Oleh: Sony | Januari 12, 2009

MANA CELANAKU ?????

PERMAINAN ANAK KAMPUNG

 

Pada masa penggal pertama  tahun tujuhpuluhan,  kegiatan Pramuka di tanah air kita  sangat digalakkan.  Repelita I, dimulai tahun 1969 sampai tahun 1974, merupakan titik awal gairah pendidikan yang begitu menggelora, setelah terpuruk pada era Ganyang Malaysia, dan peristiwa kelam G 30 S PKI.  Tapi posting ini bukan mengarah ke politik berdarah itu.  Yang ingin aku ceritakan adalah pengalaman kami ketika pengalaman bersekolah dengan berseragam.

               Beberapa tahun setelah  Pemilihan Umum tahun 1971, yang kemudian dimenangkan oleh Golongan Karya, Gerakan  Pramuka adalah sebuah program  yang sangat  dipavoritkan oleh pemerintah Orde Baru sampai ke desa-desa, termasuk desa kami.  Dan  keberuntungan itu juga ke desa kami, yang  pertama jatuh kepada anak-anak Sekolah Dasar kelas satu dan dua.  Keberuntungannya adalah mendapat pembagian seragam pramuka gratis.  Seragam dengan kemeja kuning kemerahan dan celana coklat dengan lambang tunas kelapa di lengannya dan merek SIAGA di saku kiri atas dan merek Gerakan Pramuka di saku kanan, lengkap dengan baret seperti milik RPKAD, dan tali pinggang dengan kepala sabuk berlambang tunas kelapa terbuat dari kuningan.  Wahhhh bangganya bukan main.  Dada kami menggelembung hampir meletus saking bangganya. Bapak kepala sekolah dan lima orang guru lain juga berseragam pramuka pada hari pembagian seragam tersebut.

               Keesokan harinya, kamipun memakai seragam pramuka kami ke sekolah.  Begitu sayangnya kami dengan seragam itu, sehingga permainan  bergulat di rumput, tendang-tendangan dan permainan perang-perangan di halaman rumput sekolah tidak kami lakukan.  Kami hanya saling mendiskusikan baju kami masing-masing, entah jahitannya yang lepas, atau benangnya yang tidak sama warnanya, atau kalau ada jahitan yang tidak lurus.  Maklumlah, jahitan borongan,  pengerjaannya juga pastilah tidak seteliti jahitan biasa.  Tidak terasa, satu hari hampir berlalu, dan kami kelas satu dan dua sudah diperbolehkan pulang. Nah… disinilah awalnya cerita ini terjadi.

                Letak sekolah kami diantara tiga buah desa, dimana ketiga desa tersebut menjadi pemasok murid ke sekolah negeri satu-satunya di tiga desa. Mencapai sekolah  ini, dari ketiga desa tersebut harus melalui sungai.  Dan sudah menjadi peraturan di sekolah kami, ketika berangkat ke sekolah, diwajibkan mandi dulu di sungai, dan barang siapa tidak mandi dan ketahuan oleh guru, akan disuruh kembali ke sungai untuk mandi. Peraturan lainnya adalah, sehabis jam sekolah, tidak diperbolehkan mandi-mandi di sungai sebelum pulang kerumah.  Bahasa daerahnya dilarang ERLANGI_LANGI atau berenang di sungai.  Kalau ketahuan oleh guru, besoknya akan dihukum di sekolah.

               Sebaik kami pulang sekolah dengan seragam pramuka yang keren itu,  ketika sampai di sungai sebahagian mengajak kami mandi-mandi.  Yang perempuan mengingatkan agar tidak usah mandi-mandi, karena nanti dihukum oleh bapak guru.  Tapi sebagian mengatakan, guru masih akan lama datang, kan masih ada rapat mengenai pembagian seragam pramuka untuk kakak kelas.   Nah, yang lain juga sepaham, sehingga jadilah rencana mandi-mandi di sungai.  Murid perempuan langsung pulang ke rumah, dan mereka memang risih menonton anak laki-laki mandi dengan telanjang bulat.  Maka kamipun membuka baj dan celana diletakkan dirumput tepi sungai bersama tas kami masing-masing.  Begitu serunya permainan kami, sampai kami lupa bahwa sebentar lagi kakak kelas sudah keluar dari sekolah.

                  Tiba-tiba ada teriakan dari jembatan, heiiiiii, keluar semua, cepat pakai baju, pak Kepala Sekolah dataaaaaangg.  Dengan kalap kami semua naik ke darat dari dalam sungai, buru-buru mengambil baju dan celana dan cepat-cepat memekainya dan menyambar tas trussss berlari mendaki jalan setapak menuju kampung.  Melihat kekalapan kami, beberapa orang abang kelas yang berteriak tadi tertawa tyerbahak-bahak dan benar-benar kegirangan.   Kami jadi bingung melikat tingkah laku mereka.  Kami belum juga tahu apa sebabnya mereka tertawa terbahak-bahak.  Maka ditunjuknyalah perut salah satu teman kami yang biasa dipanggil Ndut, karena memang badannya gendut.  Dan betul, celana yang dipakainya kesempitan dan tidak bisa dikancingkan karena tekanan perutnya yang gendut.  Lalu ada yang teriak, itu celanaku…. Kok kau pakai ? tanyanya heran.  Yang lain juga bertanya, hei kelerengku kemana semua ya…mulailah kami memeriksa kantong kami masing-masing sesuai dengan harta benda kami.  Rupanya celana kami sudah bertukar-tukar.  Celanaku sendiri sudah tertukar dengan seorang teman, ketahuannya karena didalam kantong celanaku masih ada kusimpan gambarku nyanyi ketika kampanye partai di kampung kami.  Sedangkan disaku celananya ada disimpan bungkusan tali pancingan.  Kami mulai sibuk mengembalikan celana sesuai dengan pemiliknya.  Sialan, kami dikerjain sama kakak kelas.  Rupanya ketika kami asik mandi didalam sungai, secara diam-diam mereka menukar pasangan baju dan celana kami.  Maklum karena masih baru sehari, dan gugup karena ditakut-takuti atas kedatangan Kepala Sekolah, kami semua tidak sadar bahwa pakaian kami telah tertukar.  Apalagi warna dan potongannya semua sama.

Huhhhhh….. benar-benar jadi permainan.

 

                         Tapi permainan ini rupanya belum selesai.  Bahwa anak kelas satu dan dua yang memang sangat dilarang mandi-mandi di sungai, ketahuan sama guru-guru.  Maka ketika hari Sabtu, dimana anak kelas tiga sampai kelas enam melakukan krida menyapu sekolah, membersihkan halaman dan memangkas rumput-rumput sekolah, anak kelas satu dan dua diberi kesempatan pulang cepat.  Hasilnya, mandi-mandi lagi deeeeeh.   Cuma sekali ini ketiban sialnya jauh melampaui hari tertukar celana waktu itu.

                            Ketika kami asik mandi-mandi, rupanya guru kelas dua duluan pulang.  Anak-anak perempuan yang lagi nonton kami mandi-mandi, disuruh diam oleh beliau.   Lalu disuruhnya empat orang anak perempuan itu mengumpulkan pakaian kami, baju dan celana, diikat jadi empat buntalan pakai ikat pinggang kemudian disuruh bawa pulang ke rumah.  Kemudian beliau berkata :  Ambil baju  kalian  nanti dirumah bapak. Dan…. Mereka pergi berangkat ke desa.  Kami semua berpandang-pandangan.  Bagaimana ini ?  Kita  nggak punya pakaian sama sekali, apakah kita harus telanjang pulang ke rumah ?  Kami terduduk dipematang sungai sambil termenung.   Anak perempuan sambil cekikikan berlarian mendaki jalan setapak meninggalkan lembah  menuju kampung.    

                              Dengan menutupi aurat pakai tas sekolah, kami berjalan lewat jalan tikus, jalan orang yang biasa pergi memancing dan jalan orang mencari burung atau penderes nira.  Kami memilih jalan ini karena pasti tidak ada orang lewat jalan ini.  Sampai pada dataran diatas lembah, di halaman sebuah rumah yang paling dekat dari tebing, ada pakaian yang sedang dijemur.  Kami sepakat mengambil kain sarung yang sedang dijemur, dan satu orang boleh pergi ke rumahnya mengambil pakaian dan kain sarung.  Ronde kedua, terselamatkan enam orang.  Ronde ketiga kami seluruhnya, enam belas orang sudah berpakaian kembali.  Kemudian bersama-sama ke rumah Pak Guru kelas dua, mengambil pakaian sekolah.  Disana kami dinasihati oleh beliau.  Dan kami terpaksa berjanji tidak akan mandi-mandi  di sungai sebelum sampai dirumah sepulang sekolah.  


Responses

  1. aduh kasihan sekali yang Ndut kalau tertukar celananya.

    Tapi pengalaman kedua menunjukkan kerja sama yang bagus juga ya, karena akhirnya 16 orang bisa berpakaian kembali sebelum ke rumah pak guru kan. Dalam kemalangan ternyata anak-anak bisa kompak juga ya.

    Mungkin ini adalah suatu pengalaman yang tidak bisa dirasakan anak-anak yang bersekolah di kota Jakarta. Mana mau nyemplung telanjang di kali-kali Jakarta ya?

    EM

    Sis:
    Orang kampung memang lebih taktis bersikap dalam menghadapi tantangan, dan itu menjadi keberuntungan bagiku pernah tinggal di desa.

  2. Hahaha… kok jadi kebayang Laskar Pelangi ya..

    *bang Sony sebagai siapa yah?*

    Sis:
    Setting waktu cerita ini jauh sebelum cerita Laskar Pelangi. Ibarat sarang semut, aku hanya satu diantara semut-semut lain didalam sarangnya yang penuh sesak.

  3. kejadian yang mengasah kerja team yahh..

    berhasil pake sarung semua😛

  4. Pengalaman masa kecil yang menyenangkan bersama teman-teman….kawaii ayu jadi teringat pengalaman masa kecil nih…..
    Sis:
    Ya pengalaman adalah guru yang berharga. Pengalaman mengajari kita untuk tidak melakukan kekeliruan berikutnya.

  5. Hwahahaha …. aku tertawa membayangkan 16 anak beriringan cuma ditutupi tas sekolah …😀 😀
    Untung masih anak-anak ya Bang, baru kelas 1 ya. Coba udah gede-gede, pasti yang ketemu di jalan langsung kabur pontang-panting … hehehehe …

    Sis:
    Tapi yang anak-anak dulu, sekarang udah pada ubanan Tut. Tapi kalau ketemu dan cerita itu, wah serunya bukan main. Cuma kalau kedengaran ama anak-anak, ya trus terdiam, ja-im sih.

  6. wahhhhh seruh yah mas
    jangan penasaran liat permainan aslinya gimana

  7. Kalau dulu, guru boleh melakukan hukuman disiplin seperti itu kepada murid. kalau sekarang, jangan coba-coba. asti gurunya diadukan orang tua kepada polisi.
    Sis:
    Namanya juga sudah zaman reformasi bang. Semua yang dahulu nggak boleh jadi boleh. Semua yang dahulu nggak pantes, jadi pantes.

  8. Saya ketawa sendiri…membayangkan bagaimana jalan terbungkuk-bungkuk melalui jalan tikus ditutupi tas. Nggak sempat cari daun yang lebar untuk menutupi itu ya….hehehe. Ide gurunya boleh juga.

    Tapi zaman sekolah dikampung memang menyenangkan, saya dulu sekolahnya sekelilingnya kebun semangka, dan tebu. Suka ilang ke kebun tebu…hehehe….

    Sis:
    Masalah mencari penutup itu, di sawah cuma ada daun talas/keladi. Itu kan gatal jadi nggak dipakai. Sementara daun pisang susah motongnya, kita nggak punya pisau. Ya sudah ditutup apa adanya aja. Lagi sesama laki-laki nggak malu kok. Makasih ya bu, udah nongol di blog-ku.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: