Oleh: Sony | Januari 11, 2009

TARUHAN atau PERTARUHAN ?

MENANG TARUHAN

 

 

Gedung Induk UGM

Gedung Induk UGM

 

 

 

 

                   Suara dengungan  Fan yang mensirkulasi udara dari dalam Ruang Kuliah II Lantai II Sayap Utara bagian Timur, Gedung Induk Universitas Gadjah Mada, tidak membuat para mahasiswa terganggu dalam menyimak kuliah Filsafat Pancasila siang menjelang sore itu.

Siang menjelang sore begini, kampus memang sepi.  Keramaian hanya ada disepanjang  Jalan Kaliurang yang membelah Kampus Biru menjadi dua, mulai dari perempatan Sekip sampai ke perempatan Selokan Mataram, dimana Bagian Administrasi fakultasku berada.

                   Mungkin karena materi pengajarannya yang menarik atau karena dosennya yang sangat cantik dan pintar.  Yang jelas dari tujuh puluh delapan orang mahasiswa yang kebetulan hanya enam orang berjenis kelamin perempuan, semua terpesona dengan penampilan ibu guru yang diimpor dari Fakultas Filsafat itu.

                  Persatuan Indonesia yang…berketuhanan, yang..berperikemanusiaan, yang demokratis dan berkeadfilan sosial, itulah inti isi mutlak Pancasila  ditinjau dari sisi persatuan dan kesatuan bangsa.  Itulah kata bu  dosen yang sedang menyelesaikan desertasi Doktornya di fakultas sebelah. 

          Ssssst Sis,  responsi praktikum Petrografi udah Acc ? tanya  Pramono yang duduk dibelakangku.  Aku mengangguk, padahal bohong.  Karena laporan praktikumnya saja  belum kuselesaikan, apalagi responsi.  Kudengar dia menghela nafas.  Rupanya dia juga belum menyelesaikannya, fikirku dalam hati.

          Sis, tolong dipinjemin laporannya dong. Ujarnya sambil mencolek-colek pinggangku.  Otomatis aku yang masih perjaka ya kegelian dan menggeliat-geliatkan tubuhku.

          Ada apa di sebelah sana, kok nggak menyimak ? tanya bu dosen

          Sambil memandang ke arah kami, diikuti semua pandangan yang lain. Aku buru buru mencari dalih.

          Ooooh ini bu.  Pram mempertanyakan apakah benar,  sumber inspirasi Pancasila itu merupakan barang olahan dari Bung Karno dari bahan dasar Teori Materialism Karl Max dasn Frederick Engels yang dipadukan dengan prinsip Declaration of Independence nya  Thomas Jefferson.  Karena katanya dibacanya di Buku Sukarno Penyambung Lidahnya Cindy Adams halaman 114,  sahutku mencoba mengalihkan persoalan.  Kudengar Pramono bersungut-sungut dibelakang, keberatan nama dia kubawa-bawa tersangkut paut  dalam pertanyaanku.

          Betul begitu Pram ? tanya bu dosen kearah  Pramono.

          Mmh  anu bu lupa !!! Jawab Pramono.  Ruanganpun gerrrr  merasa geli atas kekonyolan Pram.  Ditinjunya bahuku dari belakang.  Terasa agak sakit, tapi aku tersenyum puas.  Siapa suruh nganggu-ganggu, bicara soal batu-batuan saat kuliah Pancasila.  Itulah hasilnya, diketawain orang satu kelas.

          Sis, Pram, tentang itu akan ibu cari tahu dulu ya.  Aku belum pernah membaca tentang itu.  Minggu depan kita akan gunakan sedikit waktu untuk membahas itu.  Jawab ibu dosen.

Waktu seratus empat puluh menit sudah habis, kami berhamburan keluar ruangan.  Kecantikan ibu dosen ini sebenarnya sudah menjadi buah bibir mahasiswa di fakultas kami. banyak penggemarnya.  Apalagi hari ini, beliau memakai ikat pinggang yang agak lebar. Menonjolkan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang serasi dengan rok dibawah lutut, dan sepatu hak tinggi yang membuat langkahnya berjuntai anggun.   Maklum fakultas kami adalah salah satu fakultas yang hampir semua laki-laki. Dan pada  siang itu muncul satu tantangan yang sangat menggoda. 

          Siapa yang berani memeluk pinggang  bu Dosen, dan beliau tidak marah, aku traktir makan bakso di Kantin Mak Totok gratis satu kali sehari selama seminggu! Itulah tantangan dari seorang mahasiswa yang bernama Freddy Rangkuti.

                 Dan konyolnya, aku merasa tertantang, walaupun sebenarnya aku bukan mahasiswa yang paling pemberani di kampusku.  Tapi setidaknya, janji membahas pertanyaanku di ruang kuliah tadi membuatku terasa akrab dengan beliau.  Jadilah beberapa orang sebagai saksi (yang kujanjikan akan mendapat satu porsi jika aku berhasil).  Jadi traktirnya tidak seminggu, cukup sekali saja untuk tujuh orang, termasuk si penantang sendiri.  Sambil beriringan menuju Kantor fakultas di perempatan Selokan Mataram, aku memperlambat langkah tatkala ibu dosen dan beberapa mahasiswi berjalan beriringan dibelakang kami.

                     Aku mendekati kelompok mereka dan menyapa bu dosen.  Bu dosen mempertanyakan buku yang kusebutkan  pada waktu di kelas, dan tentu saja dengan senang hati kukatakan di perpustakaan fakultas kami, ada beberapa buah.  Dan aku menjanjikan untuk meminjamkannya untuk ibu dosen, dan beliau setuju (untuk bu dosen apa sih yang tidak diperjuangkan…hi..hi..hi).

              Maka kamipun berjalan beriringan dengan beberapa mahasiswi.  Pada saat mau menyeberang Jalan Kaliurang yang agak padat siang itu,  aku mewanti-wanti bu dosen agar hati-hati.  Dan ketika agak kosong, seakan tidak sengaja kupeluk pinggang beliau dan mengajaknya cepat-cepat menyeberang.  Ketika aku memeluk pinggangnya dan mendorong untuk maju menyeberang, kulambaikan tanganku yang satu lagi agar pengendara motor memberi jalan kepada kami untuk nyebrang.  Ibu itu tersenyum melihat caraku menyeberangkan beliau.

                   Dan tanpa banyak bicara aku secepatnya pergi ke Perpustakaan dan meperoleh buku tersebut dalam beberapa menit saja. Dan terbang ke ruang tunggo dosen trus menyerahkannya kepada beliau. Beliau gembira menerima buku itu, dan tanpa ragu-ragu memegang tanganku untuk jangan pergi dulu.  Karena beliau ingin membuktikan apakah halaman 114 itu ada berisi kata-kata yang kusampaikan di ruang kuliah.  Agak terkejut juga aku mendapat serangan kilat seperti itu, tapi beruntung, masalah itu memang diulas disana.  Dan beliau pun mempebolehkan aku keluar ruang dosen.  Sambil mengangguk hormat kepada dosen-dosen lain, aku buru-buru keluar dan terbang ke kantin.

                Sampai di kantin, aku dan keempat temanku elakukan toss tanda kemenangan.  Aku berhasil memeluk ibu dosen itu selama satu menit lebih tanpa ada reaksi keberatan dari beliau.  Bakso—baksoooo—baksooooo. menang…menang..menangngngng.

                   Tapi Freddy nampaknya  keberatan. Dia berpendapat bahwa caraku memeluk dengan cara mencuri itu termasuk perbuatan curang.  Tapi aku katakan bahwa beliau sadar kok dengan pelukanku.  Dan akhirnya kami minta pendapat Mak Totok sipemilik kantin sebagai orang netral.  Dan keputusannya, pelukanku syah secara fisik dan mental (hah.. teori apaan ini?)  dan baksopun keluar dari dapurrrrr.

                    Seminggu berlalu, kesibukan  kuliah berjalan seperti biasa.  Dan hari ini menjadi istimewa karena akan berjumpa lagi dengan ibu dosen yang keanggunannya sangat menyejukkan itu.     Ketika ibu dosen itu memasuki ruangan, kami semua mengucapkan salam selamat siang dan basa basi lainnya. Dan saat beliau akan memulai kuliah dia mendahuli dengan komentar.

          Aku sudah berjanji akan membahas buku Cyndi Adams di akhir kuliah nanti. Dan aku mengucapkan terima kasih kepada saudara Sis, karena dia begitu bersemangat meminjamkan buku ini kepadaku! katanya sambil menunjukkan buku Cindy Adams itu.

          Tapi sebenarnya ada lagi yang lebih menarik untuk dibahas. Aku ingin bertanya, apakah baksonya minggu kemaren cukup enak ?  Siapa saja sih yang dapat traktiran ? Kok ibu nggak dibagi ? Padahal ibu sudah dijadikan sarana pemenangan pertandingan ?.  Harusnya aku kebagian  dong. Ujarnya sambil tersenyum.  Ruangan hening seperti heningnya tamabn makam pahlawan ditengah malam sunyi.

Mati aku….. mampus beneran nih…..pikirku dalam hati.  Kulirik Freddy, dia tertunduk melirikku sambil menggoyang tangannya di leher, lambang gerakan menyembelih.  Bagaimanapun ini bakal menyulitkan.  Sempat mata kuliah ini nggak lulus… ngulang lagi tahun depan.  Kalau masih ibu ini juga yang mengajar, gimana nih ? Mana mata kuliah ini wajib lulus lagi.   Sepanjang  kuliah aku tidak konsentrai.  Bahkan  ketika dilakukan pembahasan  tentang sosio demokrasi dam ketuhanan versi Bung Karno, aku sudah tidak tertarik lagi. Sore itu aku aku curhat dengan teman-teman, apakah kira-kira beliau tersinggung ? Dan pendapat mereka malah melebihi jumlah orangnya.  Ada yang setuju kalau aku minta maaf.  Tapi ada juga yang merasa tidak perlu.  Kalau minta maaf malah nanti  persoalannya makin dalam.  Duh bakso…. Bakso.   Gimana nih nasibku. Apakah semata-mata karena bakso, atau memang ingin mencari perhatian ibu dosen itu dengan cara sok pintar segala ?  Yang jelas gara-gara memenangkan taruhan malah jadinya mempertaruhkan kelulusan.

 


Responses

  1. Ini beneran kisah nyata? waduhh… bang Sony ini bandel juga ternyata…. ck-ck-ck….

    Pertanyaannya adalah :
    Yang dipertaruhkan dalam kisah ini apanya?
    A. Baksonya
    B. Ibu dosennya yang cantik itu
    C. Mata kuliahnya
    D. Lainnya
    Silahkan saudara jawab dengan singkat dan tepat !!
    *berlagak jadi dosen nge-tes mahasiswanya*

    Btw,
    trus gimana mata kuliah itu lulus nggak?
    Jangan-jangan malah dapat A+ lagi…😉

    Sis:
    Penilaian beliau nampaknya sangat obyektif sesuai kemampuan kami menjawab soal-soal ujian (terbukti dengan nilai 97 he..he..).
    Tapi aku dan Pram disuruh menemani beliau menghitung-hitung data statistik bakal desertasi di rumah (orang tua) beliau. Seneng tapi kikuk, maklum orang batak nggak cukup luwes untuk unggah-ungguh. Tapi dicoba juga sekuat tenaga, kendati sering jadi bulan-bulanan Pram. Hey Pram dimana kau sekarang ya ?

  2. hihihih aku ketawa ketiwi sendiri baca posting ini. lucuuuu

    kok aku ngga pernah ngalamin ada mahasiswa yang berani peluk pinggangku (soalnya ngga ramping sih hahahah)

    pasti masih banyak lagi cerita waktu mahasiswa yang mendebarkan hihihi… ayo saya tunggu loh bang.

    EM
    Sis:
    Kayaknya kalau di Jepang taruhannya cuma bakso ya kurasa juga nggak ada yang berani (resiko dengan hadiah tak seimbang)
    Tapi kalau misalnya hadiahnya Laptop yang baru Pentium sepuluh Core sepuluh dst..dst… kurasa ada juga yang nekad. He..he..he..

  3. salam kenal juga Sony🙂
    geli banget baca postingan ini, inget ,masa2 kuliah dulu ..suka bendel en taruhan juga ..cuman bukan peluk dosen siy hehehe
    masa kuliah emang masa paling indah ya, belom ngerasain pahitnya kehidupan hohoho
    salam damai sony🙂
    Sis:
    Bagi yang merasakan manisnya masa kuliah, memang ada harapan bakal merasa pahit pada kehidupan nyata. Tapi bagi yang memang sudah merasakan pahit sejak masa-masa kuliah, ada gula dikit aja rasanya udah maniiiiiiiisssssss banget di kehidupan nyata. Ma kasih ya udah berkunjung ke tempatku.

  4. Wakakaka …. cerita bang Sis lucu-lucu. Sama seperti Mbak Imelda, kok nggak ada ya mahasiswa yang berani coba-coba memeluk pinggangku? Hihihi …. Habis, yang punya pinggang nggak cantik sih, jadi nggak ada yang merasa tertantang😀

    Sis:
    Gimana mengomentarinya ya…. kamu nggak merasa ya, kalau sering dipeluk waktu masih mahasiswa ? Kan udah cukup jatahnya.

  5. Hehehe … Bang Sis kok serius banget nanggapi komentarku. Ya enggak lah Bang, mosok aku pengin dipeluk sama mahasiswa …. (bapaknya mahasiswa, nah baru ok …. hihihi …. )

    Sis:
    Aku nggak serius, tapi dua rius. Bagaimana kalau mahasiswanya itu bapak-bapak ? mau juga ?

  6. Mahasiswanya bapak-bapak? Lihat dulu, umur berapa? Kalau umur 50-an, hmmm … (*mikir-mikir*). Tapi kalau umur 70-an, wadow … mboten mawon …😀 😀

    Sis:
    Kalau dulu, mahasiswa tugas belajar di FPS-UGM, pastilah kalau bukan dosen-dosen ya PNS utusan kantor. Syaratnya, untuk S2 maksimum 45 tahun S3 maksimum 52 tahun. Nampaknya..ehem…ehemmmm
    ada harapan tuh…(lulus ujian maksudnya).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: