Oleh: Sony | Oktober 4, 2008

AIR DAN TANAH sumber kehidupan

Mari… selamatkan  AIR DAN  TANAH kita,

UNTUK SEBUAH  ARTI KELANGGENGAN HIDUP

Air.

Jika kita ditanya, darimana datangnya air, pasti bermacam-macam jawabannya.  Dan boleh jadi, jawaban itu semua benar.  Mengapa demikian, karena semua  yang ada di alam raya ini disinyalir mengandung air.  Mungkin ada beberapa yang tidak mengandung air, tapi sangat sedikit bendanya.   Kalau kita tanya orang kampung di pegunungan, maka mereka akan mengatakan sumber air adalah mata air atau pancuran di celah-celah batu gunung.  Kalau ditanya rakyat pedesaan dataran rendah, maka mereka akan menjawab bahwa sumber air adalah dari sumur atau air tanah.  Kalau menurut air minum kemasan, berasal dari mata air pegunungan.  Kalau ditanya Pawang Hujan, air berasal dari awan. 

Lingkar Perjalanan Air.

Siklus perjalanan air adalah ketika titik embun yang  berada pada langit mencapai titik jenuh, turun menjadi hujan.  Hujan jatuh dipermukaan bumi, (menurut lagu, jatuh di genteng, pohon dan ranting….basah semua), atau dihutan-hutan, atau di rawa-rawa…(hlah dimana sajalah pokoknya).  Selanjutnya sebahagian meresap kedalam tanah dengan proses yang disebut dengan istilah infiltrasi dan ketika tanah sudah mulai jenuh, air menggenang dipermukaan tanah dan mencari tempat yang lebih rendah. Nah, ketika mereka bergerak mencari daerah yang lebih rendah, terjadilah aliran air dipermukaan tanah yang disebut dengan istilah surface run off . Jika air hujan jatuh pada tanah yang miring, maka tetsan air ini tidak akan sempat menelusup kedalam rongga tanah,  dan langsung terpeleset menjadi aliran permukaan. Air yang mengalir dipermukaan tanah tersebut akan bertambah besar jumlahnya setelah bertemu dengan saudara-saudaranya yang lain, ngumpul menuju lembah, nyebur kedalam sungai. Jika jumlah air yang mengalir dipermukaan jauh lebih besar dibandingkan dengan yang meresap kedalam tanah, inilah yang akan menyebabkan banjir atau luapan aliran permukaan.

Lha, air yang ada didalam sungai itu sendiri, sebenarnya juga berasal dari air hujan yang meresap kedalam tanah, seterusnya menembus lapisan yang mampu menyimpan air yang pada umumnya merupakan lapisan pasir (mereka sebut namanya lapisan aquifer) dan pada tempat tertentu menumpahkan airnya kembali kepermukaan yang kita namakan sumber ataupun mata air. Yang satu ini, hujan tidak hujan, airnya terus mengalir kedalam sungai. Sungai dengan segala sifat-sifatnya, mengalirkan air jauuuuuuuuuuuuh sampai ke laut.  Air laut (biasanya asin) ketika mendapat energi panas matahari mengalami penguapan.  Proses penguapan ini disebut evaporasi. Air laut yang menguap ditiup angin menuju darat, mendaki lereng sampai ke puncak gunung, mengumpul jadi satu, berubah menjadi embun.  Maka turunlah hujan.  Kalau umpamanya uap air yang naik ke lapisan atmosfeer masih berada diatas lautan, kemudian mencapai titik jenuh, jatuh kembali ke laut sebagai hujan, dinyatakan siklus pendek.

Neraca Air  (Water Balance).

Menurut seorang ahli hidrologi yang dikenal dengan nama Thornwaite,  untuk menjaga kelanggengan kehidupan, harus ada keseimbangan air didalam siklus perjalanannya mulai dari titik hujan di dalam kawasan tangkapan hujan sampai kepada  lepasnya air ke laut pada muara sungai. Seorang pakar lain  bernama Pennman merumuskan keseimbangan neraca air yang ideal adalah ketika hujan jatuh ke bumi, sepertiganya langsung mengalir sebagai aliran permukaan seterusnya menjadi aliran sungai, sedangkan dua pertiganya meresap kedalam tanah.  Yang dua pertiga tersebut sepertiganya dilepas kedalam sungai melalui mata air (spring), melalui rembesan (seepage) dan perkolasi kedalam tubuh sungai untuk selanjutnya menjadi aliran sungai dalam jangka waktu sebulan. Demikian timpa menimpa setiap kali turun hujan sehingga terbagi air menjadi tiga bagian yakni sepertiga langsung mengalir dipermukaan, sepertiga mengalir melalui proses air tanah dan sepertiganya masih tertinggal didalam tanah atau disebut juga timbunan air tanah (ground water storage).  Memang besarnya kapasitas penyerapan atas air hujan bergantung sifat tanah baik kondisi penutupan lahan, kemiringan lereng, dan tingkat kekasaran tekstur tanah.  Demikian juga dengan kemampuan lapisan batuan menyimpan air bergantung tebalnya dan jenis aquifer sebagai media penyimpanannya.

Pengawetan Tanah (Soil Conservation)

Ketika hujan jatuh ke permukaan tanah, maka dia akan memberikan energi kepada tanah sehingga tanah serasa terhempas oleh butiran air.
Selanjutnya pergerakan air juga akan mengikis dan mengangkut tanah berbondong-bondong (emangnya pengungsi….) kedalam sungai. Proses pengikisan ini mereka sebut istilahnya erosi. (Siapa tahu nanti di koran-koran ada istilah erosi, maka pengiksan tanah adalah salah satu pengertiannya, disamping pengertiam lain).  Akibat banyaknya butiran tanah yang dimasukkan kedalam sungai, maka air sungai menjadi keruh.  Para ahli menghitung tingkat kadar tanah didalam air sungai dengan istilah suspended load atau muatan suspensi.  Tapi aku lebih suka menggunakan kata-kata kadar lumpur saja.   Sungai-sungai yang keruh mencirikan penggunaan tanah pada daerah aliran sungainya tidak dilakukan dengan baik. Untuk menjaga agar lapisan tanah tidak menjadi bulan-bulanan air hujan, perlu dilakukan penjagaan, terutama pada daerah-daerah yang berlereng terjal.  Cara-caranya menurut orang pintar (bukan dukun lho….) adalah :

  1. Penggunaan tanah disesuaikan dengan sifat fisik dari  tanah tersebut terutama kemiringan lereng dan tingkat kekasaran butir tanah.  Untuk tanah yang sangat rentan terhadap erosi, sebaiknya dihutankan saja. Karena telah terbukti kawasan hutan tidak mengalami erosi.
  2. Membuat Terasering atau Sengkedan.

Akibat keterbatasan lahan yang tersedia bagi usaha tani, maka para petani terpaksa juga menggarap tanah berlereng.  Nah untuk itu, agar tanah terhindar dari erosi, ada baiknya dilakukan pengelolaan dengan sengkedan atau teras-teras. Kalau kepingin tahu cara membuat sengkedan yang baik, boleh nyontek cara saya. (Aku juga nyontek dari Pak I Made Sandy (Alm).

Terkait dengan penyesuaian penggunaan dimaksud, dapat digolongkan sebagai berikut:

  1. Wilayah yang penggunaan tanahnya sudah baik, dan tingkat kerentanan terhadap erosi memang rendah. Terutama areal  perkampungan dan persawahan.
  2. Wilayah yang penggunaan tanahnya memerlukan pembuatan sengkedan.  Biasanya tanah pertanian yang sudah settle, tapi berlereng masih membutuhkan perbaikan fisik, untuk menjaga  agar lapisan tanah terutama horizon A tanah tidak terkikis. Pada umumnya pertanian yang sifatnya demikian adalah  kebun campuran, dengan tingkat kemiringan tanah 20 sampai 40 %
  3. Wilayah yang sebaiknya ditanami dengan tanaman keras.   Secara alamiah, daerah pada ketinggian diatas 500 dpal, merupakan daerah pertanian tanaman keras seperti kopi, cengkeh, durian dan akhir-akhir ini juga kelapa sawit.  Jika daerah ini diolah dengan tanaman muda, maka akan sangat rentan terhadap erosi tanah.
  4. Wilayah yang harus dibuat sengkedan dan harus ditanami tanaman keras. Daerah berlereng, tekstur tanah kasar dan curah hujan tinggi, seyogyanya diolah dengan pola terasering dan tanaman yang akarnya mampu menahan gerakan tanah.
    Wilaha Tanah Usaha Terbatas II Sebaiknya ditanami Tanaman Keras

    Wilaha Tanah Usaha Terbatas II Sebaiknya ditanami Tanaman Keras

     

     

     

Untumerumuskan kebijaksanaan pengelolaan atau penatagunaan tanah, oleh Prof. Dr. I Made Sandy dari Jurusan Geografi FMIPA Universitas Indonesia dikelompokkan dengan istilah Wilayah Tanah Usaha sebagai berikut:

1.  Wilayah Tanah Usaha Terbatas I, yakni daerah pantai dengan ketinggian kurang dari 2 m dpal.  Daerah ini wajib dilindungi sebagai kawasan perlindungan pantai.  Disamping menjaga habitat biota laut dengan hutan bakaunya, perlindungan pantai juga mencegah intrusi air laut atau merembesnya air asin kedalam air tanah daerah pantai.

2.    Wilayah Tanah Usaha Utama Ia,  areal dengan ketinggian antara 2 sampai 100 m dpal.  Dengan perincian ketinggian 2 sampai 7 m sebaiknya untuk tambak, kemudian garis bendungan yang ideal adalah pada ketinggian 25 m dari permukaan laut.  Penggunaan utama wilayah ini adalah untuk persawahan irigasi teknis untuk ditargetkan panen minimal dua kali setahun.

3.  Wilayah Tanah Usaha Utama Ib, dengan ketinggian antara 100 m sampai 500 m dpal.  Jika masih tersedia air, masih cocok untuk persawahan.  Kemudian sesuai sifat fisiografinya, baik untuk tanaman keras dan buah-buahan, tanaman perkebunan.

4.   Wilayah Tanah Usaha II, dengan ketinggian 500m sampai 1000 m dpal.  Daerahnya bergelombang, berbukit-bukit.  Apabila terdapat tanah yang datar cocok untuk tanaman hortikultura dan sayur-sayuran.  Daerah berbukit dan bergelombang  sebaiknya ditanami dengan tanaman keras yang cocok dengan udara sejuk seperti cengkeh, kopi, kemiri, jeruk, dan sebagainya.

5.  Wilayah Tanah Usaha Terbatas II dengan ketinggian lebih dari 1000 m dpal.  Daerah ini sebaiknya dijadikan kawasan lindung atau dihutankan.  Jika ada dataran yang luas sangat sesuai dengan tanaman bunga bungaan, sayur-sayuran dan buah-buahan iklim dingin.

Penutup

Kalau dikaji-kaji, kerusakan tanah itu semua karena kehadiran air. Terlalu banyak air mengakibatkan erosi, tanah longsor (landslide) dan banjir.  Sebaliknya jika air tidak ada, maka akan terjadi kekeringan dan tumbuhan akan mati, bahkan manusia juga bisa saja kehilangan air baku untuk konsumsi.   Kesimpulannya, menjaga keseimbangan air itu sangat penting, dan jalan satu-satunya adalah mengelola sumberdaya tersebut secara arif dan bijaksana.

Mari, selamatkan hutan, tanah dan air kita.

 

 


Responses

  1. Wah, baca postingan Bang Sis kali ini kayak kembali ke bangku kuliah deh …. hehehe.
    Sekarang ini banyak disosialisasikan pembangunan sumur resapan, khususnya di kota-kota besar dan perumahan padat, untuk menampung air hujan yang jatuh di atas atap. Sumur resapan ini bisa dibuat di bawah lantai rumah, jadi tidak ada alasan ‘tidak ada lahan’. Prinsipnya, air hujan tidak dibuang ke selokan (yang terus mengalir ke sungai dan ke laut), tapi dialirkan ke sumur-sumur buangan sehingga mengisi air di dalam tanah.
    Rumah saya yang di Jl. Kaliurang pada musim hujan permukaan airnya sangat tinggi, hanya sekitar 2 meter dari muka tanah. Tapi musim kemarau kemarin sempat kering, sehingga terpaksa bikin sumur suntik baru.
    Sis:
    Itu disebut air tanah dangkal, fluktuasinya tinggi karena sumber resapannya juga hanya berjarak puluhan sampai ratusan meter saja. Kalau mau fluktuasi air sumurnya kecil, sumurnya harus mengambil air tanah dalam. Cirinya, apabila sudah menembus lapisan batuan kedap air (impermeable rock layer). Kalau di Kenthungan kedalaman sekitar 60 m sudah dapat air tanah dalam. Dia tidak akan terpengaruh musim kemarau secara menyolok, karena timbunan airnya berasal dari Kaliurang sana. OK, selamat menggali lagi.

  2. setuju silih……
    penebangan hutan secara semena mena
    di Tanah Karo, Dairi, Taput, Tapsel, dan seluruh
    wilayah di negeri ini harus sgr dihentikan
    kl tidak…..bencana akan segera
    datang menimpa anak cucu kita
    Sis:
    Ada pepatah melayu mengatakan : ibarat menarik rambut didalam tepung, rambut terlepas, tepung tidak rusak. Inilah yang harus dibijaksanai, menghentikan pengrusakan hutan, tapi mereka-mereka tidak kehilangan mata pencaharian.

  3. setujuu pak Sony…Bumi kita rusak karena ulah serakah manusia.
    Setelah itu terjadi bencana alam yang menimpa kita,anatara lain karena alam telah dicederai.
    Mari kita masing masing…lakukan langkah kecil untuk menyelamatkan bumi kita,demi anak cucu…
    Sis:
    Keseimbangan itu memang sangat penting. Kalau saja manusia mengambil sumber alam sesuai kebutuhan saja (bukan karena ada niat mengambil keuntungan besar-besaran), sumber alam itu pada dasarnya dapat dipulihkan karena dia memiliki daya recovery juga. Tapi sayang kadang-kadang produk hukum kita yang semula bertujuan melindungi sumberdaya alam, malah sebaliknya mengundang pengrusakan. Ingat HPH bermasalah. Begitu juga dengan UU Sumberdaya Air, dengan pasal sepuluhnya yang mengijinkan privatisasi sumber air, menjadikan ancaman monopoli penguasaan sumber air dikemudian hari. Makanya para legislatif kita kedepan juga hendaknya janganlah yang pandai politik saja, tapi juga orang-orang yang profesional dibidang-bidang tertentu, termasuk ilmu hukum. Maksudnya partaipun selektif memasang calon, jangan asal terkenal.

  4. Baru ngeh saya, ternyata menanam tanaman itu tidak asal saja, juga harus disesuaikan dengan ketinggian. Lha kalau di Missisipi yang selalu banjir karena aliran sungai itu, kenapa bisa terjadi ya. Katanya karena banyaknya Levee yang dibangun disekitar pemukiman. Pusing saya bukannya bangunan levee itu bisa menghalangi air untuk tidak bisa naik kedaratan. thanks
    Sis:
    Sebenarnya ya Mbak Dewi, teori ini tidak berlaku untuk USA yang merupakan kawasan dengan tipe 4 musim. Teori ini hanya berlaku untuk daerah tropis atau disekiar khatulistiwa saja. Karena basis teori ini adalah lereng dan ketinggian. Kaitan ketinggian dengan pola pertanian adalah suhu dan iklim. Menurut teori, untuk daerah tropis, setiap kenaikan ketinggian tempat sebesar 100 m, maka suhunya turun setengah derajat selsius. Nah temperatur udara di pantai rata-rata 26 – 30 derajat, maka pada ketinggian seribu meter suhunya menjadi 21 – 25 derajat.
    Untuk daerah dengan ketinggian diatas seribu, sudah tidak cocok lagi untuk bertanam kelapa, rambutan, kelapa sawit, dll. Sedangkan untuk daerah 4 musim dibelahan bumi Utara seperti USA dan Eropah, ketika Bulan Desember matahari berada pada garis edar balik Selatan menjadi musim dingin dan ketika berada pada Garis Edar Balik Utara bulan Juni menjadi musim panas. Dia tidak terpengaruh secara langsung atas ketinggian tempat. Walaupun sudah pasti di gunung jauh lebih dingin dibanding pantai. Sekali lagi WTU ini tidak berlaku untuk Colorado. Trims ya.

  5. apa yang membedakan tipe luapan pasang surut

  6. YANG MEMBEDAKAN TIPE LUAPAN PASANG SURUT
    Sis:
    Kayaknya dapat dicari Webnya Menteri Negara Kelautan tu….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: