Oleh: Sony | November 24, 2008

Kenangan Masa Kecil

MIMPI ANAK DESA

 

Pagi pagi benar, sebelum matahari terbit di celah bukit sebelah timur, kami sudah berangkat dari rumah menuju ke sawah, untuk menghalau burung.   Padi sudah hampir menguning.  Pertanda sebentar lagi masa panen.  Masa panen adalah masa yang paling dinantikan, karena disamping keramaian di sawah, makananpun enak-enak.  Tapi itu belum sekarang. Nanti kalau sudah tiba waktunya.

Subuh-subuh, air embun berkumpul dilembar lembar dedaunan. Ketika tersentuh telapak kaki, tersentuh lutut, bahkan tersentuh oleh lengan, basah dan dingin.  Merinding bulu romaku, menahan dingin.

Sampai di sawah, yang pertama kulakukan adalah memasang api.  Minyak tanah yang kubawa dengan botol limun, tinggal sedikit.  Kukupas tiang  dangau yang terbuat dari bambu agar menjadi serpih-serpih tipis, agar mudah terbakar.  Kayu kayu yang terletak di tanah, semua lembab.  Bahkan ijuk yang ada di sudut dangau juga basah.  Perlahan tapi pasti, api semakin menyala dan mulai membakar ranting ranting yang kutumpuk diatas tungku.  Api membesar, hatiku senang.  Gerombolan burung pipit mulai berdatangan.  Segara kutarik tali mengguncang kotok-kotok dan berbunyi tok tok tok, sambil aku berteriak hoooooooi….hoooooi, burung pun menikung seperti pesawat tempur merubah arah ke petak sawah orang lain.  Kujerangkan air diatas tungku dengan menggunakan ceret seng yang dibelikan ibu di pasar.  Ubi kayu yang dibaya ibu kemarin dari ladang, kukupas dan kubakar dipinggir tungku.  Ada gula merah didalam sumpit pandan dan bubuk the cap 37 kesukaan kami sekeluarga.  Makan ubi bakar dengan air teh dan gula aren, adalah satu kenikmatan di pagi hari.  Kami makan ubi sebagai kesenangan, bukan karena kurang beras. Padi kami berlumbung-lumbung di desa.  Tapi ubi di saat subuh juga nikmat, apalagi ada gosong-gosongnya.  Pahit-pahit manis, sedap rasanya.

Ketika matahari telah naik diatas bukit, aku pergi mandi di pancuran, dan pulang kerumah.   Setelah mengganti baju, kusambar buku buku, dan berangkat kesekolah, bersama – sama dengan anak-anak yang lain.  Kami mempunyai tugas yang berbeda. Ada juga yang kerjanya menghalau burung seperti aku, tapi ada juga teman yang memanfaatkan waktu subuh untuk mengambil rumput untuk makanan ternaknya.  Pernah sekali waktu teman saya terlambat masuk kelas.  Ketika ditanya guru, dia memberi alasan karena menyabit rumput untuk ternaknya.  Pak Guru marah dan menyuruh pulang dan teruslah menyabit rumput.  Sejak itu kami tidak pernah lagi  berani menjadikan hal itu sebagai alasan, kalau kami terlambat masuk sekolah.

Di sekolah, tidak semua murid cukup cerdas.  Beberapa diantara kami dapat dikatakan cukup bodoh, sehingga kadang-kadang pak guru memukul betis kami kalau kami tidak dapat memberikan jawaban yang benar atas pelajaran yang diajarkan.  Sebetulnya kena pukul di betis atau kena cubit di perut itu, cukup memalukan.  Tapi bagaimana kami harus mengatasinya, sementara waktu kami untuk belajar hanya saat berada didalam ruang kelas.    Sepulang dari sekolah, sudah banyak tugas-tugas menunggu kami.  Teman-teman yang mempunyai adik, harus menjaga adik-adiknya, sementara ayah dan ibunya bekerja di ladang atau di sawah. Ada juga teman saya yang sepulang sekolah membantu mangambilkan air dari pancuran untuk kedai kopi.  Dia mendapat upah yang dikumpulkan untuk membeli baju kalau nanti kenaikan kelas, supaya bisa berbaju baru.  Ada juga yang harus menggembalakan sapi dan kerbaunya sampai sore, dan membawanya pulang ke desa.  Aku sendiri tidak terlalu banyak yang harus kukerjakan, karena aku tidak mempunyai adik.  Aku adalah anak bungsu.  Sepulang sekolah, aku biasanya menyusul ibu ke ladang atau ke sawah.  Aku membantu ibu sekehendakku.  Ibu berfikir bahwa membuatku lelah bekerja dapat membuatku menjadi bodoh.  Prinsip beliau, yang penting prestasi belajarku harus bagus, supaya dapat melanjutkan sekolah lebih tinggi.  Kawan kawan selalu mengatakan bahwa aku lebih pintar dari mereka, karena waktuku sehari-hari hanya belajar dan membaca buku.  Sedangkan mereka dibebani pekerjaan yang cukup berat dari orang tua.   Pendapat itu tidak sepenuhnya benar, karena ada juga sahabatku yang mempunyai tugas berat dari orang tuanya, tetapi disekolah dia selalu mendapat nilai yang bagus.

 

Musim panen sudah tiba.   Untuk persiapan panen, kami sudah membuat tikar alas tumpukan sabitan padi yang nantinya setelah semua disabit dikumpulkan disitu.  Keesokan harinya, padi itu diirik, untuk melepaskan bulir padi dari jeraminya.   Selesai diirik, dianginkan untuk memisahkan padi yang berisi dengan padi yang hampa.  Untuk itu dibutuhkan angin yang kencang.  Untuk memancing angin, kami biasanya menyalakan api. Sambil bersiul dan berteriak memanggil angin dengan bibir monyong berbunyi puuuuuuuur, puuuuur.  Aku sendiri tidak yakin ada manfaatnya teriakan itu, tapi selalu dilakukan tatkala menganginkan padi yang baru diirik.  Setelah dipisahkan padi yang bernas dengan yang hampa, maka padi bernas dijemur sampai kering di panas matahari.  Setelah kering dibawa ke desa dengan pedati atau kereta lembu, dimasukkan kedalam lumbung.  Setiap kali beras di rumah sudah hampir habis, maka padi dari lumbung dikeluarkan barang sekarung dua, dapat ditumbuk sendiri dengan lesung atau dibawa ke mesin gilingan padi.  Beras hasil tumbukan lesung jauh lebih bermutu dari hasil mesin penggiling padi, karena kandungan vitamin B- nya jauh lebih banyak.

Ketika masa panen, kita biasanya potong ayam, famili-famili kita ajak bergotong royong ke sawah kita.  Ada yang menyabit padi, ada yang mengantar ketempat pengirikan, ada yang mengirik, ada yang memisah jerami dengan padi, terakhir adalah menganginkan.  Anak anak biasanya berlari berkejar kejaran sambil bermain layangan. Sore hari setiap keluarga yang membantu dibekali satu sumpit padi, beratnya kira kira sepuluh kilogram.

Sebagai upahku selama masa menjaga padi dan menghalau burung, akan dibelikan pakaian dan tas sekolah yang baru.  Pernah sekali aku minta dibelikan sepeda sama ibu, tapi katanya padi kami tidak mencukupi kalau untuk membeli sepeda.  Cita citaku membeli sepeda barupun kandas.  Untuk sementara aku tetap memakai sepeda besar milik ayah yang ditinggal di kampung. 

Ketika aku naik ke kelas lima, ayah menjemputku ke kampong dan dibawa ke kota. O ya aku lupa menceritakan bahwa sebenarnya  aku lahir di kota, ayahku seorang pengelola Pompa bensin, istilah sekarang adalah menejer.  Ketika itu ibu saya mempunyai kios di pasar untuk berjualan pisang.  Tapi ketika aku memasuki kelas dua SD, ibuku menjual kios pisangnya, untuk menebus sawah kakek yang pada masa Penjajahan Jepang digadaikan kepada orang lain.  Karena aku lebih suka bersama ibu daripada bersama ayah, maka aku ikut ibu ke kampung/desa, sementara ayah dengan tiga orang kakakku yang semuanya perempuan,  saat itu  yang paling tua bersekolah di SGA, yang nomor dua di SPMA dan yang paling kecil SMP kelas tiga  tetap tinggal di kota.  Selisih umurku dengan kakakku yang kecil adalah delapan tahun. Tiga tahun aku hidup di desa bersama ibu, aku dijemput ayah, sementara ibu bertahan di desa mengurus ladang dan sawah warisan kakek kami. Jarak dari kota kabupaten dengan desa kami empat belas kilometer, ditempuh ayah dengan sepeda selama empat puluh menit.  Sepuluh kilometer jalannya jalan aspal  jalan propinsi. Empat kilometer jalan kampung. Kendaraan umum hanya ada seminggu sekali, yakni pada hari Senin, ketika di kota kabupaten sebagai hari pasar atau hari pekan.

Sejak aku bersekolah di kota, setiap  hari Sabtu aku ke desa bersama ayah, dengan bersepeda.  Di kampung  kami memancing dan mencari ikan di kolam.  Ibu kadang kadang menyuruh kami membantu pekerjaannya di sawah atau di ladang.  Tetapi ayah saya tidak terampil mencangkul, sehingga ibu kadang kadang jengkel melihatnya dan menyuruh kami pergi saja ke sungai memancing.  Membuat beliau ikut ikutan malas katanya. 

Sebenarnya kami tak pernah menghasilkan banyak ikan, tapi ayah tak pernah bosan.  Ikannya juga kecil kecil.  Ikan hasil pancingan itu dimasak ibu dengan bumbu pedas, kadang-kadang dengan terong dan asam asaman.  Rasanya asin dan pedas. Memasaknya menggunakan periuk tanah, supaya aromanya lebih gurih dan tahan lama, tidak basi. Ikan yang telah dimasak itu kami bawa ke kota untuk lauk kami dengan kakak. 

Ketika aku memasuki kelas dua SMP, kelasku mendapat  anak murid baru pindahan dari kota lain.  Perempuan yang cantik menurutku, dan yang membuatku penasaran adalah otaknya yang sangat cerdas.  Dia ikut ayahnya yang pindah tugas dari kota lain.  Ayahnya seorang jaksa, seorang sarjana hukum.  Ayah saya menyebutnya mesteer.  Dia sudah menjadi langganan di pompa bensin ayah saya dengan sedan Fiat 131 yang menurutku sangat hebat, karena sebenarnya mobil dinas di kota kami belum banyak, masih puluhan saja. Nama gadis itu  Feriana boru Sinaga, dipanggil teman teman Eri.  Aku sendiri memanggilnya Ana, dan dia menyikapinya dengan biasa biasa saja.  Model rambutnya dipotong pendek, dan anting antingnya menggantung.  Masih jarang di kota ku seperti itu.  Dia bersepeda jengki yang sangat bagus dan berkilap.  Kecerdasannya membuat aku mulai tersisihkan di kelas.  Hanya dibidang seni suara, dia kalah denganku, karena untuk yang satu ini, seluruh kota juga mengetahui siapa aku.  Kebetulan ayahku pemimpin senuah grup kesenian tradisional, sehingga aku banyak mengenal  pemusik tradisi.  Yang membuat aku sangat kagum padanya adalah ketika kulihat dia menyetir mobil sedan ayahnya ke pompa minyak, dan kebetulan aku sedang ada kepentingan menemui ayah disana.  Walaupun pompa bensin itu bukan milik kami, tetapi aku cukup bangga menjadi anak seorang pengelola pompa bensin.  Kapan ya, aku bisa menyetir mobil seperti dia, fikirku dalam hati.  Aku ingin belajar mengemudi mobil, supaya bisa menyaingi dia.  Sekali waktu Pak Simanjorang meninggalkan mobil tangki yang biasa mengangkut bensin dari Pangkalan Berandan ke kota kami, di rumah. Kunci kontak mobil itu  ditinggalkan juga di rumah, karena dia menjenguk saudaranya yang sakit di desa yang letaknya tidak jauh dari kota kami.  Aku ambil kunci kontaknya, kunaiki mobil tangki itu, mereknya Fargo, Made In  USA, kuhidupkan mesin, dan berhasil.  Kemudian kucoba masukkan gigi satu, mobil berkapasitas sepuluh ribu liter itu bergerak, tikungan pertama masuk jalan aspal, aku selamat.  Seratus meter kemudian, di simpang empat Gedung Nasional, aku berusaha belok lagi ke kiri.  Banyak teman-teman yang sedang bermain di Gedung Nasional, melihat saya membawa mobil tangki.  Rupanya aku terlalu cepat mengambil tikungan, ban belakang masuk ke parit besar dan ban depan sebelah kanan naik ke udara, mesinnya menjerit lalu mati.  Semua orang berkerumun.  Disudut simpang itu ada perusahaan pemborong atau kontraktor bangunan jalan bernama CV. Sagala & Son, yang memang kenal baik dengan keluarga kami.  Dibawanya mobil doser  dan mobil tangki itu ditarik.  Beberapa menit berselang ayahpun datang dari  pompa bensin.  Kejadian itu rupanya jadi ceritra di sekolah dan saya diolok olok kawan bercita cita jadi supir mobil tangki.  Padahal maksud hati ingin menyaingi gadis yang baru pindah ke kelas kami.

Akhir kelas dua, prestasiku benar benar gemilang dan aku mendapat predikat yang terbaik, dan dia menjadi peringkat kedua.  Waktu pulang dari sekolah, dia dijemput ayahnya, dan aku diajak ikut naik mobil sedan yang keren itu.  Harum dan sangat menyenangkan.  Ayahnya melihat raut kekagumanku, lalu katanya, jikalau aku dapat mempertahankan prestasiku, maka kelak akupun bias mendapatkan mobil seperti miliknya itu.  Malamnya aku bermimpi mendapat mobil semewah itu, dan Ana kuajak jalan jalan.  Tentu saja aku yang nyupir dan tidak masuk parit.  Tapi ternyata baru sebatas mimpi.

 

 


Responses

  1. Pertamaxx…. lanjut bacanya….:D
    Sis:
    So youre well come…….

  2. – Jadi ngebayangin sejuknya angin di pedesaan dan sawah-sawah nan hijau…..
    untung aja ada kontraktor pembangun jalan, kalo gak, gak tau deh gimana nasibnya tuw truk hehe….
    aw gmana dgn Ana?, skarang kan udah pada gede…..
    btw nice story bang….
    Sis:
    Sekarang bukan cuma pada gede.. udah tuaaa malah. Yah…pesta perpisahan lulus SMP, adalah pertemuan terakhir… aku melanjutkan SMA dikampungku, dia mengikuti ortu-nya ke Jember Jatim. Dan sejak itu, sampai hari ini tidakpernah lagi ada komunikasi.

  3. semoga mimpi-mimpinya terwujud🙂
    Sis:
    Ya pak. Impian- impian itu…. kalau dipungut satu persatu, kemudian dikaji (account), terasa betapa murah dan pengasihnya Tuhan sang pencipta. Karena begitu banyak pemberianNya.

  4. Cerita pak Sony masa lalu nih …?? indah nian….
    Anak anak kita mungkin tak lagi sempat memahami suasana pedesaan…walau kalau libur,kita ajak mereka ke desa desa,namun situasinya sudah lain…dan ternyata anak desa sekrang gak mau nyangkul juga..maunya ke kota…
    Sis:
    Benar bu. Pada saat bersama anak-anak pulang ke kampung atau ke kebun jeruk, aku sering menceritakan bahwa aku pernah sampai di berbagai tempat yang dapat ditunjuk dari dalam mobil. Tapi aku juga menyadari, bahwa desa kami yang dulu sangat indah dengan hamparan padi, sekarang sudah menjadi hamparan kebun kopi dan jeruk, sehingga atmosfeernya memang sudah berbeda. Gerobak dan pedati pun sudah digantikan oleh Toyota Hy Lux dan Isuzu Panther. Sehingga keindahan masa lalu itu, kini tinggal cerita. Terhempas dan kandas.

  5. masa lalu yang indah…semoga mimpi-mimpinya terkumpul untuk diwujudkan dengan mudah ya pak….
    Sis:
    Kesimpulanku sekarang, apa yang ada pada diriku saat ini merupakan kumpulan impian yang terindah masa lalu itu. Maka akupun selalu belajar mengucap syukur kepada Allah.

  6. Beruntung sekali bapak bisa memiliki pengalaman indah seperti itu…(bukan yang pas jatuhnya mobil loh pak…he…), maksud saya pengalaman tinggal di kampung yang indah. Membaca cerita bapak, tak urung jadi ingat “persaingan” dimasa sd / smp dulu…he….semoga generasi muda bangsa ini terus memiliki semangat bersaing untuk maju dalam prestasi ya pak…meskipun diserbu beragam tantangan.
    Sis:
    Terima kasih atas kunjungannya ke blog ku.
    Kepergianku ke Desa selama tiga tahun itu memang memberi warna yang sangat bermakna dan sangat penting dalam perkembangan kejiwaanku. Pengalaman di Desa itu, setelah aku dewasa kurenungkan sebagai anugerah bahwa aku pernah tinggal dan hidup di desa.
    Suasana sosial politik ekonomi pada masa kecilku sudah pasti jauh berbeda dengan masa kecil Nadin. Tapi aku yakin, setiap bagian dari kehidupan kita, dapat kita pungut hikmahnya baik itu yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Persaingan adalah satu aktivitas yang mampu memberikan tekanan kepada kita untuk semakin maju dan berprestasi. Jadikanlah kenangan masa kecil itu sebagai pusaka yang bermutu (Kata Lagunya Sam Saimun).

  7. Wah, menarik sekali ceritanya…jadi membayangkan,
    terbawa suasana pedesaan yang permai,
    situasi ‘jaman dulu’,
    masa-masa sekolah,
    btw…pak Sony kecil kaya’ apa yah?😉

    Trus, bagaimana dengan mimpi-mimpi itu?
    Ayo dong, terusin part 2 dan lanjutannya…
    ditunggu lho…
    Sis:
    Alam pedesaan memang damai dan indah, tapi kalau kita ingat lagunya Frankie and Jane:Pernahkah engkau pergi ke desa.. padi-padi terus tumbuh
    Pernahkah engkau pergi ke kota.. orang-orang terus gelisah
    Dikota didesa tumbuh dan gelisah….
    Seperti mata air kehilangan sungai…dst.
    Dan ketika bumi ini hampir separuh telah kujalani, dengan segala kegelisahannya, aku memang bertekad akan pulang ke Desa, kalau masa-baktiku sudah selesai.
    Tentang kisah selanjutnya… sedang dipersiapkan.

  8. kenangan masa kecil di kampung
    memang sangat indah….
    dulu saat berada di ladang
    dengan lauk seadanya
    makan tetap lahap…
    cabe hijau pun bs lewat😀
    ya….semoga mimpi
    mimpi itu bs segera terwujud
    bujur….mejuah-juah…njuah-njuah
    Sis:
    Sungguh, pengalaman masa kecil itu hadir kembali setiap kali aku pulang kampung, dan tidak salah…. makan memang sangat enak kalau di ladang/sawah. Apalagi kalau dengan lauk ikan arsik.

  9. kenangan masa kecil yang indah. Saya mungkin satu dari sekian anak yg lahir tahun 80an dan masih bisa merasakan masa kecil di pedesaan Madiun, walaupun hanya setahun sekali setiap liburan sekolah🙂 . Mimpi buat saya adalah sesuatu yg harus diperjuangkan…..
    Sis:
    Mimpi adalah bunga tidur. Impian adalah angan-angan. Cita-cita adalah utang yang harus diperjuangkan untuk diwujudkan jadi kenyataan.

  10. Wow…indahnya
    Desa memang damai dan indah
    Tiap libur saya sekeluarga memilih desa untuk rehat
    Makasih ya sudah mampir🙂
    SiS:
    Makasih juga. Semoga tidak bosan berkunjung dalam kisah berikutnya.

  11. Saya lahir di kota (Yogya), tapi masa kecil masih akrab dengan desa, karena sering main ke rumah kakek di desa. Saya dulu suka main ke sawah, membendung sungai kecil di pinggir sawah untuk menangkap ikan, mengusir burung dengan orang-orangan sawah, memanjat pohon, mencari kerang di pinggir pantai (desa kakek sudah agak dekat pantai), pokoknya seru ….

    Wah, guru zaman dulu galak-galak ya Bang, suka mukul betis atau tangan. Kalau saya, karena tinggal di kota, tidak ada tugas membantu pekerjaan orang tua sehabis jam sekolah. Jadi habis sekolah ya main dan main …

    Eh, Feriana gimana kabarnya Bang? Siapa tahu dia juga suka ngeblog, dan suatu saat nanti nemu blog Bang Sis. Wahaha, lucu.
    Ohya, waktu truk tangkinya masuk parit, bensinnya tumpah nggak Bang? Wah, jadi tontonan pastinya ya? Maunya gaya, dapatnya lara …😀
    Sis:
    Aku juga berharap “si boru ular naga” itu bisa baca tulisan ini. Walaupun itu sangat kecil kemungkinannya.
    Tentang mobil masuk paret, kebetulan tangki udah kosong. Jadi tontonan, dan aku sendiri udah ketakutan, takut kena marah sama ayah. Untung dia nggak marah (memang seumur hidupnya nggak pernah marah samaku)

  12. aha! jadi tahu masa kecilnya pak Sony deh…
    bisa dikumpulkan dan kelak dibuat autobiography hehehhe
    EM
    Sis:
    Apa ada yang mau baca nanti ya ? kalau penerbitnya kita minta tolong aja ama Tuti, kan suaminya punya usaha penerbitan.

  13. huahahahaahhhaahahha

    jadi ingat masa kecil🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: