa kecil Ida juga dapat dibayangkan, manis dan baik budi tuh.
Oleh: idawy on Februari 9, 2009
at 9:11 pm
Wah, baca ini terbayang film Chicken Run dan Home Alone…:)
Aku suka lihat anak ayam karena mereka imut dan lucu, waktu kecil dulu punya pengalaman dikejar-kejar induk ayam gara-gara gemes sama anaknya… hehehe
Sis:
Eh Tan, kayaknya setelah kamu besar (anak gadis) kamu dikejar-kejar sama pemilik ayam itu karena gemas dengan kamu.
Oleh: tanti on Februari 10, 2009
at 11:33 am
Menyenangkan sekali kehidupan di desa, jadi rindu suasana kampung yang aman tenteram
Sis:
Rindu suasana pedesaan masa lalu ya Mbak? Makanya kembalikan negeriku kepada pemiliknya, kembalikan desaku kepada orang-orangnya. Karena desaku udah diambil sama teman-teman Mbak Edratna yang orang-orang kota itu.
Oleh: edratna on Februari 10, 2009
at 4:16 pm
Mmm seneng banget ya kehidupan di desa itu…
Sis:
Kalau githu… aku ajak kamu ke Desa yoooook!!!!! Mau?????????
Oleh: Retie on Februari 10, 2009
at 10:36 pm
waaah…menyenangkan sekali…..
tidak semua dari kita punya pengalaman masa kecil yang menyenangkan….lha…piye,sejak kecil sudah hidup di lingkungan perumahan…nggak ada sawah.Tapi apapun masa kecil sangat menyenangkan….Coba masing masing kita cerita tentang masa kecil ya pak….pasti indah.
Sis:
Sekarang, giliran Mbak Dyah menceritakan masa kecilnya, kami tunggu dengan tak sabar niiiiih.
Oleh: dyahsuminar on Februari 11, 2009
at 6:33 am
jadi teringat dan rindu aku
kampung halamanku
di Tigalingga Kabupaten Dairi….
saat berada di ladang
menikmati semilirnya
angin memang terasa
menyenangkan dan menyejukkan hati
bujur silih
Sis:
Bujur juga sama silih. Kapan musim durian di Parongil boleh juga kita diundang kesana.
Oleh: mikekono on Februari 12, 2009
at 10:57 am
Ternyata telurnya gak jadi dimakan musang.. malah direbus sama Bang Sonny..
Whalaaaahhh
Sis:
Itulah aku dimasa kecil, nggak apapa khan?
Oleh: ernalilis on Februari 13, 2009
at 9:04 pm
Bang, kok belum nulis lagi? Sudah dua minggu lebih … ngapain aje?
Sis:
Ya, maaf, aku lupa pamitan. Aklu seminggu di Jakarta mengikuti Rapat kerja nasional. Jadi nggak berkunjung sama sekali karena acaranya padat.
Oleh: tutinonka on Februari 22, 2009
at 9:05 pm
halo bang sony…apa kabar?
baru sempat mampir, sudah banyak sekali tulisannya!hebat! Baca tulisan yang ini, jadi ingat ayam…dulu tetangga nadin ada yang memelihara ayam…kalau mau lewat rumah dia, deg – degan duluan, soalnya induk ayam suka mengejar yang lewat karena dikira mengganggu anaknya! pokoknya saya jadi was – was sama ayam! kalau mengejar cepat juga loh! kadang – kadang melompat juga! kalau sudah begitu, saya langsung lari tanpa menoleh lagi!he….
Sis:
Kalau sekarang…. kalau kita dikejar ama ayam kampus….kita jadi lari ngibrit juga, takut ama lagu oo..kamu ketuaan…
Makasih Nad, atas kunjungannya, walaupun jarang-jarang.
Oleh: nadin on Februari 23, 2009
at 12:54 pm
ke Jakarta yaa..?
Sis:
Iya bener. Tapi sorry ya, nggak sempat mampir ke Depok. Abis sibuk dikejar kejar kerjaan sih.
Oleh: egy on Maret 2, 2009
at 1:51 pm
Kampung yang cukup indah dan senantiasa dirindukan. Saya kaget koq ada jagung warnanya item ya….seumur-umur baru lihat yang warnanya item gitu bos.
Sis:
Pak De, khabarnya jagung item ini kalau digongseng, ditumbuk kemudian diseduh dengan air panas, didinginkan, kemudian air seduhannya disaring dan diminum. Bisa membuat suara menjadi jernih dan merdu. Boleh dicoba. Jagungnya dapat dibeli di Guadalajara-Mexico Amrik Tengah.
Oleh: pakde on Maret 2, 2009
at 5:26 pm
apa kabar pak ?//lama gak ada postingan baru ?/
Sis:
Udah ada tuh…mbak. Cerita tentang Dukun Palsu.
Oleh: dyahsuminar on Maret 5, 2009
at 5:42 pm
hehehehe….gambar jagungnya bagus deh…warna warni…
Sis:
Memang jagung warna warni menarik dan ada yang enak direbus, ada juga yang enak dibrondong. Suka brondong jagung?
Oleh: Ria on April 12, 2009
at 6:41 pm
wakaka… gambar ayam nya lucu
Sis:
Binatang ini membawa berkah bagi manusia
Oleh: syamsoe on April 29, 2009
at 2:34 pm
Wawawwawawawwa
Sis:
Hey….whats happen…………………..
Oleh: Dedi Suparman on Juni 9, 2009
at 12:01 pm