Oleh: Sony | Desember 19, 2008

Cermin Kehidupan

BEHIND A BIG FORTUNE IS A CRIME

 

Anda seorang penggemar Al Pacino ? Atau Frank Sinatra ? (Nampak banget jadulnya ya!!!). Jika iya, dan anda juga penggemar film  The God Father, maka anda mungkin pernah melihat tulisan ini di  salah satu dinding kantornya Don Corleone, itu tu, yang jadi boss nya mafia di Amerika masa dulu. Behind the Big Fortune is a Crime.  Dan kayaknya kata-kata ini mengandung kebenaran yang nyata. Jadi, jika anda ditawarkan bisnis atau obyekan yang untungnya spektakuleeeer, berhati-hatilah, besar kemungkinan dibaliknya itu ada kejahatan.  Atau jika anda ditawarkan pekerjaan yang sangat ringan, tidak perlu keterampilan atau latar belakang pendidikan khusus, tapi gajinya besaaaaar, cermatilah… barangkali pekerjaan itu adalah pekerjaan melawan hukum.  Atau anda di sekolah dapat bermalas-malasan, nggak ngerti apa-apa, tapi nilai rapportnya sembilan dan sepuluh semuaaaanya, barangkali orang tua anda menyogok guru-guru (dan celakanya mungkin ada pula guru yang mau disogok) atau setidaknya orang-tua anda pemilik yayasan pendidikan itu.  Sekali lagi, behind a big fortune is acrime. Berjualan kangkung atau daun ubi, seikat paling untungnya lima ratus rupiah, tapi kalau berjualan daun ganja satu ikat bisa lima juta rupiah.  Sayang, berjualan daun ganja adalah perbuatan melawan hukum dan merugikan seluruh komponen bangsa.  Besar memang untungnya, tapi itu tadi, dia adalah perbuatan kriminal. (Cuma ada yang nyeletuk, yang haram aja tinggal sedikit, konon pula yang halal).

Mari kita berkaca dengan kehidupan sehari-hari.  Tatkala ada yang menjanjikan kita keberuntungan yang menggiurkan, maka mata kita menjadi gelaaaap.  Makanya banyak orang tertipu dengan bujukan dukun palsu yang mengaku bisa menggandakan uang.  Sebenarnya akal sehat kita sudah membisikkan, kalau memang dia bisa menggandakan uang kenapa bukan uangnya, uang saudara-saudaranya saja yang digandakannya.  Tentulah dia sudah berhenti jadi dukun dan sudah berleha-leha ke Hawaai, ke Venezia, atau paling tidak ke Jimbaran Bali, berjemur-jemur dipantai dengan kacamata hitamnya. Tapi  akal sehat itu kadang-kadang ditutupi oleh ambisi jadi orang kaya, dan kesehatan akal kitapun rusak atau minggat sehingga kita kehilangan akal, dan akhirnya uang yang nggak seberapa itupun digondol dukun.  Di pengadilan sang dukun akan berdalih bahwa dia tidak jahat-jahat amat, karena dia hanya menipu orang serakah. Kalau mereka tidak serakah, pastilah mereka tidak tertipu, kata sang dukun palsu.

Di sekitar kami di dataran Pantai Timur Sumatera, konkritnya di Tanah Deli dan Tanah Langkat, banyak juga orang-orang yang terperdaya karena iming-iming janji gombal bergambar untung besar itu.  Bahwa banyak orang mau mengeluarkan uang untuk menjadi anggota penggarap tanah perkebunan (HGU) dengan  janji bahwa dia dekat dengan orang dalam (entah dalam yang mana maksudnya), harga tanah murah saja, satu juta satu patok,  nanti kalau perjuangan sudah berhasil, tanah pasti dapat surat sertipikat.  Maka para penggarap yang lapar tanahpun menjual anting-anting istrinya supaya masuk daftar anggota. Maka si calo pun membuat stempel organisasi, dan menyurati seluruh instansi terkait mulai dari lurah sampai Sekjen PBB, termasuk Komisi  Human Right se jagad raya.  Kalau ada diantara surat itu yang dibalas, naaaaah itu digunakan lagi sebagai senjata baru.  Perjuangan kita hampir berhasil, mari kumpulkan uang lagi, supaya aku berangkat ke Jakarta (bila perlu ke New York), memperjuangkan misi kita ini. Kumpuuuuul lagi duit dari para petani lapar tanah ini. Bila perlu dia pasang badan, teriak-teriak memaki-maki para pejabat yang berwenang baik langsung melalui unjuk rasa maupun melalui mass-media sebagai pertanggung-jawabannya kepada anggota yang telah membayarnya. Nah, demikianlah terus menerus, presidenpun ganti beberapa kali, gubernur pun ganti beberapa kali, menteri pun ganti beberapa kali, perjuangan tetap perjuangan.  Lama-lama sang pejuangpun menghilangkan diri, karena sudah dicurigai anggotanya.  Atau sebaliknya, rakyat mencabut kuasanya.  Tapi terlihat jelas mau untung jadi buntung,  terlalu berharap malah tertiarap.  Semua gara-gara tergoda untung besaaaaar.

Tahun delapanpuluhan, ketika Terminal Bus di Yogyakarta masih di Jl Brigjen Katamso yang dulu dikenal dengan istilah Standplaat, aku memperhatikan banyak tukang becak  mangkal di Pojok Beteng Wetan. Nah, kalau datang Bus dari arah  Jl Kol Sugiono, pas dipersimpangan  atau pojok beteng itu, pasti bus melambat, dan para tukang becak itu berebut naik keatas bus menawarkan becaknya. Becak mas, becak mbak, becak bu…becak..becak..becak.  Dari sepuluh tukang becak yang naik, satu dua orang dapat penumpang.  Tapi ada juga yang apesss terus, sampai setengah hari nggak dapat penumpang.  Padahal, kalau didayungnya becaknya ngalor-ngidul, mungkin dia sudah dapat lima atau enam penumpang.  Apa yang menyebabkan mereka betah mencegat bus itu ?  karena kalau dapat penumpang, pasti ongkosnya mahal.  Karena bawa koper atau paling tidak tas guede, dan pasti datang dari jauh atau barangkali dari Jakarta, atau Bandung.  Tapi itu tadi, mengharap-harap ongkos besar, seharian malah nggak dapat penumpang.  Orang Medan bilang, mencari rejeki harimau, sekali dapat bisa buat jatah seminggu.  Tapi keseringan nggak dapat.

Oleh sebab itu, didalam hidup ini kita harus mencoba memperkecil fikiran-fikiran untuk mendapat kemujuran saja, sebaiknya  arahkanlah fikiran kita kepada peluang-peluang yang memberikan hasil yang wajar tapi berkesinambungan.  Biarlah yang menanam yang memanen. Siapa yang memasang bubu, biarlah dia yang memungut ikannya. Siapa  Janganlah terus memutar otak kotor kita untuk memanen tanaman orang lain.

 

 


Responses

  1. Yang pasti segala sesuatu butuh waktu dan tenaga. Tanpa itu pasti ada “apa-apanya”. Sayangnya orang Indonesia tidak mau menggunakan waktu dan tenaganya untuk berusaha memperbaiki dirinya. Maunya serba instant dan gratis. Dua kata yang sulit hilang dari masyarakat Indonesia.

    salam saya pak
    EM
    Sis:
    Sudah terbiasa dengan belas kasihan dari para penderma, itu makanya disluruh dunia, pengemis paling banyak ya di Indonesia.

  2. Wahaha … tulisan Bang Sis maju pesat nih. Content maupun bahasanya … yuhuiii …. asyik.

    Iya, betul Bang. Masyarakat kita ini enggan bekerja keras, maunya cepat kaya, cepat sukses. Makanya kisah orang yang tertipu dukun penggandaan uang, tertipu investasi fiktif, dan sebangsanya, nggak habis-habis.

    Sekarang ada jalan tol baru untuk menjadi kaya Bang, yaitu politik. Dengan menjadi politikus, orang tidak saja memiliki kekuasaan tapi juga uang. Anggota DPR dan DPRD itu gajinya puluhan juta, nggak jelas apa kerjanya, dan terjamin penghasilannya selama 5 tahun. Siapa nggak pengin? Makanya sekarang orang mati-matian berebut jadi caleg …
    Sis:
    Sabtu kemarin, kami berempat ke kampung ziarah sekalian nengok kebun, eh disimpang ada baliho besar, kubilang sama istri, itu bibik R juga nyalon tuh.. kata istri mana dia itu ? mendekat… ya memang dia.. anak paman ayahku. Komentar istri, apa sih yang dicari bibik, uang suami aja tumpah ruah nggak tahu dikemanain, masih ngerepotin badan lagi. Kubilang dia bukan lagi cari uang, dia sedang membeli Kehormatan, Harga Diri, Status Sosial. (Suaminya adalah dokter Obgin terlaris di Medan, pasien rata-rata 100 orang per hari, coba kalikan Rp. 150.000,- hampir lima belas juta mulai jam 15.00 sampai 21.00.) Jadi memang ada juga yang mencalon untuk cari uang, tapi ada juga yang cari pekerjaan. (Buktinya: ketika dia lulus test CPNS kemaren, dia langsung mengundurkan diri dari Caleg).

  3. cerita yang bagus sekali bang…(akh…tidak konsisten nian aku…he…maaf bang, tadi2 rasanya masih segan, benar, sudah terlalu lama berada di dunia ini…membaca tulisan abang berkali2, jadi familiar lagi dan merasa dekat…he…..)

    sayang sekali ya, begitu banyak orang berpikir demikian. saya mengalami sendiri cerita dengan tukang becak dijogja itu…mudah2an sekarang sudah tidak lagi…biar bagaimanapun itu memang sudah menjadi karakter orang yang mau gampang bang.

    Sis:
    Iya Nad, aku kadang-kadang sedih melihat cara mereka memandang hidup, walaupun dalam kondisi prihatin, akal bulus juga yang dipelihara. Tapi kita nggak oleh cepat putus asa, apa yang bisa diperbaiki kita perbaiki. Dimana kamu selama ini Nad ?

  4. Salute…. I love to read all of your words, sentences, paragraphs, and the way you put them together with in-depth analysis and concrete examples of “Philosophy of Life”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: