Oleh: Sony | November 17, 2008

Senandung Ibu Yang Renta

YANG PERGI DAN YANG TERINGGAL

 

Bulan Desember  di negeri kita ini diperingati sebagai hari Ibu.  Banyak karya-karya sastra dan musik dihasilkan dengan tema dasar penghormatan atas jasa-jasa ibu.  Bagi saya sendiri, ibu itu bermakna  yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.  Ibundaku adalah seorang pejuang bagi kami sekeluarga.  Ibu benar-benar membanting tulang untuk kehidupan kami.  Ibu juga yang mengajarkan kehidupan bagi kami, termasuk didalam mempertahankan martabat dan harga diri dalam hidup.  Selain ibu kandung, aku memiliki enam orang ibu.  Semua kupanggil Nande (ibu dalam bahasa Karo). Dalam kehidupan masa kini, riwayat kehidupan kami memiliki tujuh orang ibu dan tujuh orang ayah mungkin agak ganjil.  Tapi itulah yang terjadi dalam keluarga kami.  Buyutku mempunyai tiga anak laki- laki, itulah tiga orang kakekku. Kemudian ketiga  kakek ini memiliki tujuh anak laki-laki pula, itulah  bapakku. Dari ketujuh mamak (Nande) aku memperolah  sembilan belas saudara laki-laki dan  dua puluh tiga saudara perempuan.

Menurut cerita bibi kami (para saudara perempuan ayah kami) ketujuh ayah kami itu sangat kompak.  Dan begitu kompaknya mereka sehingga sulit bagi mereka memisahkan kegiatan antara satu dengan yang lain.  Dan ternyata mereka cukup dikenal diberbagai daerah.   Hal itu dengan tidak sengaja  kuperoleh buktinya setelah mereka  meninggal dunia.   Satu ketika, aku dengan seorang teman mengadakan perjalanan dinas (supervisi) ke Kecamatan Senembah Tanjung Muda Hulu, Kabupaten Deli Serdang, yang letaknya kira-kira tujuh puluh lima kilometer dari Medan.  Nasib kurang beruntung,  mobil kami mengalami kerusakan (kempes ban) pada sebuah desa bernama Gunung Seribu. Sial kami bertambah, ketika kami mengganti dengan ban serap (reserve), ternyata ban cadangan ini juga tidak cukup angin alias kempot. Terpaksalah supir kami pergi membawa dua-dua ban kempes tersebut ke tukang tambal ban, yang  ternyata jaraknya hampir 15 km dari tempat kejadian.  Sambil menunggu supir kembali, kami berteduh pada sebuah rumah (bekas kedai sampah yang tidak berjualan lagi).  Tiba-tiba datang seorang kakek mendekati kami.  Dengan ramah dia bertanya, siapa yang kami cari.  Maka kami menjawab bahwa kami hanya beristirahat sambil menunggu ban datang dari kota kecamatan Gunung Meriah. Lalu dia bertanya apa margaku, dan kebetulan kami satu marga.  Lalu dia bertanya, dimana kampungku, dan kujawab juga. Pertanyaan selanjutnya apakah aku kenal dengan si anu ? Seseorang yang sudah meninggal dan selama ini menurut pendapatku adalah saudara perempuan kakekku.  Maka kukatakan itu adik kakekku. Berlanjut pertanyaan, apakah ayahmu bernama si anu ? Ya karena itu adalah nama salah satu dari ketujuh ayah yang kuceritakan diatas, maka kukatakan :ya. Lalu disebutnya satu nama  lagi, kujawab: ya. Tambah satu nama lagi, kujawab juga : ya.

Tiba tiba pinggangku dicubit teman, kemudian berbisik, katanya : Jangan kau permainkan bapak tua itu, nanti dia tersinggung. Mungkin karena sudah tiga nama disebut, kukatakan juga itu ayahku, maka temanku beranggapan aku bercanda, padahal serius.  Kemudian  datanglah seorang perempuan tua, dan kakek ini segera memanggil.  Rupanya perempuan itu adalah isterinya.  Katanya : kemarilah mak, ini cucu kita dari jauh datang ! Nenek itu mendekat dan melihat kami, serta kakek itupun menyebut nama-nama ayah ku.  Maka bertanyalah nenek itu: Lalu ayah kandungmu yang mana ???? Barulah kusebutkan nama ayah.  Habislah aku diciumi nenek itu dengan sirihnya berlepotan diwajahku. Anakku…anakku..anakku…katanya. Kulihat kakek itupun tersenyum, tapi airmatanya merebak.  Teman sejawatku itupun terbengong melihat kejadian ini.  Maka pasangan tua itu membujukku singgah kerumah, tapi aku menolak dengan halus, dan berjanji akan datang pada kesempatan lain. Tapi aku belum habis pikir, maka kutanyalah mereka, Siapa sebenarnya mereka.  Kakek itu menjelaskan bahwa nenek yang kukatakan adik kakekku itu adalah kakak kandungnya.  Dulu waktu masih kecil, diminta oleh kakekku kepada orang tua mereka untuk dijadikan adik dan dibesarkan di kampung. (Aku dan istriku masih sempat jumpa dengan nenek itu, sekali waktu aku dan istriku – waktu itu masih pacarku- berkunjung ke desa kakekku ketika kami masih kuliah di Pulau Jawa). Barulah kuketahui bahwa nenek itu bukan saudara kandung  kakekku. Dan ketika kukonfirmasi dengan ayahku (waktu istu satu-satunya yang masih hidup),  beliau memperingatkan, jangan sampai ada yang tahu masalah ini, karena kakek tidak pernah mengungkapkan bahwa nenek itu bukan saudara kandungnya.

Rupanya setiap kali kakekku membawa Kuda dari dataran Tinggi Karo untuk diperjual belikan di Tanah Deli,  jalur perjalanannya melalui Dolok Silau, Gunung Meriah, Sinembah Tanjung Muda Hulu dan Sinembah Tanjung Muda Hilir, kemudian  berhenti di Deli Tua, pusat budaya dan ekonomi masa itu.  Perjalanan bolak balik melalui daerah ini rupanya menghasilkan banyak sudara disepanjang jalan, salah satunya adalah di desa Gunung Seribu. Persaudaraan ini berkembang saling mengunjungi, dan jadilah mereka menjadi keluarga. Satu karya yang sulit untuk kutiru.

Tentang tujuh ibu, rupanya juga ada keterkaitan dengan wilayah ini.  Lima dari tujuh ibu ini sudah meninggal dan sekarang bertahan dua orang.  Kedua-duanya beru Tarigan. Satu dari ibu ini memang berasal dari daerah Gunung Meriah ini, yang disebut Tarigan Silangit.  Yang satu lagi dari  daerah Dolok Silau putri  Pangulu Nagori Sigerantung , yakni Beru Tarigan Tua. Tubuh mereka sudah renta.

Bersama Nande Tua di Kuburan Bapa Tua/Ladang

Bersama Nande Tua di Kuburan Bapa Tua/Ladang

Kalau aku berkunjung, mereka selalu bersenandung menyebut nama  Ibu Kandungku, dengan katak-kata kira-kira begini, saudaraku, adindaku, sahabatku, hari ini aku berjumpa dengan anak kita, sudah puaslah hidup di dunia ini, bujuklah suami-suami kita, kalian jemputlah aku menghadap Tuhan, mati pun aku sudah ikhlas.  Dan aku pun selalu mengatakan  lagu itu tak ingin kudengar… walau sudah renta mereka masih sangat kami butuhkan sebagai penasehat dan penengah ditengah keluarga. Nanti 22 Desember, hari bagi  sepasang ibuku yang masih tersisa.

 

Menjenguk Nande Tengah Dirumahnya/P. Siantar

Menjenguk Nande Tengah Dirumahnya/P. Siantar

 


Responses

  1. bersaudara dan kompak itu menyenangkan.

    begitu juga nek bulang walaupun sudah almarhum.
    Saya malah ga ingat sama sekali, masih kecil bgt nek bulang sudah meninggal.

    nek bulang tiga bersaudara laki2. nek bulang saya yang tengah, jadi saya punya nek bulang tua dan nek bulang nguda. Semua nek bulang itu ga begitu aku kenal.

    Tapi cucu dari nek bulang tua ada yang seumuran sama saya, kami lumayan dekat.

    Kalo orang lain tanya, kalian saudaraan ya?? saudara gimana??

    sepupu, karena kakekku sama kakeknya bersaudara.

    Untuk orang Jakarta agak bengong dengan penjelasan ini.

    Dengan sepupuku ini juga aku paling nyaman ercakap karo, sama2 berdarah setengah karo, sama2 mau belajar cakap karo.

    Walaupun akhirnya kecapean mikir dan nyerah “pake bahasa indonesia aja yookk” hehehhe

    Tapi itulah kenapa saya bangga jadi orang karo, dan salut buat bibik2ku yang ngajarin biar kenal saudara.

    Sayang sekarang banyak anak muda karo males banget diajak pesta karo, padahal di sana kesempatan ketemu saudara.

    atau kesempatan ketemu bibik yang punya anak laki2 berkualitas hehehhe (itu dulu sekrang dah nemu kok :P)

    btw tanggal 4 January nanti kami kumpul keluarga besar di Medan, semua anak kempu nek bulang kumpul. Sepertinya bakal seperti pesta juga sangkin ramenya😛

    Jadi ga sabar bisa kumpul keluarga pasti menyenangkan.

    Btw ada bapak di blogsphere ini membawa nuansa yang berbeda.

    ^_^

    Belepotan diciumin ya pak??

    itu juga yang kejadian sama calonku, waktu ku kenalkan ke keluarga kakakku ( di jkt) ternyata calonku itu masih kempu bibinya kakakku. Habis dia dipeluk2 bibik itu, sampe kayak sinetron bibik itu pake nangis ktemu kempunya..

    sempit kalipun dunia ini, ternyata masih saudara jauh juga😛

    Jangan2 bapak juga masih saudara sama saya…

    Bisa saja khan????

    sorry kepanjangan n sedikit out of topic😛
    Sis:
    Maaf ya Indah, terlambat dikoment karena sejak Selasa sampai minggu aku ada di Penang, dan tidak bawa Laptop. Nanti ada posting tentang perjalanan ke Penang kali ini.
    Tentang kekeluargaan, itu penting bagi kehidupan, dan menjadi satu identitas diri dan keberadaan kita. Peliharalah kekerabatan dengan prinsip kasih sayang dan saling menghormati, dan jaga nama baik keluarga.

  2. Kekerabatan bangsa kita memang sangat kuat, baik suku-suku di Sumatera, Jawa, maupun suku-suku yang lain. Tetapi karena perkembangan zaman, terutama bagi masyarakat yang sudah hidup di perkotaan, kekerabatan ada kalanya mulai luntur. Orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing, tak sempat lagi saling kunjung-mengunjungi.

    Wah, saudara Bang Sis buanyak banget ya. Rada bingung juga aku bacanya, apalagi dengan nama-nama suku Batak dan istilah-istilah kekerabatan yang aku kurang paham … hehehe …
    Sis:
    Itulah… makanya kalau hidup senang jangan senang sendirian, entar susah sendiri. kalau mau pintar… jangan pintar sendirian, entar bebannya berat. kalau mau punya uang jangan hanya sendirian, entar yang lain kerjanya minjam melulu. Maka harus semua serentak, hayooo majuuuu, serbuuuuu. Suapaya jangan ada yang tertinggal, kalaupun ada yang ketinggalan, ada yang menjemputnya.

  3. Wah…indahnya dunia…kalau bisa bertemu,bersama orang-orang yang kita cintai,keluarga dan sahabat.

    Kudoakan mereka selalu panjang umur,selalu sehat dan bahagia!
    Sis:
    Trims, udah berkunjung. Aku berharap begitu juga hendaknya.
    Masih di Teipei sekarang ?

  4. Iya…kayaknya Taiwan akan jadi negara keduaku.😀
    Sis:
    Artinya, kamu sudah mendapatkan pelabuhan untuk menambatkan perahu pengembaraan cintamu pada dermaga di negeri pulau itu ya ????? Selamat deh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: