Oleh: Sony | Desember 18, 2008

Cerita Warung Kopi

MENCARI KEPASTIAN DAN KEADILAN

Kelahiran anakku yang pertama, ibundaku datang menjenguk dari Medan ke Padang. Hal aneh yang pertama dilakukan ibu, yang membuatku tersenyum adalah, bahwa dia sangat khawatir dengan persediaan beras di gudang hanya 5 kg. Bagaimana bisa kamu tidur nyenyak kalau berasmu tinggal segantang, katanya. Begitulah rasa khawatir orang jaman dulu (yang pernah mengalami getirnya hidup pada jaman penjajahan Jepang), sehingga mereka sebagai petani akan berupaya menyimpan padi berlumbung-lumbung (takut mati kelaparan alias takut dengan ketidak pastian dalam kehidupan).
Rupanya kekhawatiran semacam itu menghantui semua lapisan masyarakat kita sehingga semua juga berupaya mengumpulkan perbekalan sebanyak-banyaknya. Mengapa demikian, karena pengalaman yang mengajarkan.
Tatkala saudara nenekku menyekolahkan seorang cucunya (terpaksa dia yang menyekolahkan karena ayah anak itu tidak sanggup membelanjai anaknya) di fakultas Kedokteran di salah satu Universitas Negeri, dibutuhkan uang ratusan juta sampai wisuda sarjana. Kemudian Ko-ass sampai dilantik jadi dokter, dibutuhkan lagi uang ratusan juta. Setelah itu, konon kabarnya ketika dia PTT di pedalaman juga butuh uang puluhan juta. Supaya tidak teraniaya, si dokter musda minta kepada neneknya untuk menjual rumah supaya dibelikan mobil. Karena katanya malu menjadi dokter tanpa mobil. Sudah itu untuk bisa menjadi PNS dan ditempatkan ditempat yang dia sukai, butuh biaya yang dirahasiakan jumlahnya. Untunglah neneknya mempunyai ruko tiga pintu, maka dijuallah dua pintu. Itu baru untuk satu cucu. Bagaimana dengan cucu lainnya ? Se4mua bilang Tidak Adiiiil, padahal satu cucu saja si nenek sudah ngosngosan.
Maka jika kamu jumpa dengan nenek itu, nasihat pertamanya pastilah : rajin mengumpulkan uang untuk anak cucumu.
Tentang ketidak pastian ini, rupanya menghantui orang yang mencari keadilan. Setiap kali aku mendengar kisah tentang orang yang mencari keadilan, selalu saja kedengarannya subyektif alias mencari keadilan menurut versi dia. Ketika seekor kodok kecil menceritakan ketidak adilan kepada kodok besar, maka dia dengan bersemangat mengutarakan keadilan versi dia. Bahwa dunia ini diciptakan penuh dengan ketidak-adilan. Mengapa hidup di rawa sangat tidak aman, bagaimana sang ular dengan enaknya memangsa kaum mereka, dan mereka tidak bisa membalas. Kadang-kadang kalau kemarau tiba, bagaimana sengsaranya hidup dirawa yang mengering. Huhhhhh sungguh-sungguh Tuhan tidak adil.
Tapi apa kata sang kodok besar ? Kamu jangan begitu kodok kecil, bukankah kamu sudah enak-enakan makan setiap hari di rawa ini. Nyamuk sudah tersedia begitu banyak, tinggal haaaap….semua menjadi beres. Lagi kamu harus ingat, bahwa ketika kamu dimangsa ular, itu sudah takdirmu, karena kodok sebagai makanan ular sudah kodratnya. Kalau tidak sudi jadi makanan ular, jangan jadi kodok, atau setidaknya menjauhlah kamu dari para ular itu.
Bahasa kodok tidak dimengerti oleh ular, maka dia tidak pernah tahu bahwa kodok sangat dendam dengan kaumnya, sebagaimana dia juga sangat dendam dengan burung-burung paruh dan kuku tajam seperti elang dan rajawali, yang selalu memangsa mereka. Dan ular-ular inipun tidak menyadari bahwa habitat burung pemangsa inipun sudah mulai terancam karena rantai makanan mereka juga terancam punah. Kalau ular sampai punah, maka dunia tidak adil dong bagi si burung rajawali, karena mereka kehilangan sumber makanan. Disitu ada ketidak pastian masa depan.
Cerita lain, ketika satu regu anak pramuka mengangkat beberapa buah batu untuk dijadikan pemberat tenda kemping mereka. Si kurus bilang supaya adil dia mengangkat batu kecil saja, biar sigendut mengangkat batu besar sesuai proporsi berat badan, dan si gendut protes, karena dia bilang badannya yang berat itu saja sudah beban bagi dia. Tapi ketika makan malam, si gendut minta porsi lebih besar karena tubuh dia membutuhkan energi lebih besar. Yang lain bilang tidak adil. Mestinya pembagian merata saja, karena sama-sama punya mulut satu. Kecuali kalau si gendut punya mulut dua. Inilah keadilan matematika.
Ada lagi keadilan versi komunis. Semua pekerja dengan jenis pekerjaan yang sama diberi penghasilan sama. Sama-sama petani, gajinya sama. Sama-sama supir truk gajinya sama.
Di negeri Demokrasi kita ini juga ada keadilan dengan versi tersendiri khususnya bagi Pegawai Negeri Sipil, ada yang disebut PGPS (Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil), dalam golongan/pangkat dan masa kerja yang sama maka besar gajinya sama. Maka kata teman-teman PGPS artinya Pinter Goblog Pendapatan Sama. Yang kemudian dirasakan tidak adil adalah ketika pendapatan itu tidak bisa melepaskan kaumnya dari kebodohan. Ada seorang teman membawa formulir Ujian Masuk perguruan tinggi melalui Jalur Khusus sambil menenteng kalkulator. Lalu dibujuknya pegawai lainnya untuk berkumpul mendengarkan keluh kesahnya. Kemudian dia berpidato : Sodhara-sodhara sebangsa dan sependeritaan (kata yang lain dalam hati..lho siapa yang mau setia menderita ama kamu?). Sungguh hidup ini semakin tidak adil. Lihatlah, ketika kita masih remaja, orang tua kita tidak sanggup menyekolahkan kita sampai perguruan tinggi, karena tidak cukup uang, walaupun uang kuliah sebenarnya kecil jumlahnya. Sekarang kita sudah pada sarjana dengan upaya kita sendiri (padahal sebahagian dari mereka melalui tugas belajar yang dibiayai pemerintah melalui kantornya). Tapi nampaknya anak para sarjana yang PNS ini akan sulit menjadi sarjana. (Apa pasal?). Coba lihat, ITB pasang tarif lima puluh juta, UI pasang tarif enam puluh juta, UGM pasang tarif empat puluh juta. Nah, kalau gaji kita cuma dua juta, berapa bulan kita tidak makan ? Pasti deh anak kita tidak kuliah di Universitas top itu. Jadilah mereka kuliah di perguruan tinggi pinggiran. (Kata yang lain, udaaaah buang aja kalkulator itu, nggak dihitung juga udah ketahuan). Ibarat bertinju nih, kita disuruh bertarung dengan tangan terikat, sementara musuh kita (perguruan tinggi/BHP/BHMN) dibiarkan kedua tangannya bebas, ya satu ronde saja kita sudah konock-out Ini baru satu sisi suram dari kehidupan kita.
Ketika seorang kenalanku yang memiliki kebun kelapa sawit seluas tiga hektar memberanikan diri membeli mobil Kijang secara kredit sebesar dua ratus empat puluh juta dengan angsuran empat juta sebulan, tiba-tiba dia terjerembab karena harga TBS yang tadinya Rp. 1.500,-/kg turun menjadi Rp. 300,-/kg. Padahal kredit masih dua puluh bulan lagi. Kalau harga TBS tidak pulih setidaknya Rp.1000,-/kg, maka mobil kebanggannya itu akan ditarik kembali oleh Auto 2000.
Ketika keponakanku memprediksi panen jeruknya yang 1500 batang dapat mencapai 60 ton musim panen Desember ini, terhenyak karena pupuk untuk pembesaran buah pada bulan Oktober kemarin hilang di pasaran, sehingga buahnya yang biasanya lima sampai enam buah satu kilogram, terpaksa mengerdil menjadi duabelas biji per kilogram alias kelas unyil dan tidak laku dijual.
Padahal, alam mengajarkan bahwa ulat bulu (yang gatal dan menjijikkan) itu sudah pasti akan menjadi kupu-kupu yang cantik, mengapa hidup yang dirangkai dengan bermandikan peluh ini bisa juga berubah menjadi hari-hari yang buruk ?
Ketidak-pastian hari esok, kondisi itu rupanya yang membuat orang terbujuk untuk berlomba-lomba menambah perbekalan hidupnya dan anak cucunya.
Dambaan sejatinya para PNS supaya hidup tenteram adalah:
1. Supaya kesehatan para PNS dan keluarganya dijamin secara serius. Artinya apapun penyakitnya supaya diobati dengan standard yang memadai. Jika harus diobati ke Amerika, ya diobatilah ke sana.
2. Supaya pendidikan anak-anak PNS dijamin penuh. Kalu memang anak tersebut mampu kuliah ke erkeley, atau ke Cambridge, atau Sorbonne, ya disekolahkan kesana.
3. Supaya anak-anak PNS ini diprioritaskan untuk diangkat menjadi PNS sesuai dengan kemampuan dan tingkat pendidikannya.

Dengan tiga syarat ini, mudah-mudahan tidak ada yang menjerit-jerit mencari keadilan Tuhan.


Responses

  1. Hmm… di dunia yang serba tidak pasti ini, apa jadinya kalau tidak punya iman sebagai pegangan hidup, siapa yang bisa dijadikan tempat bersandar selain Yang Maha Kuasa?

    Perlu iman yang besar dan bijaksana dalam menyikapi suatu keadaan, meskipun mungkin itu terasa tidak adil dan tidak ada kepastian. Dimana ada kemauan disitu ada jalan, bijaksana dalam perencanaan, sungguh-sungguh dalam melakukan tugas dan pekerjaan, evaluasi dan penyesuaian, maka hidup akan mengalir dengan damai sejahtera yang dikaruniakanNya.
    Sis:
    Memang betul Tan, orang tua kita sering memberi nasehat, jangan gelisah hatimu. Sebab, burung yang tidak menabur pun diberikan Tuhan makanan yang cukup, maka sandarkanlah harapanmu kepadaNya dengan sepenuh iman, supaya jiwamu tenteram.

  2. Kadang memang kita suka terseret keadaan masyarakat yang “panik” akan masa depan. Biasanya kalau sudah begitu saya pikir Que Sera-sera dan menyerahkan semua ke tangan Tuhan, smabil berusaha yang terbaik. Biasanya akan ada petunjuk jalan keluarnya

    EM
    Sis:
    Yang ingin kuutarakan, bagaimana sebetulnya mengelola rasa keadilan ditengah masyarakat yang cenderung merasa diperlakukan tidak adil.

  3. Bang Sis, aku ketawa membaca 3 harapan PNS yang Abang tuliskan. Bagi para PNS, harapan itu mungkin ‘masuk akal’ dan ‘sederhana’ saja, tapi bagi puluhan juta rakyat Indonesia lainnya yang bukan PNS? Adakah rasa keadilan bagi kami-kami yang bukan PNS ini?

    Bagi orang swasta, kalau 3 harapan PNS itu dipenuhi pemerintah, jelas akan timbul kecemburuan. Enak betul jadi PNS, dari sakit sampai kuliah ke Amerika ditanggung pemerintah, bahkan anak cucunya dijamin jadi PNS pula. Padahal banyak PNS yang kerja nggak karuan, seharusnya melayani masyarakat malah memeras masyarakat (tidak termasuk Bang Sis lho!).

    Lha kami orang swasta, kerja mati-matian masih diperas sana sini. Mana ada pemerintah memikirkan kami mau hidup atau mau mati? Mana ada subsidi untuk swasta?

    Pokoknya Bang, 3 harapan PNS itu lucu banget bagi telinga orang swasta … hehehe …
    Sis:
    Tut, kamu jangan nyindir dooong, mentang-mentang aku ini PNS kamu sindir habis-habisan. Gaji swasta kan udah besar, jaminan sosialnya juga udah ada, bahkan kalau anak-anakku dirawat di RS Elisabeth Medan, aku sering bertetangga dengan pasien rujukan PLN, Telkom, Inalum, yang semuanya biaya pengobatan dibayar kantor, sedangkan kami PNS kalau dirujuk ke Puskesmas, obat kosoooong. Jadi janganlah unjuk rasa dengan 3 harapan itu, dukung hayooo dukung siapa tahu mantumu besok PNS juga Tut.

  4. Wah…semoga bisa mencontoh Taiwan…setiap warga ada karrtu kesehatan (diberi nama Kempo)yang dibayar setiap bulan…yang sehat bantu yang sakit,yang kaya bantu yang miskin.

    Kempo dari bayi umur sebulan sudah mesti diurus dan mulai dibayar, kalau ke RS, biayar uang antri no sekitar Rp.30.000 obat tidak usah bayar karena dibayar lewat Kempo. kalau masuk RS ,ruangan biasa juga bayarnya murah, tapi kalau ruangan VIP ya dipotong sedikit karena Kempo diadakan untuk membantu yang tidak ada.

    Pegawai negeri disini dijamin bagus sekali baik kesehatan dan jiwa. Setiap Pegawai negeri memiliki auransi dari perusahaan. Kalau orang jadi pegawai negeri, berati orang terpandang. apalagi nanti uang pensiunnya buayaaaakkkkk.

    karena krisis, imlek, pemerintah membagikan 3600 Nts( 1000 Nts = krg lebih Rp.330.000) kupon belanja buat seluruh warga negara.setiap orang dapat 3600 Nts (ini yang saya salutkan dari negara Taiwan…kepentingan rakyat diutamakan)

    kalau orang tua diatas umur 65 tahun, kalau petani dapat tunjangan 6000 Nts dan orang biasa 3000 Nts
    (bukan petani, pedagang dll harta dibawah sekian….)

    Mudah-mudahan indonesia bisa mencontoh negara lain, perlahan-lahan mensejahterakan rakyat.

    Selamat Natal dan tahun baru Bang Soy dan keluarga!😀
    Sis:
    Ya, yang seperti itulah yang didambakan oleh para pendiri bangsa ini dahulu ketika memperjuangkan kemerdekaan. Tapi tidaklah fair Lin, kalau kita bandingkan Taiwan dengan Indonesia, kerna Indonesia itu bebannya sangat berat, penduduk penganggurannya puluhan juta, pengangguran terselubung puluhan juta, setengah menganggur puluhan juta, karena penduduknya sangat banyak. Jadi setidaknya ada upaya kearah yang baik, itusaja sudah sangat menggembirakan.
    Terima kasih salam Natalnya, salam damai untuk Lina semoga sukses diperantauan.

  5. Aku nggak nyindir Bang, bener. Swear.

    Pegawai swasta yang Abang lihat jangan pegawai BUMN yang kaya-kaya seperti PLN dan Telkom dong, tapi rakyat jelata yang bukan PNS, orang swasta yang mengais hidup dari usahanya sendiri. Rakyat jelata, orang swasta yang buka toko kelontong, bikin pabrik tahu, jualan buku, dan sebagainya itu, kan prosentasenya jauh lebih besar dari PNS. Kami kan rakyat Indonesia juga Bang, yang juga berhak untuk dipikirkan negara. Lha kalau negara cuma memikirkan kesejahteraan PNS saja, padahal uang negara kan uang seluruh rakyat Indonesia, dimana keadilan itu, Bang?

    PNS kan enak, kerja bagus atau kerja malas, gaji tetap diterima setiap bulan, pensiun pun ada. Bandingkan dengan penjual bakso, yang kalau nggak kerja akan mati kepalaran beneran. Bahkan kerja pun masih bisa rugi dan bangkrut. Dan kalau seorang penjual bakso bangkrut, anaknya sakit, butuh bayar sekolah, negara peduli apa?

    Jadi janganlah PNS menuntut terlalu banyak, Bang. Apakah adil, negara membiayai PNS dan keluarganya yang sakit sampai ke luar negeri, membiayai sekolah anak PNS sampai ke luar negeri, sementara empat puluh juta (mungkin bahkan lebih) rakyat Indonesia berada di bawah garis kemiskinan?

    Sis:
    Membandingkan PNS dengan Swasta, kayaknya seimbang saja. Saya punya sepupu tamatan IPB jurusan Kehutanan, awal tamat kuliah dia bekerja di sebuah perusahaan perkayuan di Sibolga, Sumatera Utara dengan gaji Rp. 4.200.000,- per bulan, bekerja lebih kurang empat tahun, dia test menjadi PNS di Departemen Kehutanan dan ditempatkan di Kanwil Kehutanan Prop. Sumatera Utara, (sekarang Dinas Kehutanan Propinsi), dan diangkat jadi CPNS tahun 1994 dengan gaji pokok 20% x Rp. 88.000.-
    Saat ini dengan pangkat III/d masa kerja 14 tahun dia mendapat gaji pokok Rp. 1.986.000,- dengan tunjangan 40 kg beras, tunjangan istri 3% dan tunjangan anak 2%.Perlu diketahui bahwa pendapatan itu akan dipotong untuk Bapetarum , Potongan untuk Taspen, Potongan untuk Askes. Memiliki anak dua orang, SMP kelas IX dan SD kelas VI, kebutuhan setahun operasional hampir lima puluh juta setahun alias empat juta lebih dalam sebulan.
    Untuk memenuhi kebutuhan itu, isterinya berjualan kain loak di pasar tradisional. Akhir-akhir ini pakaian bekas eks luar negeri sudah dilarang, sehingga isterinya beralih profesi menjadi pedagang sayur di Pusat-pasar (Pajak Sentral Medan). Berjualan sayur jam kerjanya adalah pk. 02.00 sampai pk 08.00 pagi. Dia jadinya tidak pernah jumpa dengan anaknya (nanti saya buat postingan khusus untuk itu). Sebenarnya dia menyesal meninggalkan pekerjaan swastanya dan masuk menjadi PNS.
    Riawat sang Insinyur, bisa kuliah di IPB melalui jalur PMDK, karena ayahnya agen pupuk yang cukup berhasil di salah satu kecamatan di Kabupaten Simalungun, selesailah dia kuliah. Tapi kenyataannya, sampai beranak dua, masih disubsidi oleh orang-tua yang wiraswasta itu. PNS yang Insinyur itu ibarat menunggang kambing, berita menunggangnya saja yang heboh, nikmat menunggangnya sama sekali nggak ada, karena kakinya sendiri juga yang menopang badannya.
    Ini perhitungan terhadap Insinyur, bagaimana dengan nasib pegawai golongan I dan II, yang gajinya hanya mencapai satu juta rupiah per bulan ? Sedangkan dia mengabdi kepada negara yang kaya raya ini.
    Tiga impian itu bukan tuntutan tapi angan-angan, soalnya di Taiwan itu bisa terjadi kata Lina, dan PNS kelas ekonominya lebih rendah dari swasta. ?

  6. Bang, rupanya kita memandang permasalahan ini dari dua titik yang berbeda. Bang Sis membandingkan antara PNS dan pegawai perusahaan swasta besar (dari seseorang dengan kapasitas kemampuan yang sama), sedangkan aku membandingkan PNS dengan mayoritas rakyat kecil yang tidak beruntung menjadi PNS dan harus mengais kehidupan sendiri. Ya nggak bakal ketemu.

    Kesimpulannya, setiap orang cenderung memandang suatu permasalahan dari sisi masing-masing. Yang kita perlukan adalah memahami dan menghargai pandangan orang lain, bukankah demikian?

    Maafkan aku jika telah menuliskan kata-kata yang tidak berkenan dihati Abang.

    Sis:
    Tuti yang manis.
    Silang pendapat itu tidak menghalangi kita untuk saling berpelukan kalau memang saling merindu. Tentang kebenaran sejati, itu adalah milik yang maha kuasa. Dan tentang pembenaran pendapat itu, dia bergantung tempat dan waktu. Dia bisa saja berubah jika tempatnya berpindah dan waktunya berbeda.
    Istilah premannya: Kalau main dorong-dorongan, aku minta di bagian atas, kalau main tarik-tarikan, aku minta di bagian bawah… ha..ha..ha..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: