Oleh: Sony | Januari 30, 2009

Di Kapal Tampomas I

RANTANGMU MANA ??????

 

Setelah  satu tahun kuliah di Yogya, aku diijinkan ayah pulang ke kampung.  Dan dengan terlebih dulu menyelesaikan KRS, kutinggalkan Yoya dengan menumpang Kereta Api Senja  Ekonomi.  Subuh tiba di Stasiun Senen, langsung menuju rumah saudara di bilangan Tanah Abang.  Besoknya beli tiket di kounter Pelni yang terletak di gedung Djakarta Teater untuk KM Tampomas I.  Rupanya penumpang  pada hari Senin untuk Tanjung Priuk Belawan penuh.  Dan memang sejak semula juga direncanakan membeli tiket yang termurah yakni tiket non kelas atau tiket dek.

                  Kakak iparku memang orangnya sangat telaten dan baik hati.  Persiapan pulang dengan kapal kelas dek harus membawa tikar,  sebagai alas tidur, membawa rantang tempat jatah nasi (ransum) dan membawa tempat minum.  Masa itu belum ada  air mineral  dalam kemasan.   Dan itu ditambah lagi bekal  sambal kering (tempe diiris digoreng kering diberi sambal) sebagai  menu tambahan di kapal.  Nah jadilah barangku bertambah dua kali lipat, karena tadinya aku hanya bawa ransel lapang  ala militer.

                             Pagi-pagi, diantar oleh seorang saudara, aku menuju kapal Tampomas yang baru tadi subuh mendarat sehabis pelayaran dari Belawan.  Rupanya aku termasuk agak cepat naik, dan dek masih berisi satu dua orang.  Ada juga yang menawarkan penyewaan tikar, tapi aku tunjukkan tikarku dan menggeser tikar yang sudah dibentangkannya disana.  Rupanya orang ini keberatan sehingga aku harus mencari tempat  lain, tapi kemana ?  Semua sudah dipasang kawan ini tikarnya disitu.  Tiba-tiba ada seorang wanita yang sudah tua, didampingi seorang laki-laki berpakaian seragam petugas pelabuhan.  Mereka berbicara dalam bahasa Toba, tapi aku mengerti makna pembicaraannya.  Rupanya baru tadi mereka berjumpa, kebetulan laki-laki itu bertugas di pelabuhan Tanjung Priuk.  Nampaknya nenek ini akan pulang sendirian ke Belawan, maka akupun bertanya apakah nenek itu ikut rombongan, dan rupanya nenek itu sendirian, maka akupun boleh menggelar tikar didekat beliau.  Kamipun berkenalan (martutur), setelah dia tahu bahwa kami masih satu marga keturunan Silahi Sabungan, maka akupun memanggilnya Ompung.  Dan kontanlah hari itu juga aku jadi cucunya.

                           Rupanya beliau ini mempunyai anak tiga orang di Jakarta, dan tiga orang di Medan.  Satu di Balikpapan, satu lagi perempuan ikut suaminya yang diplomat ke Yugoslavia.  Beliau begitu hapal dengan suasana di kapal.  Aku sempat bertanya, kenapa ompung di dek, kan amang boru (panggilanku untuk anak-anaknya)  bisa membelikan tiket kelas.  Tapi dia katakan di kelas itu sunyi, terkurung seperti di penjara.  Bisa masuk akal juga sih.

“ Nanti kau pesan nasi kita sama pegawai kapal ini di bagian kelas, supaya nasi kita nasi kelas, bukan nasi dek.  Ini rantangnya, nanti kau tanya harganya, untuk kita berdua.  Mari sini rantang sama piringmu itu biar kusimpan  di koporku, supaya tidak hilang.  Maka disimpanlah perlengkapan yang telah dikasi kakak iparku dari jakarta ke koper ompung boru itu.  Dan akupun memesan nasi kepada bagian ransum kelas, dan sesuai perjanjian akan dibayar sebelum makan terakhir  menjelang Belawan.  Dan memang, nasi yang kami dapatkan kualitasnya lebih baik daripada nasi teman-teman sesama penumpang di dek.

                          Satu keberuntungan bagiku selama di kapal, karena ompung memang tidak mau pergi kemana-mana kecuali  ke kamar mandi.  Dan itupun udah kami sewa satu buah ember plastik, supaya  kalaupun sedang sabunan mai air, kita masih bisa membilas badan dengan persediaan seember.  Ompung  memang sangat teliti.   Dan satu lagi istimewanya, rupanya sepanjang perjalanan di Selat Malaka, ompung tidak pernah kesepian, ada saja kenalan ompung yang bertemu di kapal, yang tua, yang muda dan sepanjang malam banyak orang yang duduk duduk didekat ompung bercerita kesana kemari.  Dan akupun dengan bebasnya berkeliaran diatas kapal bertemu teman-teman lama yang sekarang sudah menjadi  mahasiswa di kota lain seperti Bandung, Surabaya, Jember, Bogor yang dulu memang sama-sama sekolah di Medan. 

                         Setiap kali mau tidur, ompung selalu bertanya apakah aku  mabok atau nggak enak badan?  Maksudnya kalau nggak nak badan biar dikasih minyak gosok.  Tapi memang secara kebetulan dalam perjalanan dua malam tiga hari itu, aku merasa segar segar  saja.

                         Tiba di Belawan, setelah membayar uang ransum dan ember (tentu saja uangnya dari ompung), aku disuruh ompung mencari tukang pikul barang.  Barang nenek memang banyak, ada enam potong.  Tikarku juga sudah diikat ompung menyatu dengan barang-barangnya.  Maka aku disuruh ompung menjaga diatas, dan dia bersama seorang tukang pikul turun.   Tidak lama kemudian tukang pikul tadi datang dengan dua tukang pikul lainnya dan seorang laki-laki.  Karena sudah kenal dengan pemikul pertama, kamipun turun. 

                         Dibawah aku diperkenalkan oleh ompung dengan anaknya dan dua orang cucunya. Yang kemudian aku tahu satu kuliah di USU dan satu lagi masih SMA di SMA Negeri IV di Medan.

Ompung menyuruhku ikut dia dulu ke rumah amang-boru (anaknya) itu.  Maka ketika yang mahasiswa itu menggamit tanganku, kami berdua pergi ke tempat parkir.  Rupanya mereka ini orang kaya.  Mobil yang menjemput ompung, adalah sedan Mercedes Benz. Maka akupun ikutlah diatas mobil sedan itu, semua barang-barang berada di garasi.  Yang menyetir si mahasiswa, dan amang boru disebelahnya.  Aku dan ompung dengan adik yang masih SMA (namanya Doni Sahala Pangaribuan), dibelakang.  Saking enaknya diatas mobil ber AC itu, aku tertidur, dan baru terbangun ketika sudah sampai dirumah anak ompung ini dibilangan Glugur Medan. 

                            Di rumah anak ompung ini, aku dipersilahkan istirahat. Kata ompung biar nanti si Rihot (itu yang mahasiswa namanya Marihot Tua Pangaribuan) yang mengantar kau ke Padang Bulan.  Ya syukur deh fikirku, maka akupun duduk manis sambil minum the hangat dan kue kering.  Tidak lama kemudian, suara vespa mederu dihalaman, dan aku dipersilahkan ikut Rihot.  Naik diboncengan, tancap menuju Padang Bulan,  rumah kakakku yang sulung. Tapi nasib kurang beruntung, kudapati pagar terkunci.  Tapi aku meyakinkan Rihot bahwa kakak  pasti segera pulang.  Maka akupun ditinggal Rihot sendirian.

                           

 Speninggal Rihot, kucari tahu kemana kakak kepada pemilik warung didekat rumahnya.  Rupanya aku dijemput ke Belawan, dengan suami dan kedua anaknya.  Wadduh… selisih jalan nih, pikirku. Maka aku pergi ke kebun kelapa/rambutan yang ada dibelakang rumah kakakku, kebun itu adalah milik boss ayahku (orang yang cukup kaya menurut pandanganku),  dan menjumpai penjaganya yang memang tinggal disana.  Kami sudah kenal baik dari dulu (sama-sama satu majikan),  dan Pak Panut sipenjaga kebun itupun menyambutku dengan senang hati.  Kebetulan musim rambutan, wah bisa santai juga sekarang fikirku.  Kenyang makan rambutan aku numpang tiduran dirumah Pak Panut.  Baru tidur-tidur ayam (belum terlelap), suara kakak kudengar memanggil pak Panut.  Dan akupun keluar dari gubug pak Panut membawa ranselku, masuk ke rumah kakak.

Kuletakkan ranselku dan mengeluarkan oleh-oleh Dodol Garut yang sudah dibelikan abang di Jakarta.  Tapi kakak bertanya: Rantangmu mana? Tikarmu mana? Gelasmu mana? Piringmu mana?   Kamu memang betul-betul nggak tahu diri.  Malu bawa rantang kamu buang ke laut atau kamu kasihkan kepada orang lain?  Itu semua dibeli pakai uang dek. Lagian kamu ini keluar lewat pintu mana, satu satu penumpang kami sensus sampai habis, kamu nggak ada juga.  Di radio diumumkan tujuh kali. Kupikir kamu nggak jadi pulang. Kakak kecewa dengan kelakuanmu ini.  Kalau nanti mamak tahu, dia pasti sedih.  Beruntun omelan-omelan itu seperti peluru mitraliur keluar darimulut kakak.  Aku terduduk lemas.  Aku ingat, semua barang-barangku dengan rapih tersusun dalam koper ompung.  Kupikir semula pertemuanku dengan ompung adalah anugerah…eh buntutnya jadi musibah.  Untuk memberikan jawaban saat itu, nampaknya sudah tidak  tepat waktu.  Maka akupun pergi tidur. 

Sore harinya, aku diajak Pak Panut memetik kelapa dan rambutan untuk oleh-oleh ke rumah orang tuaku di kampung besok.  Menurut cerita Pak Panut, kakak juga akan ikur ke Berastagi.  Kami turunkan kelapa sepuluh butir, dan rambutan satu keranjang.  Saat kami sibuk mengupas sabut kelapa dan mengikat  rambutan, Rihot datang membawa barang-barangku yang teringgal itu.  Bagaikan gelap malam bertukar siang, hatiku terang benderang.  Dengan bermohon-mohon aku meminta Rihot sabar sebentar, biar kupanjatkan rambutan buat si ompung dan seisi rumah di Glugur.  Sepulang Rihot, akupun melaporkan kepada kakak sebagai berikut:

1.     Penyiapan oleh-oleh ke Berastagi sudah siap.

2.     Rantang, tikar, piring dan cangkir siap untuk diserahkan.

3.     Laporan selesai.

Tapi kakak masih merengut juga, tapi abang iparku tersenyum sambil mengedipkan matanya kepadaku.

Kapal Layar Motor Dewaruci

Kapal Layar Motor Dewaruci

Rambutan

Rambutan

Vespa

Vespa


Responses

  1. Gara-gara ketemu ompung yang baik hati jadi lupa deh rantangnya… gimana kalau ketemu gadis manis ya? apa lagi yang lupa?.. hehehe😉

    Sis:
    Sebenarnya nggak lupa, cuma gengsi mau membilangkannya sama ompung. Maklum anak ompung adalah orang kaya. Apalah arti sepsang rantang aluminium. He..he..

  2. haha..lucu juga ceritanya..nama kota/tempat yg ada dlm cerita, begitu akrab di telinga..dulu sering disebut-2 ibu ku..akan lebih menyenangkan kalo aku bisa kunjung ke sana ya..Om..

    mengenai rantang..biasa..laki-2 tidak teliti..! daaann..gede gengsinyaa..:-)

    Sis:
    Semua yang kamu bilang itu benar 100%, dan aku sudah kena batunya gara-gara gengsi minta rantang.
    Tapi kalau sekarang tidak gengsi-gengsian lagi.

  3. Lho… selain itu kan aku bawain bantal juga…!
    Dibuang ke laut yaaaa? (sambil merengut…manyun…)

    Sis:
    Iya..ya, bantalnya tinggal di rumah kok Na. Sori deh, abis kamu kasih bantal yang sudah ada gambar pulau pulaunya. Nggak laaaaahhhh

  4. Naik kapal tiga hari dua malam? Alamaaak …. aku nggak bisa bayangkan gimana capeknya. Wah, mahasiswa yang merantau ke Yogya dari tempat-tempat jauh ternyata benar-benar penuh perjuangan ya.

    Bang, sekedar saran nih (kalau nggak berkenan ya nggak apa-apa …). Supaya lebih mudah dan enak dibaca, mungkin Bang Sis bisa membagi tulisan menjadi alinea-alinea yang diberi jarak spasi. Syukur ada selingan gambar atau foto. Soalnya kalau ditulis puanjaaang begitu, aku suka salah ganti baris waktu membacanya. Hurufnya sudah bagus Bang, agak gede. Kalau hurufnya terlalu kecil, aduh …. bacanya capek dan susah …

    Maaf Bang, sekedar saran lho …

    Sis:
    Tuti adalah orang yang ketiga komplain mengenai paragraf ini. Yang pertama protes adalah Nadin dari Jkt dalam tulisan Masa Kecil, menyusul Tanti dari Sby dalam tulisan Sarang Burung Manyar, dan sekarang Tuti dalam Kapal Tampomas. Kayaknya aku lupa-lupa aja mengeditnya, walau dalam hati pasti ada rencana, termasuk menambah foto-foto. Tapi aku berjanji akan memperbaiki kekurangan ini supaya lebih enak dibaca dan memberikan informasi yang lebih baik. Terima kasih atas semuanya.
    Tentang beratnya jadi perantau…. ya itulah perjuangan untuk sebuah masa depan, kendatipun ternyata tidak semua yang datang ke Yogya mampu mencapai apa yang ditugaskan oleh orang tua.

  5. Barusan saya pulang dari Cruise selama 5 hari enam malam. Dan ketika sampai di Miami dan tinggal di hotel setiap kali masuk toilet atau tidur dikamar masih ada perasaan seperti bergoyang goyag dikapal… 🙂

    Cerita yang menarik Bang, jika kita sendirian dalam perjalanan saya yakin lebih baik juga berkomunikasi dengan orang sekitar sehingga ada teman dan syukur-syukur dapat orang baik seperti opung itu juga sangat menyenangkan. Thanks

    Sis:
    Eh mbak Yulis kita kangen, lama nggak muncul. Goyang di kapal itu kadang sampai seminggu baru habis. Sebentar-sebentar terasa goyangnya entah di tempat tidur atau dikamar mandi. Tapi perjalanan dengan kapal mempunyai rasa tersendiri.

  6. rambutannya seger tuuh..! manis ‘ga..?

    bagiii dooong…;-)

    Sis:
    Kalau mau datang aja ke Brahrang di pinggiran kota Binjai, sebut saja namaku pasti nanti mbak dikasi banyak-banyak. (Tapi bayarrr).

  7. Cerita yang indah sekali. Dulu, saya begitu iri dengan teman-teman yang rumahnya di luar Jawa, karena kalau liburan bisa naik kapal. Saya harus naik kereta api, yang melalui Jakarta atau Bandung (kuliahku di Bogor). Tapi temanku yang di Bandung malah bilang..”Enak, kamu bisa naik kereta pulang kampung,” katanya.

    Memang sawang sinawang, tapi baca cerita ini saya mendapat gambaran suasana di kapal (sampai sekarangpun saya belum pernah naik kapal besar…jadi mimpinya belum terpuaskan).

    Sis:
    Yaaaaahh, kalau sekarang mbak Edratna kepingin merasakan suasana tidur di tikar diatas kapal, udah nggak ada. Karena kapal penumpang sekarang kelas paling murahnya disediain dipan dan kasur kok. Namanya kelas Pariwisata.
    Udah telat mbak… he..he..he.. karena terakhir tahun 1986.

  8. bang, saya minta dikirimin rambutannya aja
    buah kesukaan saya tu
    pengen banget…..

    Sis:
    Waduh, pohon rambutan udah pada ditebangin diganti kelapa sawit dek. Tandan buah segar kelapa sawit mau???

  9. Hi friend.. Nice and interesting post.. Good work.. Do visit my blog and post your comments.. take care mate.. Cheers!!!

  10. jadi ingat dulu waktu tahun 81, saya pulang kampung ke medan sama orang tua naik tampomas…mantab betul kapalnya…

    horas,

    bonar
    http://sihotang407.wordpress.com

  11. hikikikkkkkkkkikikkk…..
    kayanya kakak bang sony itu mirip – mirip saya deh…hi….bawaannya serius, galak pula…apalagi sama adik sendiri! Tapi saya yakin itu karena beliau menghargai barang kepemilikan…dan mungkin punya persepsi kalau adik (apalagi yang sudah merantau) bawaannya tidak menghargai amanah dari kakak. Dan memang, jawaban paling tepat adalah dengan memberikan jawaban kongkret berupa tindakan! hihi…….

    Sis:
    Kayaknya memang sama dengan kamu. Dianya pensiunan Kepala Sekolah, galak dan ditakuti anak sekolah satu kecamatan he..he..he..
    Kapan-kapan kukenalkan kamu sama dia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: