Oleh: Sony | Oktober 16, 2008

Ritual Adat

MEMBERI PENGHORMATAN KEPADA ORANG TUA

 

Dalam konteks budaya orang Karo ada nasihat yang mengatakan hormatilah ibu bapa (orang tuamu), agar usiamu dipanjangkan di dunia ini,  Maka, jika kita berjalan-jalan di daerah yang mayoritas penduduknya Suku Karo yakni di daerah Tanah Karo, kemudian daerah Langkat Hulu, daerah Deli Hulu, daerah Tanah Pinem Dairi dan Urung  Silau Simalungun Atas,  dan kita berjumpa dengan orang yang sudah uzur usianya, pastilah dikatakan dia termasuk orang yang  menghormati orang tuanya, sehingga umurnya dipanjangkan oleh Yang Maha Kuasa.

Usianya Menjelang 100 Tahun

Usianya Menjelang 100 Tahun

Pada hari Senin 6 Oktober 2008 yang lalu, aku mengikuti Upacara penghormatan kepada Orang Tua yang dilakukan oleh Keluarga Karo-karo Barus Kesain Rumah Jahe, desa Talimbaru Kecamatan Barusjahe Kabupaten Karo.  Keterlibatanku dalam acara itu adalah karena kedudukanku sebagai Anak Beru Dareh.  Cucu pertama dari orang yang mendirikan Desa Talimbaru (terdiri dari dua Kampung),   memiliki anak laki-laki tiga orang. Yang pertama memiliki tiga anak perempuan tetapi tidak ada anak laki-laki. Anak yang kedua mempunyai satu orang anak perempuan tetapi tidak mempunyai anak  laki-laki. Yang bungsu mempunyai tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan.  Anak perempuan yang terakhir inilah ibundaku, dan aku juga satu-satunya anak laki-laki dari bundaku.  Dari ketujuh cucu pendiri desa itu, tinggal satu orang yang masih hidup, yakni abanganda dari ibundaku, yang selalu kupanggil Mamatengah. Isterinya kupanggil Mamitengah. Usianya diperkirakan sembilan puluh delapan tahun, dengan penggunaan tanda waktu kelahirannya pada saat terjadi Linur Batukarang yakni kejadian gempa yang sangat dahsyat di sekitar Gunung Sinabung, yang tercatat dalam sejarah pada tahun 1910. (Pada kejadian gempa itu beliau sudah lahir).

Sepasang Ciken Terikat Tebu

Sepasang Ciken Terikat Tebu

 

Adapun gambaran pernyataan kehormatan itu adalah:

  1. Memberikan tongkat perlambang penopang raganya. Supaya dia tidak menopangkan kelemahan ketuaannya kepada  tundi (roh/jiwa) seluruh keturunannya.
  2. Tebu gara (merah)  sebagai lambang keberuntungan dan manisnya kehidupan. Juga ruas-ruas tepu menunjukkan estafet kehidupan, baik kewajiban maupun tugas-tugas.  Bahwa saat ini tugas itu sudah saatnya dilimpahkan kepada keturunan.
  3. Sampe Tuah, (tanaman rumput), supaya  seluruh keturunannya memperoleh kesangapen, ertuah dan bayak.  Sangap artinya beruntung dalam kehidupan, Ertuah artinya memperoleh keturunan baik anak laki-laki maupun anak perempuan.  Bayak artinya mempunyai kekerabatan yang besar, memiliki saudara, handai taulan dan kerabat  dimana-mana.
  4. Gantang/Tumba, yakni alat untuk menakar (literan).  Sebagai lambang kemampuan keturunannya menakar dan menimbang secara adil dan jujur didalam kehidupannya (tidak curang).
  5. Bulung-bulung Simelias Gelar, adalah seikat daun daun dan bunga-bungaan yang berbagai jenis, sebagai lambang penyejuk kehidupan, sitawar sidingin.
  6. Beras piher/beras meciho, gelah piher tundi meciho perukuran. (Perlambang  untuk jiwa yang kuat dan hati/pikiran yang jernih).

Disamping itu, juga dipakaikan pakaian yang lengkap, biasanya juga berbentuk baju Jas dan Kebaya.

Ketika penghormatan anak terhadap orang tua telah ditunaikan, maka orang tua merasa sudah saatnya membayar hutang adat kepada kalimbubu dan puang kalimbubu. (Jika tidak ada acara sedemikian, maka membayar hutang adat ini dilakukan pada upacara kematian yang bersangkutan). Kalimbubu (pihak keluarga ayah ibu dan saudara laki-laki dari nenek, ayah ibu dan sudara kali-laki ibunda, ayah ibu dan saudara laki-laki isteri, ayah ibu dan saudara laki-laki dari menantu perempuan.  Kedudukan mereka menjadi penting (terutama saudara laki-laki dari ibunda yang melahirkan kita) karena dia disebut : Dibata Niidah = Tuhan yang kasat mata ataupun pengeriannya Wakil Tuhan di Dunia, sehingga penghormatan kepada mereka sama artinya dengan berbakti kepada Tuhan. Utang adat itu berupa Kain tenun (Uis Mekapal) rikut Batu Simalem (Berupa Uang/Kalau Dahulu Emas/Perak). Adapun yang mendapatkan pembayaran hutang adat adalah:

1.   Kalimbubu Simada Dareh. (Keturunan Kakek dari pihak Ibu Orang  yang diupacarai adati). Dalam kasus ini, Kakek mamatengah (Ayah dari Ibundanya) bermarga Tarigan TambakUntuk peristiwa kali ini, karena ibunda dari mamatengah  (nenekku) adalah Beru Tarigan Tambak  dari Desa Cingkes, maka Utang Adat diserahkan kepada Marga Tarigan Tambak.

2.   Puang Kalimbubu  Dareh. (Keturunan  Saudara Laki-laki  Nenek dari Pihak Ibu Orang yang diupacarai Adat). Dalam upacara ini, nenek mamatengah (ibunda dari ibundanya) adalah Beru Sembiring, sehingga yang menerima Uis kapal Puang Kalimbubu adalah Marga Sembiring dari Desa Suka Sigedang.

(Ada satu kalimat perlambang tentang kain pembayar hutang ini

Membayar Utang Adat Orang Tua Kepada Kalimbubu

Membayar Utang Adat Orang Tua Kepada Kalimbubu

 

Seterusnya  oleh orang tua, diberikan kepada anak-cucu kain gendongan. Kain gendongan itu mempunyai pilsafat enteguh idoah  artinya dalam segala aspek kehidupan orang tua tetap memberi perlindungan, sama seperti ketika masih bayi digendong kuat-kuat supaya tidak jatuh ketangan yang berbahaya. Kalau pada zaman dulu berupa kain tenunan, tapi sekarang untuk praktisnya diganti dengan kain batik. Diistilahkan kain panjang murah-murah supaya  murah rejeki.

Kemudian kepada orang tua juga diberi makanan kehormatan yakni berupa nasi yang diatasnya manuk sangkep daging ayam yang telah diolah/dimasak dengan bumbu tradisional dan disusun kembali seperti bentuk ayam.  Lalu dari Kalimbubu (keluarga nenek, keluarga mamak, keluarga isteri, keluarga menantu perempuan) memberikan makanan berupa Ikan Jurung yang dimasak secara utuh.   Dengan demikian, olehnya telah dirasakan penghargaan yang tulus dari anak-anak dan cucu-cucu serta kaum kerabat.

Makanan Kehormatan Diserahkan Penuh Doa

Makanan Kehormatan Diserahkan Penuh Doa

 

 

 

 


Responses

  1. Bang, pada umur berapa seseorang mulai boleh diberi ciken dan upacara adat? Lha kalau Bang Sis sendiri, berapa lama lagi akan memperoleh ciken dari anak-anak?
    Di Jepang, orang tua juga sangat dihormati. Di Jawapun begitu. Memang pada umumnya masyarakat kita menghormati para tetua atau ‘pinisepuh’. Hanya saja, di Jawa tidakada upacara khusus seperti di Batak Karo.
    Sis:
    Syarat utamanya adalah seluruh anak-anaknya baik yang laki-laki maupun yang perempuan sudah berkeluarga (kawin) dan sudah mempunyai anak. Lazimnya dilakukan ketika dia sudah menghentikan aktivitasnya dari segi ekonomi dan usianya sudah lanjut. Dari segi pembiayaan kegiatan tata upacara ini sangat fleksibel, mulai dari yang sangat sederhana sampai yang se mewah-mewahnya, bergantung kemampuan ekonomi anak cucunya.
    Jika seorang orang tua meninggal dunia, tapi upacara semacam ini belum dilakukan (padahal sudah memenuhi syarat), maka kritik handai tolan kepada keturunannya adalah : Kamu semua anak-anak yang lalai dan tidak menghargai jasa orang tua.
    Memang di Karo, menjadi orang tua mempunyai tanggung jawab yang berat, tetapi sebagai anak pun mempunyai tanggung jawabn terhadap orang tua sama beratnya.

  2. Elok tenan…pak Sony,rici sekali menceritakan adat daerahnya. Masukan posting pariwisata daerah pak…jangan jangan pemerintah setempat malah belum masukkan ke Promosi pariwisata…he..he..Menarik sekali, Di Jawapun banyak sekali upacara..suatu saat saya akan tulis.
    Sis:
    Berkarya tetap dikerjakan. Dan jika ada manfaatnya, syukur kepada Allah. Hal-hal kecil begini mudah-mudahan pada satu saat akan menjadi mutiara yang berharga dikemudian hari. Adanya pengetahuan tentang budaya ini adalah karena kakek dan ayah (pencinta budaya ) juga selalu mengajak saya ikut dalam ritual-ritual sehingga untuk menjadikannya posting cukup saya gali dari memori lama saja. Tentang Pemerintah Daerah (yg sekarang), baik Bupati, Wakil, Ketua DPRD, Sekda, semuanya mengenal saya secara pribadi, jadi saya juga bisa katakan mereka semua juga tahu apa yang harus mereka kerjakan untuk kemajuan Pariwisata Tanah Karo. Mudah-mudahan kelak bisa maju seperti Ngayogyakarta Hadiningrat.

  3. Bang (ikutan mbak Tuti panggil bang aja ya)
    Saya senang sekali kalau ada catatan-catatan adat seperti ini. Bang sendiri bilang abang selalu diajak kakek dan ayah…. dan kalau tidak diwariskan kepada anak/cucu kan adat itu bisa terhenti. Salah satunya cara juga dengan menuliskan upacara itu sendiri. Catatan ini juga berguna bagi orang yang akan melakukan studi banding. Saya sendiri tidak punya adat yang perlu dilanjutkan sehingga terkadang saya merasa sedih. I really do care about tradition.
    Gambatte ne bang
    salam
    EM
    Sis:
    Mudah-mudahan ikut-ikutan ama Tuti, bukan gara-gara ngerasanin kumis yaaaaa!
    (Selanjutnya serius nih) : Jika dilihat dari segi pendidikan, saya bukanlah orang yang terdidik dibidang budaya mengingat bidang saya sebagai Perencana Tata Ruang. Namun kecintaan saja yang membuat saya sering berpaling kesana, secara sederhana. Ada bebarapa kenalan saya yang memang berkecimpung pada bidang budaya ini (secara ilmiah). Maka kita sudah berbagi kapling, yang berat-berat tugas mereka, yang ringan-ringan jadi bagianku. Tentang buku, jika kelak tiba waktunya.
    Aku nggak faham dengan koment : saya sendiri tidak punya adat untuk dilanjutkan….. lho, khan kebiasaan kita sehari-hari ini sudah menjadi adat kita ?….Tul..nggak ?

  4. Halo Bang Sony…

    Ceritanya detil sekali ya. Sangat informatif. Saya setuju sama usulan Mbak Dyah, sebaiknya ini diusulkan ke pemerintah daerah sebagai data pendukung promosi.

    Oh ya Bang..
    Tulisan-tulisannya jangan lupa dikasih ‘tag’, biar kalau ada orang butuh informasi soal upacara adat ini, bisa langsung mampir ke blognya Bang Sony…

    Salam kenal, Bang…
    Terimakasih sudah berkunjung ke tempat saya ya…
    Sis :
    Pertama-tama, diucapkan terima kasih atas kunjungan adinda ke gubug saya.
    Kedua : Supaya iklas meluangkan waktu untuk kunjungan berikutnya.
    Ketiga : Semoga masih punya keinginan untuk mampir selanjutnya:
    Keempat: Semoga kita sehat-sehat kendatipun berada di tempat yang berjauhan.
    Kelima : Saran-sarannya diterima, untuk selanjutnya dilaksanakan. Siaap komandan!!!! (Sambil berdiri tegap dan memberi hormat ala student di West Point).

  5. Quote: Aku nggak faham dengan koment : saya sendiri tidak punya adat untuk dilanjutkan….. lho, khan kebiasaan kita sehari-hari ini sudah menjadi adat kita

    maksud saya
    saya tidak bersuku
    saya orang Indonesia tanpa suku dan adat istiadat
    dan
    saya sedih
    karena semua bersuku
    aaaarrrghhhhhh

    Tapi saya cinta indonesia
    dan sedapat mungkin ingin tetap menjadi wni
    Sis:
    Untuk menjadi satu bangsa (meskipun masih bermacam suku), nusantara kita membutuhkan waktu hampir seribu lima ratus tahun. Maka untuk menjadikan satu bangsa yang tidak lagi terdiri dari suku-suku (membaur penuh) mungkin juga dibutuhkan sekitar seribu lima ratus tahun lagi ke depan. Jadi kondisi Imel saat ini (tak bersuku) adalah profil jenis Manusia Indonesia lima belas abad kedepan. Maka, berbahagialah, karena dirimulah sebagai contoh manusia Indonesia yang telah membaur sempurna, karena tidak lagi sekedar milik bangsa Indonesia, tetapi telah berkiprah dalam level antar bangsa.

  6. Wow… Salut banget sama orang Batak, mereka masih menjunjung tinggi adat dan budayanya. Semoga bang Sonny merupakan salah satu dari mereka yang dikaruaniai panjang usia dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Thanks
    Sis:
    Aku juga berdoa, semoga mbak Yulis puuuuaaaaaaanjang umur, supaya kita bisa tetap saling jumpa dalam blogging, sampai pikuuuun (sampai ngeblog dilarang oleh yang berwajib).

  7. Maaf Bang Sis, ini mengomentari Mbak Imelda …
    Lho kok bisa Mbak Imelda nggak bersuku? Mana ada orang Indonesia nggak punya suku dan adat?

    Tentang syarat pemberian ciken itu, dimana semua anak-anak harus sudah menikah dan punya anak, bagaimana kalau ada anak yang sudah menikah tapi tidak punya anak? Apakah berarti orang tua (kakek) tidak akan pernah menerima ciken?
    Ohya, kalau nenek menerima ciken juga nggak?
    Sis:
    Semua persyaratan diatas, pada keadaan terpaksa dapat dikecualikan, misalnya salah satu dari anak tidak menikah padahal adik-adiknya sudah pada bercucu, atau misalnya memang menikah tapi belum juga punya anak walaupun sudah dua puluh tahun menikah, ya secara tradisi mestinya dia meminjam anak saudaranya sebagai anak.
    Seorang nenek juga mendapat ciken, dan kerap terjadi suaminya meninggal ketika usia lima puluhan tentu belum mendapat ciken, nah ketika dia berusia lanjut maka si nenek lah yang mendapat penghormatan itu, karena jerih payahnya membesarkan anak-anaknya.

    Tentang mbak Imel, kalau nggak ada suku bangsa ya suku kata pun jadilah yang penting punya suku.

  8. Serasa ada disana ketika membaca tulisan ini..

    Pak, apakah acara ini diwajibkan? bagaimana sanksinya bagi yg tidak melaksanakan ritual adat ini?
    thanks atas infonya…
    Sis:
    Ditinjau dari sudut budaya, sebaiknya dilakukan. Tapi pada zaman modern ini, setiap orang mempunyai alasan-alasan untuk tidak melakukannya. Dan itu adalah hak setiap orang. Ada juga yang tidak melakukannya karena memang tidak mengetahui hal tersebut.

  9. sudah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: