Oleh: Sony | Desember 3, 2008

Masa Kecilku di Desa

MENGENANG BIBIKU YANG PELIT

 

Tulisan ini sebenarnya pernah kuposting awal pembuatan blog ini.  Tapi karena salah sunting, tulisannya hilang terhapus (maklum masih belajar). Karena aku sangat sayang sama bibiku ini, maka kuupayakan mempostingkannya ulang.

 

           Di sebuah desa di lereng pegunungan Bukit Barisan, aku mempunyai seorang bibi, atau tegasnya saudara sepupu ibu saya.  Bibi ini menjadi satu kenangan bagiku karena ada ciri istimewanya, yakni sangat sangat peliiiiiiit sekali.  Dan kepelitannyan itulah yang menjadi sumber inspirasi ceritaku ini.

            Ayah bibiku ini adalah saudara kandung kakekku, dan aku panggil dia kakek tua. Orangnya cukup berada dibandingkan orang lain di desa kami.  Kakek tua hanya memiliki seorang anak, yakni bibiku.  Sementara bibiku sendiri tidak punya anak.  Dan ditinjau dari usianya yang sudah enampuluh lima tahun, tidak lagi memungkinkan untuk melahirkan seorang anak.  Harta yang diwariskan oleh kakek tuaku kepada bibi adalah sebuah rumah panggung besar, dimana sejak zaman Belanda rumah ini dijadikan sebagai klinik seminggu sekali.  Lebih kurang seratus ekor sapi dan  padang penggembalaan seluas tujuh hektar. Ada sawah dan kolam ikan di tiga lokasi  total luasnya delapan hektar.  Ada juga peternakan ayam kampung dan yang seru adalah kebun pisang dan jeruk bali, itu lho jeruk yang buahnya sebesar kepala kita.

          Setiap musim liburan, aku selalu mengunjungi bibi ke desanya.  Menghabiskan masa libur di sana memang sangat mengasyikkan, karena banyak kegiatan yang bias kulakukan.  Pagi pagi, sebelum matahari terbit, melepaskan ayam dari kandang dan memberi mereka makan jagung.  Sesudah itu menemani bibi mengarak lembu (sapi)  dari kandang ke penggembalaan.  Enaknya, bisa sambil menunggang kuda, karena bibi juga memiliki dua ekor kuda.  Siang menabur makanan ikan di kolam.  Makanannya tepung jagung campur dedak (masa itu belum ada pelet), dan  irisan pelepah keladi.  Mulut ikan itu pada monyoooong semua kalau kita sudah datang.  Musim liburan adalah bulan Desember dan bulan Juni, dimana pada kedua bulan tersebut adalah musim buah jeruk.  Naaaaah disinilah serunya.  Karena bibi sangat pelit, maka kalau buah jeruk diambil di pokoknya, bibi pasti melarang.  Maka biasanya aku dengan bapak tua (suami bibi)  sore sore menjolok buah jeruk yang sudah masak, kemudian meletakkannya berserakan dibawah pohon seakan-akan jatuh sendiri.  Nah, besok subuh bibi akan melihat buah berserakan ketika mau melepas ayam.  Maka dia akan berteriak memanggilku, untuk membawa bakul karena buah jeruk sudah banyak yang berjatuhan.  Maka puaslah hari ini makan jeruk, tanpa harus dipelototi oleh bibi karena kepelitannya.  Demikian juga dengan telur ayam, diambil dari sangkak (tempatnya bertelur, gulingkan di dasar kandang.  Bibi berkesimpulan telur yang sudah terguling tidak mungkin lagi menetas, jadi lebih baik digoreng sebelum membusuk.    Yang lebih hebat lagi, di peternakan ayam bibiku, ada jerat musang.  Karena musang memang sering mencuri ayam bibiku.  Kalau kepingin makan ayam, oleh bapa tua ditangkap ayam jantan yang bagus, lalu  letakkan pada jerat musang, kakinya terjepit dan terluka.  Bibi akan berkesimpulan ayam ini tidak lagi sehat, harus disembelih untuk digulai.   Hmmmmm makan enak hari ini.   Tapi untuk jerat musang hanya boleh satu kali, karena kalau sering, bisa bisa bibi curiga. Kalau untuk  buah jeruk jatuh, boleh berkali-kali.

 

          Satu kali, bibi mengundang kami datang ke kampung karena beliau kurang sehat, kena flu.  Lalu oleh ibu ditanya, makanan apa yang dia suka ?  Apakah ayam dipotong, atau ambil ikan di kolam.  Mungkin karena rasa rugi kalau ayam, maka dia putuskan untuk mengambil ikan di kolam.  Kamipun berangkatlah bertiga membawa tangguk.  Tanggukan pertama dapat ikan kira kira  satu kilo lebih, kata bibi jangan yang itu, kalau besar kurang enak.  Mungkin dikurangi besarnya dikit pikir ibu, ditangguknya yang lebih kecil, kira kira delapan ons.  Bibi menggeleng, dan ikanpun dilepas.  Maka ibu menangguk ikan yang masih sekitar tiga ons, dan dimasukkan kedalam tempayan. Ibu menangguk lagi hingga semua empat ekor, maksud ibu untukku, untuk ibu, untuk bapaktua dan untuk bibik.  Tapi bibik menyusuh lepaskan yang tiga ekor, cukup satu ekor saja untuk berempat. Ibu menatapnya terperangah.  Ibu heran, jauh jauh dari rumah kok yang diambil hanya ikan sekecil itu. Mana cukup untuk lauk berempat.   Tapi bibi tersenyum.  Katanya nanti kita tambahkan daun singkong yang banyak, biar cukup.  Dasar pelit, untuk perutnya saja, masih merasa rugi.

              Sesuai dengan iklimnya, kampung kami bukanlah daerah habitat durian.  Durian adalah buah-buahan yang mewah bagi kami.  Sekali waktu, tatkala musim durian, banyak durian didatangkan pedagang dari kota dataran rendah ke pegunungan, ke kota didekat desa kami.  Bibi menyuruhku  membeli durian untuk kami makan di rumahnya.  Waktu makan durian, kata bibi bijinya jangan dibuang, nanti kita rebus, rasanya enak seperti ubi.  Kulitnya juga jangan dibuang ketempat sampah, biar dikeringkan. Karena kulit durian dapat dibakar di kandang lembu sebagai pengusir nyamuk.  Semua berguna dimata bibi.  Dan dengan caranya ini, harta kekayaan bibi semakin bertambah.

          Ketika aku baru mulai kuliah di Yogyakarta, bapa tua (suami bibi),  meninggal karena sakit tua, dan sejak itu kondisi bibi pun semakin menurun.  Tahun keempat aku di Yogyakarta, aku mendapat kabar dari ibu bahwa bibi sakit keras.  Dan ketika beliau dipanggil Tuhan, aku tidak bisa pulang karena berketepatan musim ujian semester.  Kuingat semua yang telah kulakukan didalam mengimbangi kepelitan bibi, dan aku hanya dapat berdoa kiranya perbuatanku terhadap Bibi (yang pelit) diampuni Tuhan, serta mendoakan keselamatan arwah beliau. 

        Setahun setelah itu, aku berkesempatan pulang ke desa, aku tanya ibu mengenai harta benda almarhum bibi saya.  Lembu dibagikan kepada beberapa keponakan  yang kerjanya bertani.  Ada  yang memeliharanya dengan sungguh-sungguh, tapi ada juga yang malah diam-diam menjualnya.  Rumah dan sawah diserahkan kepada salah satu saudara sepupunya yang laki-laki.  Padang penggembalaan telah ditanami kayu jati putih oleh keluarga besar, sebagai lambang kesatuan keluarga.  Ibuku, sebagai saudara wanitanya terdekat mendapat satu periuk uang perak (Gulden) yang dikumpulkan kakek tua pada masa penjajahan.  Uang perak itu sudah dijual ibu kepada pedagang emas, dan telah digunakannya untuk merehab rumah kami.

        Itulah bibiku,  bersusah payah dia memelihara harta warisan ayahnya, dan menambahnya menjadi berlipat, kemudian dimasa tuanya, dibagi bagikan kepada banyak orang tanpa peersetujuannya, karena dia tidak membuat surat wasiat. Yang kusayangkan adalah, mengapa ketika bibi meninggal, aku tidak berada di kampung, sehingga aku tidak kebagian apa-apa. Itulah Bibiku.


Responses

  1. Wah…
    Cerita ini sangat menarik, Mas. Ada ya, orang yang sepelit Almarhumah Bibik? Tapi kasihan juga ya, ujung-ujungnya malah tidak mendapat apa-apa dan harta bendanya seolah menjadi panen raya tanpa tuan… ahh… sedih sekali..

    Tapi apapun,
    semoga alhmarhumah mendapatkan tempat yang layak di sisiNya, sesuai dengan amal dan ibadahnya. Amin.
    Sis:
    Banyak butir-butir hikmah kehidupan yang kupungut dari hidup berdekatan dengan bibik, karena dia tak pernah mau menyusahkan orang lain. Dan akhirnya dia menjadi orang yang berjasa ditengah-tengah keluarga besar.

  2. ya…harta dunia tak akan dibawa mati…tapi heran masih banyak orang selalu pelit dan mengejar-ngejar harta dunia…

    ya..renungan yang menarik buat kita semua!
    Sis:
    Bibik paling tidak suka dengan orang yang tidak mampu menghargai jerih-payah ataupun hasil keringat. Banyak orang disekitarnya yang butuh bantuan karena berkekurangan. Tapi menurut bibik, mereka menjadi berkekurangan karena MALAAAAASSSS, BOROS dan HIDUP TAK TERATUR.

  3. BIBIK ORANGNYA SANGAT PERFECT YA….SELURUH BAGIAN DURIAN SAJA PUNYA MANFAAT….
    Sis:
    Aku juga berpendapat demikian. Tapi karena tidak luwes, maka yang nampak sehari-hari adalah sifat pelit itu. Tapi bibikku ini sangat mandiri.

  4. Saya sudah baca kisah tentang bibi ini, dan dulu sudah nulis komen juga.
    Karakter manusia memang berbeda-beda, dan kita seharusnya memandang serta menilai seseorang dari sisi baiknya, sebab kita sendiri pasti tak lepas dari kekurangan. Begitu ya Bang?
    Sis:
    Bibik adalah orang yang sangat baik dalam segala hal, kecuali… itu tadi, peliiiit.

  5. tapi hebat juga bibik bisa mengelola semua hartanya itu…
    tapi yahhhh harta dunia ga akan dibawa mati..
    tapi pasti ada nilai2 positif yang tertinggal
    Sis:
    Ndah, umpama kamu dapat mertua kayak bibikku ini, gimana pendapatmu ?

  6. Tulisan yang menarik sekali Bang Sony, ada nilai yang bisa diambil dari cerita tersebut.
    Bibi pelit sekali sampai untukd diri sendiripun beliau pelit. Semoga dengan dibagikannya harta peninggalan bibi ini beliau mendapat limpahan pahala dari peninggalan yang bisa dimanfaatkan oleh semua keponakan dan saudaranya. Thanks
    Sis:
    Aku seneng banget, dapat kunjungan dari Amerika.
    Bibi sudah tenang disisi Tuhan. Kini perjuangan kita yang masih tertinggal di dunia ini. Dan apa yang terjadi ditengah-tengah keluarga, menjadi pelajaran berharga bagi kami semuanya.
    Merry Christmass buat Marvin ya.

  7. Menyentuh sekali Bang, ternyata begitu banyak yang bisa kita pelajari dari kehidupan karakter disekitar kita ya! Bahkan bibi yang terkenal pelitpun punya warisan nilai yang dapat kita terapkan dengan lebih baik sehingga tidak lagi menimbulkan dampak ‘pelit’. Di bayangan saya bibi pastilah pekerja keras dan orang yang ‘tangguh’ ya Bang!
    Sis:
    Tentang semangat hiup, bibi-lah contohnya. Kendatipun dia tahu bahwa warisannya pasti akan dibagi-bagi keluarga, dia tidak pernah kehilangan semangat untuk bekerja. Dan dia juga tidak mau berfoya-foya, walaupun itu bisa saja dia lakukan tanpa ada yang akan keberatan.

  8. wiiihh…. itu bibik nya beneran pak???
    ck…ck…ck… spechless deh sayah kalau liad orang pelit maaahh…😀, buat apa yach pelit² toh mati juga gak bakalan di bawa kaan??🙂 semoga yach pak bibi nya selamat dalam perjalanan yang ke 3 nya🙂
    Sis:
    Ly, biarpun bibik pelit, tapi aku sayaaaang banget sama beliau. Karena aku tahu cara menaklukkannya.

  9. Saya jadi ingat cerita Bobo si kelinci . (Bang Sony kira-kira tahu nggak ya…hihihi), kan ada tokohnya tuh bibinya yang bernama Bibi Titi Teliti… Kaya’nya bibi bang Sony ini cocok deh dikasih nama “Bibi Pelit Teliti” Soalnya beliau meskipun pelit tapi kan teliti….🙂

    Apapun beliau itu, akhirnya toh materi yang dimilikinya bisa menjadi berkat bagi orang-orang disekitarnya yah… mungkin caranya memang harus demikian.
    Sis:
    Ya itulah Tan yang kukagumi dari beliau, penghormatannya atas jerih payah dan kehidupan. Kalu dipikir, dia kan bisa saja berfoya-foya, toh dia nggak punya anak. Tapi dia sangat setia dengan ketentuan kehidupan, bahwa manusia harus berkarya dan hidup menghasilkan buah. Sementara “pewarisnya” kemudian, beraneka ragam bentuk dan hasil akhirnya.

  10. Betul kata mbak Tuti bahwa orang masing-masing punya kekurangan, dan di Bibi itu kepelitannya. Memang pinter2 kitanya aja bergaul dengan orang, buktinya pak Sony kan bisa ngatasinya heheheh
    Bahkan kita mustinya kasihan pada Bibi, mungkin dia begitu karena dari kecil terbiasa begitu dan merasa tidak perlu membina hubungan dengan orang lain.

    EM
    Sis:
    Bibi, orang yang tersaang, selalu dalam kenanganku


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: