Oleh: Sony | Januari 2, 2009

SARANG BURUNG MANYAR

Burung Tempua

Burung Tempua

KENANG-KENANGAN HIDUP

 

Setahun aku bersekolah di desa, kami telah membuka ladang padi yang dikenal dengan nama Juma Nangka.  Lahan ini telah ditinggalkan sejak Perang Kemerdekaan II, yaitu Tahun 1949 empat tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI.  Perladangan itu ditinggalkan ibu saya karena belau bersama kakak saya yang tertua ikut mengungsi ke pedalaman sesuai Perintah Revolusi Bung Karno, yakni melakukan Mobilisasi Umum sebagai unjuk rasa atas Aksi Polisional Belanda yang kedua yang akhirnya melahirkan Perjanjian Renville. 

Kembali ke cerita awal, kami membuka perladangan itu  setelah tiga puluh tahun diterlantarkan (itupun setelah ibu memutuskan pulang ke kampung dari kota – posting masa kecil di desa), dan kondisinya sudah menjadi belukar.  Ketika pekerja-pekerja pembabatan sudah selesai dan dilakukan pembakaran setelah disingkirkan kayu-kayu yang bisa dipergunakan, dilereng bukit sebelah Timur ada hutan bambu yang dibiarkan seperti semula.  Kemudian dengan tidak sengaja, aku menemukan sarang burung  bergantung pada pucuk sebatang bambu yang terkulai dipinggir hutan bambu itu. Tingginya dari tanah kira-kira empat meter.  Kata ibu, itu adalah sarang burung tempua, bentuknya sangat menarik dan dia punya dua buah pintu masuk, seperti kacamata. Didalam buku pelajaranku  (Ilmu Hewan karangan Pak Kuncoro Hadiwidjojo, Terbitan Fa Hasmar Medan), ada contoh sarang itu, tapi nama burung itu disebut Burung Manyar.  Hampir setiap kali ada kesempatan aku menjenguk sarang burung itu dan menatapnya berlama-lama,  kalau beruntung, aku dapat menyaksikan burung itu pulang balik ke sarang membawa daun-daun kering dan yang masih hijau untuk dijalin menyempurnakan sarangnya.  Sungguh ajaib, dan bagiku burung tempua ini memang arsitek dan seniman yang sangat handal.

Satu ketika, disekolah aku bercerita kepada beberapa teman tentang sarang burung tempua itu.  Dan dengan penuh semangat dan rasa bangga, aku mengajak empat orang teman satu sekolahku untuk menyaksikan sarang burung tempuaku itu.  Kami mengendap-endap mengintipnya dan menyaksikan burung itu menyelesaikan sarangnya.  Puas menyaksikan kegiatan burung yang telaten itu, kami pergi mandi ke sungai dan pulang ke rumah.

Biasanya kalau Sabtu ayah datang dari kota, tapi sekali itu ibu malah mengajak aku ke kota menjenguk keberadaan kakak, sekalian mengantar kayu bakar  dari bekas  tebasan pembukaan ladang.  Kami menumpang Otoprah milik saudara sepupu ayah yang berprofesi sebagai pengumpul padi hasil panen di kampung untuk dijemur dan digiling menjadi beras di kota. Jadilah dua hari itu ladang tidak kami jaga.

Hari senin siang sepulang dari sekolah, buru-buru  aku mengontrol sarang tempuaku, eh ternyata sudah tidak ditempat.  Pohon bambu tempatnya bergantung sudah patah dan terkulai di tanah.  Aku sangat sedih karena sejak mendapatkan sarang burung itu, aku sangat rajin pergi ke ladang.  Dengan lemas aku pulang ke desa.  Hatiku tambah sedih karena di tanah lapang desa kulihat orang bermain-main menyepak-nyepak sarang burung.  Ketika aku mendekat, sarang burung itu mereka tinggalkan begitu saja, dan nampaknya sebagian dari yang bermain itu tidak mengetahui asal muasal sarang burung tersebut.  Kuambil sarang yang telah terkoyak itu, dan dengan air mata berlinang aku berjalan menuju ke rumah.  Diperjalanan aku berpapasan dengan seorang saudara sepupuku (kakek kami bersaudara), dia lebih  tua empat tahun dariku.  Lalu dia mempertanyakan kenapa aku bersedih, maka kuceritakan apa yang terjadi dengan sarang burungku.  Maka dia tanyakan anak-anak yang masih ada di tanah lapang itu, siapa yang mereka ketahui membawa sarang burung tersebut.  Lalu mereka menyebut nama seseorang, yang memang menurutku sangat bandel.  Ibunya meninggal ketika dia baru lahir dan dia diasuh begitu saja sekenanya oleh ayahnya dan familinya.  Ayahnya menumpang (minta ijin)  menderes nira pada pohon enau/aren yang banyak tumbuh di ladang kami dan ayah mengijinkannya. Ayah mengingatkan ibu, supaya mereka dibiarkan mencari nafkah di ladang kami. Kasihan, istrinya sudah meninggal, anaknya ada empat. Dan memang, dia adalah salah satu dari empat teman yang kuajak tiga hari sebelumnya untuk melihat sarang burung itu.  Ah… dasar anak bandel dan pengkhianat pikirku.  Beginilah kalau anak tidak mendapat kasih sayang dari seorang ibu, kasar, sirik, khianat dan tidak penya perasaan.

Setelah mengetahui oknum yang melakukan pencurian sarang burung itu, maka saudara sepupuku tersebut langsung mencari yang bersangkutan melalui abangnya yang kebetulan seumuran dengan saudara sepupuku itu.  Lalu mereka berdua mendapatkan anak itu sedang bermain di sungai.  Setelah diinterogasi oleh kedua orang itu,  anak tersebut mengaku. Karena malu dan jengkel, maka abangnya dengan geram memukul dan menceburkan  adiknya kedalam sungai sampai menjerit-jerit.  Kebetulan ada seorang ibu yang sedang mencuci pakaian di sungai, maka dilerainyalah mereka.

Pada malam harinya, datanglah ayahnya bersama dengan anak itu ke rumah kami dan meminta maaf atas kejadian itu.  Ibuku mengatakan tidak menjadi masalah, jangan sampai gara-gara sarang burung anaknya dipukuli, karena itu telah dilakukan oleh abang kandungnya sendiri.

Tapi rupanya anak ini dendam dengan hukuman yang diterimanya dari abang kandungnya dan karena disuruh ayahnya meminta maaf.  Maka ketika di sekolah saat istirahat, dia memindahkan tas sekolahku ke kelas lain.  Ketika pelajaran akan dimulai, aku melapor kepada guru bahwa tasku hilang dari laci bangku, dan tidak berapa lama ada juga sudara sepupuku perempuan yang berada di kelas lain tersebut mengetuk pintu kelas dan menyerahkan tas itu kepadaku, dan melaporkan bahwa yang memindahkan tas itu kesana adalah kawan tersebut.  Kontan yang bersangkutan mendapat hukuman berdiri di kelas sampai pelajaran terakhir.

Tidak terima dengan kenyataan tersebut, maka dengan gaya provokatif,  aku kembali diganggu di jalan.  Karena  tidak tahan dengan teror yang dilakukan, aku mengambil keputusan untuk melawan, dan ketika perkelahian berjalan seru bergumul dirumput dan semak-semak, datanglah Kepala Sekolah yang sebenarnya adik kandung  Mak Tua ku. Melihat aku berkelahi dia marah besar. Dia mengancam akan memulangkan aku ke kota kalau kerjaanku di desa hanya berkelahi.  Sebaliknya, lawanku berkelahi itu pun mendapat hukuman dari ayahnya.  Diikatnya kawan ini di pohon enau dan dilibasnya pakai pohon markisah sambai bilur-bilur merah membiru sekujur badannya.  Sialnya kawan ini besoknya  malah pamer bilur lukanya sambil membuka baju, berjalan-jalan di halaman sekolah.  Banyak yang menyarankan agar aku mengalah saja, dan minta damai.  Tapi dalam fikiranku, apa yang harus kudamaikan dengan dia.  Toh yang menghukum dia saudaranya sendiri, ayahnya sendiri. 

Pada hari Sabtu berikutnya ayah datang dari kota, maka diceritrakan ibu kejadian selama seminggu itu. Semula aku berharap, ayah marah dan memanggil anak itu bersama orang tuanya dan memaki-makinya dan melarangnya mengmbil nira di ladang kami.  Tapi ternyata harapanku tidak terkabul, ayah sama sekali tidak marah dengan kejadian itu.  Justru yang dikuatirkannya adalah kalau aku mendapat penilaian anak bandel karena berkelahi di sekolah. Maka bertigalah kami ke rumah paman (Kepala Sekolah), dan ayah bertanya apakah peristiwa ini dapat mengganggu sekolahku.  Kata paman, sekali-sekali perlu juga anak ini (aku) diberi tantangan, karena terlalu dimanjakan, nanti dia menjadi cengeng. Anak laki-laki memang harus pandai berkelahi.  Ayah hanya tersenyum dan menatap saya sambil menepuk-nepuk pipi. Aku hanya tertunduk.  Otot  kecilku ini mana kuat untuk melawan anak yang terlatih kerja keras setiap hari seperti lawanku berkelahi itu ?  Tapi aku juga nggak merasakan suatu kekhuatiran.  Menurutku kalau hanya gelut dan bertinju tidak akan bisa membuat kita mati.  Kecuali kalau membawa belati atau parang atau sabit. Maka ayah tetap membiarkan aku bersekolah di desa.  Dan tempaan mental di desa pun berlanjut terus sampai aku kembali ke kota.  Kini kalau aku pulang ke kampung dan berjumpa dengan teman-teman lama itu entah di pesta adat atau di kedai kopi atau di jalan, menjadi bahan nostalgia dan menjadi sumber ledek-ledekan yang tak pernah habis-habisnya.

   


Responses

  1. 🙂
    Ketangguhan seorang manusia itu, jika dia benar-benar mau mempergunakan segala ‘fasilitas’ yang telah ada pada dirinya, menjadi hal-hal yang berguna. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga bagi sekitarnya.
    Hasil akhirnya, mudah-mudahan tidak sia-sia.
    Waktu lah yang akan menjawab segalanya.

    *makasih pak*
    Sis:
    Terima kasih telah berkunjung ke blog-ku. Menurutku juga sama, bahwa perjuangan itu tak pernah mengenal arti kecil atau besar, tapi bila kita bertekun dan tidak mudah mengalah dengan waktu, maka pasti ada happy-ending. Tks.

  2. Setiap makhluk hidup dikaruniai kemampuan survival, dengan cara itu dia akan bertahan hidup ditengah kompetisi dan hidup bersama dengan makhluk lain.

    *bayangin sarang burung manyar, kaya’ apa yah?, belum pernah lihat*

    Manusia lebih istimewa karena juga dikaruniai akal budi, untuk melengkapi daya survivalnya, tidak sekedar mengandalkan otot dan kekuatan fisik, dengan itulah dia akan bertahan dalam kehidupannya, benar begitu kan?

    *bayangin bang Sony kecil lagi berkelahi..hihihi… kalah apa menang yah?*

    Sis:
    Aku secara alamiah didik oleh keluarga besar untuk mendalami cinta kasi, mencintai sesama, termasuk mencintai makhluk hidup lainnya. Mencintai kebenaran oleh paman saya (guru-kepala) disebutkan dengan perdamaian dengan diri sendiri, dan berdamai dengan Tuhan. Berkelahi sebenarnya bagian dari upaya menegakkan kebenaran lho.

  3. Wahahaha …. aku tersenyum sendiri bayangin Bang Sis berkelahi. Kadang-kadang berkelahi memang perlu ya Bang, khususnya untuk mempertahakan diri dan membela kebenaran. Aku pengin belajar berkelahi Bang (halah! 😀 ). Seumur-umur, aku belum pernah berkelahi secara fisik (entahlah waktu aku masih kecil dulu, yang mungkin tidak kuingat).

    Tapi naluri laki-laki dan perempuan memang beda. Kalaupun ada perempuan yang suka berkelahi, itu perkecualian saja. Pada dasarnya, perempuan lebih didominasi oleh naluri melindungi, mengasihi, dan menjaga perdamaian, karena naluri-naluri itulah yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ibu.

    Ada cerita lain Bang?

    Sis:
    Jangan katakan kamu tidak pernah berkelahi. Walaupun tidak sampai tinju meninju, paling tidak aku percaya kamu berkelahi sampai piting-pitingan (sama suamimu). Kalau tetap kamu bilang nggak pernah, berarti kamu bohong.

  4. hahahahah jawaban abang ke komentar mbak Tuti membuat aku tertawa…
    mungkin perempuan lebih “ahli” bertengkar mulut hehhe.

    Waktu kecil saya ingat pernah melihat sarang burung walet. Kelihatannya papa mendapat oleh-oleh dari perjalanannya ntah ke mana.

    Jadi abang bisa berkelahinya sejak kapan? Kalau melihat muka abang, kayaknya ngeri juga deh kalau pas marah hihihi

    EM

    Sis:
    Kalau marah, kumisnya bergerak-gerak. Itu doang.

  5. hahahaha…
    kalau tak diganggu seorang pedamai
    kalau ditantang tak akan takut…
    Brani karena benar!

    *saat itu sudah ada kumisnya ya?😆 *

    Sis:
    Aku bukan tipe orang yang suka berkelahi, dan kumisku juga bukan untuk nakut-nakutin. Karena dia tumbuh disitu, ya kupelihara. Gitu azza.

  6. jika ada sarang tempua yang letaknya tendah, itu bertandan di sekitar tempat itu ada apa-apanya.
    Karena tidak lumbrah saja, tempua bersarang rendah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: