Oleh: Sony | Desember 25, 2008

INIKAH NAMANYA SALAH KAPRAH ///

PERCUMA alias USAHA YANG SIA-SIA ?

 

              Kata-kata diatas merupakan kata-kata yang sangat tidak diingini oleh siapapun.   Tapi yang dimaksud dalam tulisan ini adalah satu usaha yang nampaknya dilakukan dengan serius namun tidak paripurna.

Satu pagi, sebagaimana biasa aku dengan isteri jogging dijalan lingkungan tempat kami tinggal.  Ada satu ruas jalan lurus  sepanjang 1.250 m,  bersih dan sepi.  Satu lagi, disini tidak ada anjing berkeliaran, sehingga sangat cocok untuk dijadikan trek lari pagi atau jogging.  Aku biasanya melakukan jalan cepat di trek ini sebanyak dua kali pulang balik atau sekitar 5000 m.  Nah pada hari Selasa kemarin, aku menjumpai seorang laki-laki  dengan berumur kurang lebih enam puluh tahun, menggunakan training suit, bersepatu kanvas, berjalan layaknya orang berolah-raga pagi, tapi tingkahnya sangat mengherankan, karena dia berolah raga sambil merokok.  Dibawah sinar lampu jalan yang berwarna kuning kemerah-merahan,  kepulan asap rokoknya bergerak naik keudara karena memang sepagi itu belum ada tiupan angin.  Mataku lekat menatapnya sambil melangkah cepat, dan istriku mengingatkan jangan sampai leherku patah berputar.  Hanya dalam hatiku, apa yang diinginkan  bapak yang satu ini ?  Kepada istrinya atau anaknya pastilah dia katakan : aku berangkat olah raga…. Olah raga yang salah kaprah.

              Ada satu cerita  tentang  kepatuhan terhadap nasihat dokter.  Adalah seorang laki-laki yang mengidap penyakit penyempitan pembuluh darah – angina pektoris – yang membuat kondisi jantungnya menjadi tidak sehat.  Menurut nasihat dokter, sebaiknya  si bapak ini berolah-raga mengelilingi Stadion Teladan, (kebetulan rumahnya memang di Jalan Turi, dekat stadion itu), setidaknya dua kali putar dalam satu hari.  Tidak usah cepat, lambat saja atau kira kira satu jam untuk dua kali putaran.  Maka diapun menyanggupi.  Keesokan harinya, sekitar pukul tujuh pagi keluarlah dia dari rumah menuju Stadion Teladan, dengan menaiki becak langganannya.  Sampai di stadion, disuruhnya tukang becak mendayung becaknya lambat-lambat sehingga dapat dua kali putar dalam satu jam.  Kemudian mereka pulang.  Sebulan kemudian dia kembali diperiksa, penyakitnya tambah parah, sehingga si dokter heran. Usut-punya usut, rupanya terjemahan mengelilingi stadion sudah salah kaprahi.

               Cerita lain, yang termasuk usaha sia-sia  adalah tentang seorang tukang pedati yang sedang mengangkut  padi dari ladang menuju ke kampung.  Karena jalan juga tidak begitu bagus, lagi beban bawaan juga sangat berat, terasa hentakan kaki kerbau begitu berat dan kelelahan.  Maka timbullah niat si kusir pedati untuk meringankan beban kerbaunya.  Maka dipikulnya-lah satu goni di pundaknya (maksudnya agar kerbau tidak terlalu berat bebannya), tapi dia tetap diatas pedati.  Pundaknya kejang kecapaian, beban kerbau sama  sekali tidak berkurang.  Kaprah apa ini namanya ya ?

Cerita berikutnya adalah tentang upaya mengikuti ketertinggalan saat kuliah dulu.  Banyak temen-temen karena keasikan berorgan isasi, rapat sana-rapat sini, sampai-sampai  ketinggalan mengikuti kuliah.  Nah, menjelang ujian (zaman dulu istilahnya tentamen),  semua  ketertinggalan catatan kuliah dipinjam sama teman, kemudian terbang ke tempat fotokopi.  Maka dibawalah kerumah satu kardus fotokopi catatan.  Tapi ternyata tidak juga dibaca, apa gunanya yaaaa?

              Ada lagi yang lebih ngawurrr, itu sobatku Guntur yang sekarang tinggal di Kepulauan Riau…. Halo Pak Guntur.!!!!!!!  Ketika kami masih bujangan (belum beristri), kami tinggal di Mess Pegawai di Padang.  Nah, kalau hari sudah pagi dan kamar sudah terang karena sinar matahari,  sementara matanya masih ngantuk karena begadang semalaman mengerjakan hasil survey lapangan, maka dengan mata terkantuk-kantuk didobelnya hordeng jendela supaya gelap kembali, dan katanya: Masih gelap, mari kita lanjutkan tidur kita……

             Bahkan yang lebih keren lagi adalah teori teman saya yang Mahasiswa Fakultas Peternakan (dulu): Ketika musim kemarau, tentunya padang rumput di  Pulau Madura  pada mengering. Nah, supaya  selera sapi-sapi madura ini tetap terpelihara dengan baik,  maka sebaiknya semua sapi-sapi disarankan untuk dipakaikan kacamata berwarna hijau, biar rumput kering itu oleh sapi nampak hijaaaaauuuuuuu semua, dan melahapnya sampai kenyang.  Apakah  hipotesa kawan ini akhirnya bisa jadi teori dan diterapkan di Madura, aku kurang tahu karena semenjak kutinggalkan Bulaksumur, kami nggak pernah jumpa lagi.

               Penutup nih, sekali waktu ada  pegawai pada satu instansi ( akhir-akhir ini  orang ini dicap kurang waras) mengunci  pintu ruangan boss-nya dari luar, sehingga  ketakutanlah si boss terkurung didalam kamar sendiri.  Maka berteriaklah si boss, dan datanglah pegawai lain membuka pintu tersebut dengan paksa alias dirusak.  Sibos marah bukan main, maka dilaporkanlah perbuatan si anak buah kepada polisi, dan yang bersangkutan dibawa polisi ke markasnya alias mapolsek.  Ketika dilakukan BAP alias proses verbal, untuk membuat si tersangka dapat mengaku mengapa dia mengurung boss-nya, maka setelah pertanyaan keempat alias  apa jabatan dan surat keputusan nomor berapa dst, sang juru periksa pergi memesan kopi ke kedai sebelah kantor.  Sang Juper memperlambat waktu dan ngopi dulu di warung.  Merasa ditinggalkan, sang tersangka  pun pergi kembali ke kantor.  Ketika Juper kembali, sang tersangka sudah raib.  Maka dikejarnya kembali ke kantor untuk mencari tahu alamat si tersangka.  Eh…malah jumpa yang bersangkutan di kantor.  Dengan marah pak Polisi bertanya: Kenapa bapak melarikan diri ??????? Dengan kalem dia menjawab : Mana ada saya lari pak polisi, saya kan hanya berjalan  lambat-sambat…….


Responses

  1. Salam gabung…
    Hihihi…lucu juga baca ceritanya…

    iya…biasanya kesalahan itu banyak dilakukan karena ingin mudah, ingin cepat, tak ingin tahu lebih banyak, gak fokus….
    Sis:
    Nggak sabaran maksudnya…..? Kayaknya memang begitu. Tapi ya inilah kita, Indonesia kalian eh kita ini.

  2. Wakakaka …. aku ketawa baca kisah tetangga Abang yang keliling lapangan naik becak, dan kusir pedati yang ngangkat karung untuk mengurangi beban kerbaunya …. Ini mah bukan salah kaprah, tapi kurang cerdas … 😀 😀

    Tentang orang yang jogging bersama Abang, tapi sambil merokok itu, mungkin karena ia tak bisa melepaskan kecanduan rokoknya. Masih mending lah ia mau olahraga, daripada merokok terus dan nggak pernah olahraga, iya toh? Hehehe.

    Menurut pemahamanku, ‘salah kaprah’ itu adalah sesuatu yang sudah dianggap benar, padahal sebenarnya salah. Misalnya, peringatan Hari Ibu yang dimaknai sebagai ‘mother’s day’ itu …
    Sis:
    Betul, nampaknya judul Salah Kaprah yang aku buat ini sudah salah kaprah juga ya…. tapi aku belum tahu cara memperbaikinya… tanya-tanya dulu sama yang bisa.
    Tentang salah kaprah yang benar, sekarang udah kudapat contohnya gini neeeh :
    Kalau ada orang dipaksa kawin sama orang tuanya, selalu ada komentar emangnya zaman Siti Nurbaya ?
    Setahu saya peristiwa Siti Nurbaya (miliknya Marah Rusli-1924), yang kawin/nikah dengan Datuk Maringgih, bukan karena dipaksa oleh orang tuanya. Tetapi atas keikhlasan Siti Nurbaya sendiri yang rela berkorban demi menyelamatkan ayahnya yang banyak hutang kepada Datuk Maringgih. Ayah siti Nurbaya sendiri sangat sedih melihat nasib putri kesayangannya, sampai-sampai akhirnya dia meninggal dunia terbawa penyakit luka hati (bukan sakit lever atau hepatitis lho).
    (Kesimpulannya: Siti Nurbaya tidak pernah dipaksa kawin oleh orang tuanya).
    Mudah-mudahan ini contoh yang betul.

  3. Tentang si bapak yang berolah raga sambil merokok, mungkin itu memang salah kaprah.

    Tentang bapak yang sakit jantung keliling stadion naik becak, itu sih salah persepsi… (dan agak ‘oon..hihihi)

    Kalau ide teman Abang tentang sapi pake kacamata hijau itu bukan salah kaprah tapi kreatif..hehehe… Gimana hasilnya yah? kebayang sapi pake kacamata, hijau lagi… hehehe…

    Yang jelas, Abang nggak salah tulis kok, soalnya udah sukses bikin saya ketawa.. wakakaka….

    Sis:
    Antara bloon, salah fikir, salah persepsi, semua tercampur aduk dalam kehidupan kita tanpa kita sadari. Hidup ini memang sebentar dan penuh dengan dinamika yang kelak menjadi sejarah. Tapi nggak ada salahnya ya… kalau kita tersenyum sambil termenung sejenak, sambil menertawakan hidup kita. Aku senang, Tanti bisa ketawa di akhir tahun 2008 ini.

  4. Bukan salah kaprah Pak tp kreatif..

    saya senyum2 mbayangin teman Bapak yg namanya Guntur.. idenya keren juga tuh, sayang ga boleh dipraktekin kl pas hari kerja hihihi
    Sis:
    Ida Yanuarti…..punya rumah baru ya !!!! Kayaknya pipinya udah nggak tembem lagi sekarang, jadi nggak pas kalau dipanggil pimbem. Soal idee yang keren memang kawanku itu cukup lumayan. Tapi nggak usah ditiru, karena nampaknya tidak menghasilkan keberuntungan.

  5. 2 thumbs up buat ceritanya..
    salah kaprah yang sukses bikin saya dari tadi tersenyum terus….
    Sis:
    Keberuntungan kami di akhir tahun, bisa membayangkan senyuman erna yang so pasti manis dan renyah.
    (ada yang teriak… emangnya snack ???.. tapi bukan aku lhooo).

  6. memang pak…sekarang banyak salah kaprah terjadi. Dan sedihnya ketika salah kaprah dianggap sebuah kewajaran.
    Ya..itulah..kalo pemahaman terhadap apa apa cuma nanggung, jadi banyak salah kaprahnya.
    Sis:
    Itulah Mbak Dyah. kadang-kadang kita tertawa terbahak-bahak menyaksikan sketsa masyarakat yang terlukiskan. Dan kita tidak menyadari bahwa yang kita tertawakan itu adalah bagian dari kehidupan kita. Siapa tahu kan, kelakuan seperti itu terjadi pada saudara kita, sepupu kita, tetangga kita, atau siapa saja yang kita sayangi dan hormati. Tapi kata Butet Kertaradjasa, ibaratnya hidup ini hanya untuk mampir ngguyuuuu…. maka mari kita ngguyu.

  7. tak mengapa pak, postingannya bagus..{eh td salah kaprah manggil bang🙂..
    emang sudah begitu jadinya.
    anggap aj canda pengisi kata.
    Sis:
    Setelah kupikir-pikir, betul juga sih.

  8. dear pak sonny…
    betapa senangnya kembali kedunia ini untuk membaca tulisan yang menghibur seperti artikel bapak….hmmmmmmmm…saya bisa menarik nafas panjang dan jeda sejenak dari kerumitan kehidupan.

    terima kasih untuk kunjungan bapak (dan juga ibu dyah) yang sungguh memberi semangat lagi untuk kembali berbagi. saya tidak pernah menyangka mendapat sahabat yang sedemikian dekat meskipun tidak pernah bersua…
    saya merasa didukung sebagaimana layaknya sahabat saling memperhatikan….untuk itu, once again, terima kasih pak sonny…untuk semangat, untuk perhatian, untuk energi….

    selamat tahun baru…semoga semua yang terbaik menjadi di tahun ini…amien!!!

    Sis:
    Nadin, mungkin tangan kita belum pernah bersentuhan salam perkenalan, tapi kita kan sudah pernah saling mengenal bentuk wajah dari foto. Dan kita masing-masing sudah bisa mempelajari jalan fikiran dan garis besar watak pribadi melalui postingan postingan yang pernah kita buat. Aku merasa sudah mengenalmu seperti aku mengenal orang-orang disekitarku. Dan kesamaan visi dalam hidup akan membuat kita merasa sudah sangat akrab. Swemoga hal yang positif dapat dipetik dari pergaulan ini. Selamat Tahun Baru.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: