Oleh: Sony | Januari 5, 2009

Berkelahi Dengan Waktu

ANAK-ANAKKU, AKU CINTA KALIAN

 

Kalau kita bicara mengenai sayur-sayuran maka untuk Sumatera Utara, Tanah Karo lah sebagai barometernya.  Di Tanah Karo khususnya di Kecamatan Tiga Panah, Kecamatan Barusjahe, Kecamatan Simpang Empat, Kecamatan Daulat Rakyat, Kecamatan Merdeka dan Kecamatan Berastagi, adalah sentra produksi sayur-sayuran yang terdiri atas  kol, kentang, tomat, cabai, petsay, sawi, lobak, wortel, seledri, kacang-kacangan, yang setiap harinya berpuluh-puluh ton diproduksi dan dikeluarkan dari  enam kecamatan tersebut melalui empat pusat pemasaran yakni Tiga Panah, Tiga Lau Gendek, Tiga Berastagi dan Tiga Singa. Jam beroperasinya pasar ini adalah Pk. 10.00 pagi sampai pk 17.00 sore. Penjual adalah para petani langsung dari desa-desa dan pembelinya adalah pedagang sayur yang akan memasarkannya di wilayah Sumatera Utara atau ke kota lain di luar propinsi seperti Kepulauan Ria, Jambi, Aceh, Jakarta, serta pemasaran dalam propinsi seperti ke Medan, Pematang Siantar, Kisaran, tanjung Balai dan Rantau Prapat. 

              Posting kali ini tidak menyoroti bagaimana sayuran itu diproduksi, atau dikirim ke antar propinsi, tapi dikhususkan membahas  tentang kehidupan para pedagang sayuran yang khusus menjadi pemasok kebutuhan di kota Medan.

Pasar induk sayuran yang utama di kota Medan adalah  Pusat Pasar atau Pasar Sentral, yang memulai geliatnya pada pukul 00.00 WIB setiap hari.  Pasar Induk ini merupakan gudang-gudang sayuran yang kemudian dipecah menjadi keranjang-keranjang sayuran dan seterusnya dipasarkan kepada pemasok pasar pagi berikutnya seperti Pasar Bengkok, Pasar Sambas, Pasar Simpang Limun, Pasar Pagi, dsb.  Sebagian oleh pedagang pengecer dipasarkan di pasar Sentral dengan waktu berjualan sampai pukul 08.00 WIB.

Para pedagang ini pada umumnya memiliki armada Pik-up Mitsubishi L-300, karena kalau memakai Truk, dialarang masuk ke pusat kota.

              Sperti kita ketahui bahwa waktu beropareasinya pasar sayur di Tanah Karo adalah siang sampai sore hari, maka para pedagang sayuran tersebut akan berangkat dari Medan menuju Berastagi sekitar pukul 10.00 sampai pk 12.00 WIB.  Jarak waktu tempuh dari Medan ke Berastagi sekitar dua jam.  Sehingga waktu  para pembeli ini untuk bernegosiasi dengan petani sayur lebih kurang sekitar empat jam.  Sekitar pukul 16.00 semua sayuran yang sudah dibeli, dipaking dan disusun rapi diatas mobil Pik-up, untuk dibawa ke Medan. Pukul 18.00 – 20.00 WIB, mereka menggudangkan barang-barangnya masing-masing.  Sejenak mereka pulang ke rumah masing-masing untuk istirahat. Kemudian pk. 24.00 mereka sudah berangkat dari rumah menuju gudang di pusat pasar dan mendistribusikan syurannya kepada pelanggan, baik yang menjual eceran diseputar pasar sentral maupun borongan untuk pasar sayur (pagi) yang lain.  Sekitar pk. 02.00 WIB, pedagang makanan bubur, mi goreng, kopi susu, the susus, martabak, piang goreng, nasi uduk (pulut),  sudah menebar dagangannya untuk melayani kebutuhan para makelar sayur ini.  Mereka berjualan di jalan-jalan di depan toko-toko di kawasan pasar pusat Medan seperti Jalan Sutomo, Jl. Bintang, Jl. Bulan, Jl. Riau, Jl. Rupat dll.  Pukul 07.00 pagi semua areal tersebut sudah dibersihkan, karena toko-toko akan segera buka.  Para makelar sayur tersebut mengutip uang dari seluruh pedagang pngecer yang tadinya mengebon sayuran, sesuai catatan.  Baik pengecer maupun pedagang borongan bubar saat itu.  Pedagang borongan pulang kerumah, beistirahat sampai pk. 10.00WIB.  Selanjutnya mereka kembali berangkat ke Berastagi untuk siklus berikutnya.

Kalau keuntungan ? Wah ada istilah mereka rejeki harimau.  Misalnya ketika harga rata-rata  cabe merah sekitar Rp. 20.000,- per kilogram, maka apabila mereka membeli di Berastagi dengan harga Rp. 17.000,-/kg dan menjualnya di partai borongan seharga Rp. 21.000,-/kg mereka dapat untung Rp. 4.000,-/kg.  nah kalau mereka membeli sebanyak satu ton, maka untungnya satu malam itu kotor sebesar  empat juta rupiah.  Tapi kalau pas lagi apess, tomat yang dibeli di Brastagi seharga Rp. 3.000,-/kg dijual di Medan seharga Rp. 4.000.-/kg dan bisa saja nggak habis.  Tambah biaya lagi sewa gudang.

          Terlepas dari masalah untung rugi, yang sebenarnya sangat tragis adalah komunikasi antara orang tua dengan anak.  Sangat memilukan. Ketika anak-anak bangun pagi, mandi, sarapan dan berangkat ke sekolah, semua itu dilakukan pada jarak waktu pk 06.00 sampai 07.00 pagi. Sementara orang tua mereka masih berada di pasar sentral. Pukul 08.00 pagi orang tua datang kerumah, anak-anak sudah berada di sekolah. Pk. 10.00 orang tua berangkat lagi ke  Berastagi, anak-anak belum pulang sekolah. Anak-anak pulang sekolah dan  berada dirumah mulai dari siang sampai sore, makan malam pk 19.00 malam, orang tua mereka belum pulang dari gudang.  Ketika orang tua mereka pulang dari gudang Pasar Sentral sekitar pk 20.00 malam, mereka semua sudah tidur. Sehingga dalam 24 jam satu hari, mereka sama sekali tidak melakukan komunikasi.

Demikianlah kehidupan anak-anak ini, menjadi anak pembantu, dan memecahkan persoalannya sendiri tanpa bimbingan orang tua.  Sungguh ironis, tapi itulah perjuangan hidup kaum pedagang sayur, khususnya di Sumatera Utara.


Responses

  1. medan – berastagi 2 jam itu kalo lancar pak.
    Gimana kalo kejadiannya seperti perjalananku sabtu kemarin. Medan – Berastagi 4,5 jam…

    pfuuhhh…..😦

    Sis:
    Ndah, kenapa tahun 2009 ini kamu nampaknya tambah MERAMBIT dek ?

  2. Bang, sama seperti keluarga Jepang, meskipun lain jenis pekerjaannya.
    tidak ada waktu bertemu dgn anak-anak mereka.
    Si bapak pulang waktu anak-anak sudah tidur dan berangkat ke kantor waktu anak-anak belum bangun.

    Sis:
    Itulah sebabnya banyak anak mereka disebut anak sapi karena susunya susu sapi, dan anak pembantu karena hari-hari yang memeliharanya adalah pembantu.

  3. nah kalo Riku dan Kai bukan anak sapi, tapi anak susu kaleng, dan bukan anak pembantu tapi anak MAMA hehehhe

    have a good DAY bang
    EM
    Sis:
    Aku yakin kamu mampu memberikan yang terbaik untuk anak-anakmu.

  4. Pak…”merambit” is my middle name..
    hahahhahaha….
    enggaklah… masa aku merambit, ga merambit tapi suka merepet tapi enggak merampus apa lagi mehantu…
    haiyahh apa ini😛

    Sis:
    Disamping merambit, aku yakin kamu juga memang mehantu

  5. Mas..terlepas dari semua, entah ini ada kaitan atau tidak dengan tulisan Mas, ini juga kata Mario Teguh, jika waktu itu sangat berharga bagi anda , maka berikanlah waktu itu untuk membahagiakan orang-orang yang anda cintai ..
    Sis:
    Betul mbak, kita kadang-kadang kurang cerdas menetapkan prioritas antara kepentingan ekonomi dan kepentingan perkembangan kejiwaan dan mental si anak. Kita sering memandang uang itu menjadi bekal utama masa depan anak.
    Tapi siapa juga bisa menyengkal itu? Sibuk pun kita memeluk dan menciun-cium anak setiap hari , kalau dia kurang gizi,(akibat nggak ada uang buat beli makanan) ya masa depan suram juga sih.

  6. Ya..itulah tututan kehidupan…yang kadang memang tak memberi kita pilihan.

    Untunglah…kehidupan anak-anakku tak harus begitu…aku bisa bersama keluargaku setiap hari…jalan-jalan bersama mereka setiap ada waktu segang…ini rahmat yang terbesar yang Tuhan berikan.

    Semoga anak bisa mengerti pengorbanan orang tua…dan mengambil nilai positif dibalik setiap peristiwa yang mereka lalui. karena itu semua hanya keterpaksaan…bukan kemauan orangtua.

    Sis:
    Doa yang paling tulus adalah doa seorang ibu atas keselamatan dan kesejahteraan anaknya. Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan. Iya kan Buu? Eh..bu Lina kok diam ?

  7. you’ll be able to find any point of interest on a site and then call it direct from your site… good job frenzz😉 lam hangat dan kenal yah..
    Sis:
    Akan kami kunjungi juga kesana. Terima kasih atas kunjungannya ya Don.

  8. Wah … kasihan ya anak-anak ini, sampai-sampai nggak pernah ketemu sama orangtuanya. Ternyata bukan hanya di kota sibuk macam Jakarta saja keluarga susah menemukan waktu untuk bersama …

    Sis:
    Dan sebagian dari pedagang ini adalah isteri dari PNS golongan dua. Coba bayangkan bagaimana kelak pendidikan anak-anak ini sebagai generasi penerus bangsa. Dan banyak diantara mereka adalah saudaraku dan keponakanku. Paling tidak saudara sebangsa dan setanah air.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: