Oleh: Sony | Desember 19, 2008

Kisah Si Cerdik Cendakiawan

LPJ versi CENDAKIAWAN

 

Kisah ini kudapatkan waktu aku masih Sekolah Dasar, dari dongeng lama, yang sekarang kuceritakan  kembali dengan kata kataku sendiri.  Aku sangat terkesan dengan cerita ini, karena menurutkau tema dan misi yang dibawanya tidak pernah lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh panas alias tidak pernah ketinggalan zaman. Kupilih judul Laporan Pertanggung Jawaban sang Cendakiawan, karena bulan Desember sekarang ini merupakan saat-saat sibuk menyusun Laporan Pertanggung Jawaban para Satuan Kerja dan Pemerintah Daerah.

Cendakiawan adalah seorang laki-laki yang imut dan tampan, cerdas dan mempunyai penampilan yang sangat menawan bagi lawan jenisnya, dan sangat menyenangkan bagi sesama lelaki, karena supel dan perlente.  Karena kisah ini setting waktunya juga memang dimasa kerajaan-kerajaan zaman dahulu, maka plot ceritanya juga sewarna dengan zamannya.

Al kisah, Cendakiawan dalam pengembaraannya dari satu negeri ke negeri lain, terdamparlah dia ke satu kerajaan yang saaaaangat makmur.  Ketika Cendakiawan memasuki gerbang kota itu, maka prajurit pengawal pintu gerbang langsung menahan dan memeriksanya.

         Saudara datang dari mana ? tanya sang prajurit.

                               Aku dari negeri antah berantah.- jawab Cendakiawan.

                     Maka terjadilah dialog antara mereka, dan nampaknya Cendakiawan mengatakan bahwa dia adalah tamu undangan sang Raja, penguasa negeri itu.  Dan konyolnya, sang prajurit percaya penuh tanpa curiga, bahkan dia bersedia  mengantarnya ke gerbang istana raja.  Nggak tanggung-tanggung Cendakiawan mengibuli semuanya, sehingga diapun oleh penjaga istana dibawa kehadapan raja.

                     – Sebelumnya, ampunkan hamba baginda, karena datang tanpa memberi khabar terlebih dahulu. Tapi ijinkanlah hamba menyampaikan salam hormat dan persaudaraan dari Raja negeri hamba.- sembah  Cendakiawan sambil menunduk-nunduk bersimpuh ke lantai.

                     Sang raja pun mengangguk-angguk dan dengan bangga menatap seluruh para penteri dan pangeran disekitarnya, sambil memelintir kumisnya.  Nampak raja itu amat garang tampangnya.

                     – Jadi, adapun kedatangan hamba ke kerajaan tuanku adalah sebagai utusan Bginda Raja kami, untuk menyampaikan  hadiah berupa lukisan baginda dan Permaisuri, sebagai hadiah ulang tahun Baginda Raja.- ujar Cendakiawan pula. Terdengar olehnya bisik-bisik para pangeran yang keheranan karena sebenarnya ulang tahun raja masih lima bulan lagi.

                     Dan hasil Cendakiawan nguping segera diolah oleh otaknya yang encer.

                     – janganlah baginda gusar, memang Raja kami tahu Baginda akan berulang tahun masih lima bulan lagi.  Tapi karena untuk melukis wajah baginda dan permaisuri membutuhkan waktu  hampir lima bulan, maka hamba mengambil kebijaksanaan untuk segera datang ke istana Baginda.- ujar Cendakiawan pula. 

                     Raja terpukau dengan segala ocehan Cendakiawan, sehingga iapun menyetujui dilaksanakannya pembuatan lukisan di dinding istana.

                     – Kisanak Cendakiawan, ingsun (emangnya raja Jawa, ini kan cerita Melayu), aku sudah mendengar penjelasanmu dan aku setuju.  Kamu akan dilayani di istana sebaik-baiknya, dan kamu harus menyelesaikan tugasmu dengan baik.  Tapi jika hasilnya mengecewakan aku, maka kutitahkan hukumanmu hukuman pancung.- bagai disambar petir rasanya dikuping Cendakiawan mendengar titah raja.  Tapi dasar mental sudah begitu kuat, dia hanya mengangguk membungkuk tanda setuju.

                     Dengan menampung berbagai usul, akhirnya Raja memutuskan supaya semua keluarga istana, Raja, Permaisuri, Pangeran-pangeran, Putri-putri, semua dilukis pada sebuah dinding yang paling megah didalam istana raja. Maka langkah pertama yang diminta Cendakiawan adalah meminta seluruh kerabat istana yang akan dilukis, berdandan segagah dan secantik mungkin dan berpakaian semegah-megahnya, dan besok pagi berkumpul diruangan tempat dinding yang dilukis agar ditata letaknya seserasi mungkin.  Semua setuju.  Maka malam itu Cendakiawan sudah diberikan kamar yang mewah berikut pelayan dan makanan yang berkelas istana.

                     Singkat cerita, besok paginya semua sudah berkumpul di istana.  Maka oleh Cendakiawan ditatalah susunannya sesuai dengan jabatan pangkat dan derajatnya masing-masing.  Kemudian Cendakiawan membuat sket satu persatu diatas kertas konsepnya (kita tidak tahu, serius atau pura-pura).  Kemudian oleh Cendakiawan diperbolehkan pulang satu persatu.  Cuma sebelum pulang Cendakiawan sempat berpesan bahwa kegiatannya melukis dipersyaratkan dengan Tapa Geni, maka supaya dinding itu harus ditutup dengan kain, dan sebelum sampai waktu yang ditetapkannya, siapapun tidak boleh membuka tirai itu.  Apabila dibuka sebelum jatuh tempo (emang kredit), maka lukisan itu akan pudar kena cahaya matahari.  Dan selama bertapa dia tidak boleh diganggu kecuali atas permintaan Cendakiawan sendiri, supaya tidak merusak konsentrasi.  Dan permintaan inipun diamini oleh Baginda Raja sebagai Perintah Raja..

                     Maka ketika Cendakiawan sudah beristirahat di kamarnya,  tiba-tiba datanglah seorang utusan yang mengaku utusan raja.  Utusan itu menyampaikan pesan Raja, supaya hidung Raja yang agak pesek itu dimancungkan sedikit supaya tambah gagah.  Begitu juga rambut Permaisuri yang sudah beruban dihitamkan supaya kelihatan muda jelita. Cendakiawanpun menyanggupi, dan pulanglah utusan itu dengan gembira. Belum lama utusan itu pergi datang lagi utusan dari Perdana Menteri, yang berpesan agar wajah Tuan Perdana Menteri yang bopeng itu dihaluskan supaya nampak gagah. Cendakiawanpun menyanggupi. Belum lama utusan itu pergi datang lagi utusan dari Pangran Tua, yang berpesan agar wajah Isteri pangeran yang ada tompelnya di pipi dihapuskan  supaya nampak semakin jelita. Cendakiawanpun menyanggupi. Demikianlah sejak siang sampai maghrib Cendakiawan menerima utusan para anggota keluarga istana yang mau dilukis itu, agar semua kelemahan dan kekurangannya dapat ditutupi, dan konyolnya Cendakiawan tetap menyanggupi.

                     Lelah menerima utusan – utusan itu, Cendakiawan merebahkan dirinya diatas kasur sambil mengeluh.

                     – Huh.. semua minta gagah, semua minta cantik.  Kalau begitu lebih baik tidak kulukis saja.- ujar Cedakiawan sambil mengipas-ngipaskan topinya ke wajahnya.

                     ***

                     Singkat cerita, selama lima bulan itu, Cendakiawan kerjanya hanya makan minum saja di Istana Raja.  Segala makanan yang enak-enak disuruhnya hidangkan dan segala kesenangan-kesenangan istana dinikmatinya dengan santai.  Tapi lukisan itu belum juga dikerjakannya walau satu gores pun.  Sementara Baginda Raja dan Permaisuri beserta sekuruh penghuni Istana menunggu dengan tidak sabar, saat-saat  penyaksian lukisan itu.  Hampir siang malam itulah yang menjadi pergunjingan di kerajaan itu.  Maka karena sudah tidak sabar, Raja memerintahkan Perdana Menteri untuk memanggil Cendakiawan.

                     – Kisanak Cendakiawan, karena seluruh isi istana sudah tidak sabar menantikan saat pembukaan tirai lukisan itu, maka kuperintahkan agar lukisan itu kita buka besok pagi.- titah  Raja.  Cendakiawanpun menyanggupi, tapi ada peryaratannya, yakni penyaksiannya harus dihadapan seluruh lapisan rakyat yang ada di Kota Raja, baik dayang-dayang, serdadu, pedagang, petani dan lain-lain yang bisa masuk ke Istana.  Walaupun merasa aneh, Raja menyanggupi, dan diperintahkannya para prajurit untuk mengumumkan kepada rakyat agar hadir di istana untuk menyaksikan lukisan raja dengan pangeran-pangerannya.

                     Keesokan harinya,  seluruh rakyat berjejal-jejal di Balairung Istana, dimana tembok tertinggi yang sudah ditutup tirai akan dibuka.  Maka sebelum tirai dibuka dihadapan Baginda Raja dan seluruh rakyat, berpidatolah Cendakiawan.

                     – Bagida raja dan para pangeran yang hamba sembah.  Mengerjakan Lukisan Keluarga Istana, sudah sewajarnya diperlengkapi dengan persyaratan Tapa, Semedhi, dan Penyatuan Jiwa bersama dayang-dayang Kahyangan.  Dan bersyukurlah kita, Lukisan ini selesai tepat waktunya.  Karena Lukisan ini adalah lukisan yang sangat luhur, terus terang kukatakan Baginda,  hanya yang benar-benar berdarah ningrat dan berdarah biru yang mampu melihatnya.  Jika dia hanya rakyat jelata biasa, saya pastikan dia tidak akan melihat wajah baginda raja didalam lukisan ini. – demikianlah pidati Cendakiawan didengar oleh seluruh rakyat.  Maka oleh Cendakiawan dibantu para prajurit dibukalah tirainya, dan… yang nampak hanya tembok putih bersih.

                     Maka kaum rakyat jelata satu-persatu meninggalkan istana dan bergumam mengamini bahwa mereka memang benar-benar bukan keturunan ningrat atau darah biru, karena terbukti mereka tidak melihat apa-apa kecuali tembok putih.

                     Sang Baginda Raja juga sebenarnya tidak melihat apa-apa.  Tapi dengan cepat otaknya bekerja, kalau dia katakan dia sendiri tidak melihat apa-apa, berarti dia juga bukan keturunan ningrat atau darah biru, dan tidak pantas jadi raja.  Demikian juga dengan para pangeran, khuatir dituduh bukan ningrat, maka mereka semua pura-pura melihat wajah mereka terlukis di dinding itu, dan merekapun bersalam-salaman.  Semua memuji-muji kegagahan masing-masing didalam lukisan itu.  Cendakiawanpun pulang ke kamarnya dengan senyum puas. Pesanan telah dipenuhi dan dipertanggungjawabkan. LPJ diterima.

                     Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, Cendakiawan berpamit kepada Raja untuk meneruskan perjalananya.  Rajapun mempersilahkan dia cepat-cepat menyingkir sebelum semua tahu rahasia mereka berdua.

                     Sekian untuk direnungkan.

                      


Responses

  1. Wah, pasti aku nggak akan bisa melihat lukisan itu, soalnya aku bukan berdarah biru, darahku golongan A !!🙂
    Sis:
    Ssssssst (rahasia), sebenarnya Raja itupun tidak melihat apa-apa. Tapi dia tahu, kalau dia juga bilang nggak ngelihat, maka pastilah rakyat akan mendaulat dia untuk lengser keprabon. Maka terpaksalah dia bilang “melihat”, termasuk pangeran-pangerannya juga demikian. Dan Cendakiawan faham betul akan masalah ini.

  2. Aku ingin menjadi anak
    yang bisa berteriak
    KOK TIDAK ADA APA-APANYA SIH????”

    seperti cerita the Naked King
    hhehehe
    salam saya pak

    EM
    Sis:
    Memang orang yang memiliki banyak embel-embel dalam hidup baik sosial budaya maupun ekonomi, bebannya semakin berat. Dan bagi orang yang sangat bersahaja, semua menjadi sangat simple dan praktis. Kejujurannya jauh lebih polos daripada kejujuran orang berperadaban yang tinggi, yang membutuhkan kepura-puraan dan sandiwara.

  3. Wakakakaka …. cerita yang lucu sekali. Betul kata Mbak Imelda, ini seperti cerita The Naked King, kisah seorang raja yang minta dibuatkan pakaian yang paling indah, padahal ia sebenarnya telanjang alias tidakmemakai apa-apa ….
    Sis:
    Menjadi seorang raja (pemimpin) rupanya membutuhkan persyaratan yang sangat komprehensif. Maka untuk mimpi menjadi raja saja sudah berat tanggung-jawabnya.

  4. Raja bisa dikerjai juga..

    ^_^
    Ya bisa dong. Raja kan asalnya anak raja, nggak perduli dia lulusan SD atau lulusan Harvard. Tiba jatuhnya kerajaan ama anak raja yang rada-rada idiot, bisa aja… kan? Udah di Medan kamu sekarang Ndah ? Trus itu undiannya, aku menang nggak ?

  5. hi..hi..hi….nyindir nih…ye….
    Sak tenane../..sebenarnya dalam kehidupan memang banyak yang menyukai demikian pak Sony, hidup diangan angan…dengan seolah olah…juga mumpung kalau bisa di pol pol kan….Mumpung bisa berkuasa,bisa memerintah..mumpung masih menjabat…he..he….
    Sis:
    Kalau berdasarkan pengamatanku, Bu yah tidak pernah mengirim utusan kepada Cendakiawan mengenai upaya poles-memoles, karema Bu Dyah sudah senang dengan kondisi yang sebenarnya. Gitu kan Bu ? Selamat berkarya sampai garis finish.

  6. Waaaa…cerdik juga cendikiawan itu ya….
    Sis:
    Hajimemashite.
    Mata irasshite kudasai.
    Ha..ha… aku senang dengan kata-kata ini yang kucomot dari blognya Ratna. Arigatou gozaimasu.

  7. Untuk menyelamatkan “Tahta” rela melakukan apa aja termasuk dibodohi hehe…. gakpapa sing penting langgeng lahh…

    Pokokek kalo otak jalan, kertas buram dapat tampak putih bagi orang lain…yang penting kan kerjasamanya. (dalam hal ini, kaki-tangan) …

    Critanya lucuu.. dua karakter yang saling manipulasi dan menjerumuskan hihihi…
    Sis:
    Sekali-sekali kita tersenyum simpul ya Mbak Rita, menyaksikan penghuni dunia ini kadang-kadang mencari-cari alasan supaya diperbolehkan untuk berbohong, atau menipu alias ngibul. Seperti seseorang yang kehilangan sendalnya di masjid, kemudian dia mencuri sepatu orang lain. Ketika ditanya : mengapa kamu mencuri, maka dia akan menjawab : abis… sendalku juga dicuri orang kok !

  8. Ya..untuk kehidupan yang baik…banyak cara dilakukan orang salah ,suatu kelicikan…tapi dengan cara begitu , hati nurani juga akan merasa tak tenang dan bahagia…dan kebahagian itu hanya sementara, karena lambat laut akan terbongkar juga!
    Sis:
    Hiya Lin bak kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, sekali-kali jatuh juga. eperti orang menyembunyikan buah durian, baunya tercium ke rumah sebelah. Kok lama nggak OL Lin ?

  9. hehehe….inilah yang terjadi kalau kedudukan lebih penting daripada kebenaran!…semoga wakil 2 kita yang duduk dipemerintahan tidak berkarakter seperti raja dan para pangerannya ya!

    Sis:
    Ah Nadin, jangan dikira mudah menjadi raja yang jujur. Bisa-bisa kerajaan kehilangan raja (apalagi kalau dia ngaku bodoh).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: