Oleh: Sony | Maret 6, 2009

HATI YANG TERKILIR

MINYAK URUT YANG   BERJASA

                        

RS Panti Rapih   Foto: Gudeg Net.

RS Panti Rapih Foto: Gudeg Net.

Kuhempaskan badanku di kasur dipan yang sudah gepeng dan mengeras. Keletihan seharian berkeliling mencari lokasi penutupan pertemuan sekaligus Ibadat Paskah, semula direncanakan di Aula IKIP Sanata Dharma atau Gelanggang Mahasiswa UGM, tapi nampaknya temen-temen lebih suka dilaksanakan di Kaliurang saja. Dan akhirnya aku terpaksa ikut juga kesana untuk mencari gedungnya. Dan syukur kepada Tuhan, kebutuhan terepenuhi atas rekomendasi sesepuh kami yang tersayang Prof. Sartono Kartodirdjo.

                               Pagi itu aku langsung turun ke Yogya dan istirahat setelah semalaman kluyuran. Maklum, gawean kali ini cukup besar, Perayaan Paskah Mahasiswa Katholik se Pulau Jawa. Dan tahun ini tuan rumahnya adalah Yogyakarta. Asrama Putra Katholik Realino, dan Asrama Putri Syanti Kara menjadi penampungan utama para kontingen. Limpahannya tadi yang putri dititipkan di Asrama Putri UGM Ratna Ningsih. Asrama Stella Duce juga bisa dipakai Aulanya jadi bangsal bersama. Kasihan mereka tidur diatas tikar saja tanpa kasur.Tanpa sarapan pagi aku sudah terlelap terbawa mimpi.

                                       Separuh jalan mimpiku, kamarku digedor-gedor, suruh bangun. Mas Wiwin anaknya Ibu Kost membangunkanku dan mengatakan ada tamu untukku. Kulihat jam sudah pukul 10 WIB. Dengan bermalasan aku mengintip ke rumah sebelah, karena tamunya ada di sana. Rupanya Totok Karulus, teman sesama panitia lokal. Buru buru aku ke kamar mandi raup, dan sambil bersisir datang ke ruang tamu. “Ada apa Tok? Aku baru aja turun dari Kaliurang..” ujarku setengah protes karena merasa terganggu. “Anu Sis, ada kawan kita kontingen Surabaya yang jatuh di kamar mandi Asrama Ratna Ningsih, trus tangannya terkilir.” Ujarnya. Wadduh kalau di Ratnaningsih pasti cewek ini, fikirku. “Gimana kondisinya?” tanyaku. Sebenarnya ini bukan tanggungjawabku, tapi tanggung jawab bagian kesehatan. “Dibawa ke Panti Rapih, tapi lengannya bengkak dan kayaknya sakit sekali.” Jawab Totok. “Tapi apa hubungannya samaku, kok kamu kesini?” tanyaku lagi. Totok nyengir. “Gini nih logikanya. Kamu ingat waktu kita survey di Bojonegoro, kamu kan jatuh kesungai ditimpa perahu, tulang bahumu lepas. Nah yang ngobatin kan itu ada minyak dukun yang kiriman dari Medan. Mana tahu masih ada tersisa maksudku.” Ujarnya.

Minyak urut dari Tanah Karo                         Foto: Danny Computer

Minyak urut dari Tanah Karo Foto: Danny Computer

 Betul juga fikirku. Tapi minyak itu dulu tersisa satu botol kukasihkan sama sepupuku Yuniarwan untuk ngobatin kakinya yang lecet jatuh dari sepeda motor. Tapi siapa tahu masih ada yang tersisa. Tanpa pamit sama Totok aku kembali ke kamar, nyambar jaket dan keluar dengan motor honda bebek bututku. Setelah kuhidupkan baru kupanggil Totok. Dia kusuruh ke rumah sakit, nanti aku menyusul. Berpisah dengan Totok, aku terbang ke Gejayan Santren, ketempat kost Yun. Beruntung, minyak itu masih ada setengah botol lagi. Wah cukup buat tiga hari fikirku. Selanjutnya tancap ke RS Panti Rapih.

                                        Sampai disana, Totok sudah ada dan sedang ngobrol dengan kawan=-kawan panitia lain di ruang depan RS. Dapat info nama dan kamar yang sakit, aku langsung ke sana. Kutilang 4, dan ketika aku masuk ruangan itu, ada dua orang yang menunggui satu orang gadis dan satu orang lagi anak laki-laki ganteng. Habis menyalami yang dua orang itu, aku menyalam si pasien. Yang terkilir tangan kiri rupanya. Dan ketika aku menyalamnya, busyeeeeet orangnya cantik baaaaaanget. Tanpa sadar aku menoleh ke si pemuda, pacarnyakah ini? Tanya hatiku. Kalau si cewek yang satu lagi aku tahu panitia lokal dari tanda pengenal panitia yang menggantung dilehernya.

                             Lalu dengan caraku sendiri, kujelaskan bahwa aku membawa obat untuk menyembuhkan penyakit terkilirnya. Tapi dokter nggak boleh tahu, jadi kudu diam-diam. Padahal baunya agak menyengat juga sih, bau minyak ramu-ramuan dari daerah Karo, disebut minyak Tawar Penggel, untuk mengobati patah tulang. Kami sepakat diminyaki setelah visit dokter saja supaya nggak ketahuan. Konyolnya lagi, untuk mengoles minyak ini harus pakai bulu ayam yang halus, maka aku kembali ke rumah dan kukorbankanlah builu ekor ayam jantan Wiwin empat helai. Mudah-mudahan dia nggak tahu fikirku.

                            Sekitar jam 3 sore aku kembali ke RS Panti Rapih, dan tangan yang bengkak itu kuoles dengan minyak pakai bulu ayam. Sepuluh menit proses selesai, dan dia diberi minum air jeruk campur garam, biar nggak kesakitan. Beruntung, minyak itu sangat mujarab, keesokan paginya bengkaknya sudah kempes walau sakitnya masih mendenyut. Perasaan bangga mulai timbul dalam hatiku, serasa berhasil jadi dukun (palsu) yang mustajab dan sakti mandraguna.

                          Siangnya sehabis mengurus administrasi gedung di Kaliurang, seakan memiliki tangung jawab khusus, aku langsung ke Panti Rapih, dan mengobati tangan mulus yang sudah tidak bengkak lagi itu. Rasanya kok sudah dekat banget, ketika aku mengoles tangan gadis itu dengan bulu ayam, rupanya ada biji-bijian rumput liar dirambutku, mungkin karena seruduk sana sini di Kaliurang tadi pagi, dengan lebut diambil olehnya. Serrrrrrrrr agal merinding juga bulu roma sekujur leherku. Tapi kami hanya tersenyum. Nggak perduli apakah senyumku manis atau malah menakutkan, yang penting senyum.                                   

                                Keesokan paginya, ketika aku datang ke Panti Rapih, dia ditemani seorang pemuda lain, bukan yang hari pertama. Melihat dia duduk didipan bersebelahan dengan gadis itu, pastilah sudah sangat akrab fikirku. Ketika aku masuk, si gadis tersenyum riang. Wah ini rupanya pacar si gadis ini, fikirku. Ada gejolak cemburu di hatiku. Cemburu yang kedua kalinya. “ Mas, kenalkan Mas Sis ini yang ngasih obat terkilir ini makanya cepat sembuh.” katanya. Laki-laki itu berdiri dan menyalamiku dengan sangat samah dan hangat. Laki-laki ini baik, sangat pantas buat si gadis secantik ini gumamku dalam hati. Dengan rasa dipecundangi, kalah dalam segala segi, aku buru-buru mundur dari rumah sakit, dengan alasan persiapan perayaan paskah di Kaliurang.  

Sedih Melihat Dipan Kosong

Sedih Melihat Dipan Kosong

                           Siang berikutnya, ketika aku datang untuk jadwal pengobatan yang ketiga, sigadis sudah tidak disitu lagi. Dia bersama pemuda itu telah pulang ke Surabaya. Konfirmasi dengan ketua rombongannya, juga membenarkan bahwa sigadis telah pulang ke Surabaya siang itu dengan pesawat Garuda. Hampa terasa badan, melayang-layang bagai tak berbobot. Ada rasa sepi yang sangat sepi, kosong, sendiriaaaaaaannnn. Kutatap dipan yang kosong itu, yaaaa kosong. Tanpa sisa semangat sedikitpun, aku kembali ke tempat pertandingan Volly antara kontingen Malang melawan Solo di Lapangan Volly UGM. Tidak ada yang menarik, aku ke sekretariat Panitia di Jl Abubakar Ali 1. Kenapa aku nggak bersemangat, apa yang aneh denganku? Fikirku tak tentu.

Hargobinangun Kaliurang                          Foto Dinas Pariwisata DIY

Hargobinangun Kaliurang Foto Dinas Pariwisata

******* *******

                             Dua bulan kemudian. Sewaktu aku asik mencuci sepeda motor bututku didekat sumur belakang, Bu Wening, ibu Kostku memanggilku, katanya ada tamu, seorang tentara. Kuintip dari gang, nampak Toyota Hardtop Militer diparkir didepan rumah kostku. Kurapihkan diriku sebentar, setelah cuci tangan aku datang ke depan. Seorang laki-laki kira-kira berumur enampuluh tahun berdiri dan menyalamiku. Aku belum kenal dia.

“Aku ayah gadis yang kau tolong, yang terkilir tangannya waktu paskah yang lalu.” Ujarnya. Wah bapak ini pasti orang berpangkat, tapi dia nggak pakai pakaian militer, fikirku. “Wah berarti bapak dari Surabaya?” tanyaku. Agak jengah juga dianggap berjasa menolong anaknya. “Iya, kebetulan anak adik perempuanku akan menerima sakramen perkawinan nanti sore. Jadi aku mengundang dan mengajak kamu ikut ke gereja nanti. Bisa kan?” bujuknya. Aku ragu, karena aku nggak memiliki pakaian yang pantas untuk resepsi perkawinan, baju kaos, celana jeans. Gimana nih? Fikirku dalam hati. Ah percuma jadi orang Batak kalau masih juga ada gengsi gengsian fikirku. “Pak, aku bukan nggak kepingin ikut. Tapi aku nggak punya pakaian yang pantas, nanti memalukan pak.” Ujarku sambil tersenyum. Bapak itu menatapku tajam. “Ah gampang, nanti kita belikan baju batik.” Ujarnya. Wah…gimana nih? Fikirku galau. Tapi kepalaku ngangguk tanda menyerah.

                                Dan jadilah kami membeli batik, dan dengan sedikit canggung aku ikut perarakan dari rumah ke Gereja Jalan Kolombo. Ketika diperjalanan bapak itu berceritra bahwa beliau pernah bertugas di Pangkalan Angkatan Laut di Sibolga, dan sudah hapal dengan karakter orang Batak. Bahkan perbedaan budaya antara batak Toba, Karo, Mandailing, Pakpak, juga beliau mengetahuinya. Beliau juga tahu tentang ramuan-ramuan obat patah tulang yang ada didaerah kampung halamanku.

                            Dan dari ceritra sana sini akhirnya aku mengetahui bahwa beliau orang berpangkat dan sekarang menjadi komisaris pada sebuah BUMN dibidang perkapalan di Surabaya. Kedatangan beliau menjadikan aku dapat baju batik dua stel. Ketika beliau pulang beliau menyuruhku main-main ke Surabaya.

Batik Yogya                                         Foto: Wikipedia

Batik Yogya Foto: Wikipedia

****** ******

                                        Kesempatan ke Surabaya datang, ketika kakak dari seorang sahabat kuliahku melangsungkan perkawinannya di Surabaya, tepatnya di Jalan Jambu. Nah, kebetulan salah satu dari anggota kelompok kita adik ipar pengusaha travel di Yogya, jadi deh kita bisa bawa satu unit Mitsubishi Colt T-120, dengan catatan disopiri sendiri. Kita berangkat dari Yogya bersembilan orang, sepanjang jalan ber koes Plus ria.

                                           Singkat cerita, sesampai di Surabaya, aku minta diantar ke Jalan Gadung, alamat yang diberikan bapak itu kepadaku. Ketika sampai disana, bapak nggak ada dirumah, gadis yang terkilir itu juga nggak ada di rumah, yang ada hanya anaknya yang bungsu (seorang gadis SMA), dan pembantunya. Agak kecewa memang, tapi apa boleh buat, kami pulang dan akupun meninggalkan alamat tempat pesta perkawinan di Jalan Jambu itu.

                             Malam itu, ketika kami asik ngobrol sambil main gaple di rumah temanku itu, ada yang mempertanyakan, apakah ada yang namanya Sony, dan tentu saja aku menoleh dan mengiyakan. Aku keluar menemui orang yang mencariku itu. Dannnnn ternyata adalah sigadis yang pernah kuobati bengkak siku tangannya. Bergetar seluruh nadiku menatap wajahnya, dan bagai kerbau dicocok hidung aku menurut saja diseretnya. Ya ampuuuunnnn gadis inipun tanpa malu menarik-narik tanganku. Aku dinaikkan kedalam mobil sedan Corolla hitam, dan yang membuatku jadi galau, laki-laki yang menyupir adalah laki-laki yang menjemputnya di Yogya tempo hari.

                                      Herannya, aku disuruh di depan bersama cowok itu, dan si gadis duduk dibelakang. Hatiku udah tak nyaman, yakinlah sudah bahwa laki-laki ini bukan hanya sekedar pacar, tapi tunangan barangkali. Tapi di jari si cewek hari itu nggak ada cincin. Lagi kayaknya laki-laki ini orang kaya, punya mobil sedan terbaru. Wah ngapain lagi aku dijemput segala, dengan alasan bapak mau ketemu.

                                    Dirumah itu aku disambut dengan sangat ramah. Bapak mengajakku main catur ditonton dan disupport oleh semua anggota keluarga. Separoh memihakku separoh memihak bapak. Tidak kusadari, aku sudah larut didalam keakraban seisi rumah itu. Bahkan putri tertua bapak itu juga singgah dengan suami dan anaknya, dan mereka juga sangat ramah.

Percaturan Hidup dan Cinta                     Foto: Wikipedia

Percaturan Hidup dan Cinta Foto: Wikipedia

                                   Entah bagaimana ceritanya, akhirnya aku tertinggal berdua dengan gadis itu. Ya dia dua kali berkirim surat, tapi aku nggak balas. Aku tidak membalas karena takut terluka. Dan apa yang kuduga semula, memang dipertanyakan tentang suratnya. Jawabku, adalah terlalu sibuk sehingga kelupaan membalas. Dadaku bergemuruh bimbang. Tapi akhirnya kuberanikan diri untuk mempertanyakan pemuda yang menjemputku tadi.

                              Dia tertawa kecil dan senyum yang manis sekali. Laki-laki itu adalah saudara kandungnya, yang sebenarnya sudah kuduga setelah sampai dirumahnya tadi sore. “Berarti kamu nggak baca suratku itu. Disitu kuceritakan kok tentang keluargaku.” Ujarnya. Ya aku mengakui dalam hati, aku memang sudah menutup diri rapat-rapat, sehingga suratpun tidak ingin aku membacanya.

    

Rantang Cinta                                Foto: Kranjang Hantaran.com

Rantang Cinta Foto: Kranjang Hantaran.com

                               Keesokan harinya, ketika Colt T-120 kami akan pulang ke Yogya, kami singgah sebentar di Jalan Gadung, dan oleh si Gadis (tepatnya oleh Ibunya), dititipi bekal rantang dengan penuh makanan dan termos berisi kopi panas, buat bekal diperjalanan. Dengan sepotong kertas terselip disana: Mas Sis, secepatnya antar Rantang dan Thermos ini ke Surabaya.

                                                   Ketika membaca pesan tersebut, (setelah melewati Kertosono) kami bersorak ramai-ramai. Kata temanku: Sis, mungkinkah akan ada lagi rombongan Jagong Manten ke Surabaya dalam jangka waktu dekat? Aku hanya tersenyum kecut. Lulus aja belum, kok mikir manten…..belum….belum dulu deeeehhhh***************

Asrama Putri Ratnaningsih                                         Foto: Friendster

Asrama Putri Ratnaningsih Foto: Friendster


Responses

  1. wah seru juga ceritanya…

    mudah-mudahan berlanjut ya…cerita romantisnya …

    chiayo…

    Sis:
    Untuk tahu kelanjutannya, pastikan kunjugannya ke rumah kita setiap kesempatan. He..he..he..

  2. Hwaaaa,….so sweet ceritanya,….
    jadi ikut senyum bahagia ne,…
    nek jadi ada rombongan manten Jogja_Sby, kula diundang nggih mAs,..

    Sis:
    Bagaimana kalau Rombongan Blogger yang akan kopdaran di Surabaya, Mau ikut juga?????

  3. Uhuuy… nostalgia.. true story ini?😉
    trus, gimana kisah si gadis manis dari Surabaya tadi?

    *kedip-kedip*

    Sis:
    Yang dibaca ya critanya dong.
    Kelanjutannya?
    Nantikan episode selanjutnya
    Lebih seru dan lebih mengharukan…..(ya ellaaaaaaa
    )

  4. …..

    Sis:
    Artinya, Silent is Gold….ya?

  5. Waah … pasti rantang itu langsung dikembalikan ke Surabaya ya? Terus waktu pulang ke Yogya, Bang Sis dibawain rantang lagi, gitu? Jadinya bolak-balik nganterin rantang dong … hehehe …

    Namanya siapa sih bang? Pasang fotonya dong … (kalau aku yang terkilir, minyaknya masih ada nggak Bang? 😀 )

    Sis:

    Ada Pepatah Karo: Singeteh Ngenca Ngangkasa, jadi kira-kira demikian; hanya orang yang mengetahui saja yang bisa memahami.
    Kalau soal minyak, persediaan lebih dari cukup kok.

  6. … Asrama Putri Syanti Kara menjadi penampungan utama para kontingen…

    wah jadi inget waktu saya masuk pertama kali ke asrama syantikara dan kemudian tinggal 5 tahun di sana…

    Sis:
    Sempat jadi senior dong disana ya. Jangan-jangan sempat lihat bekas telapak kakiku di situ ya. Aku suka belajar disana sampai pagi.

  7. waduh waduh waduh..cerita sepanjang ini harusnya udah jadi buku! *ampunn …hehe.ampunnn*

    Sis:
    Ceritanya pendek kok Yess, cuma sampai disitu aja kok. Nggak jauh-jauh.

  8. Ditunggu kelanjutan true story yang bikin penasaran ini. Kapan dibukukan.

    Sis:
    Aku sedang merangkai daun daun luruh yang telah mengering untuk dihijau dan disegarkan kembali, mengingat ingat yang terlupa, menjemput yang tertinggal, mangais ditepian, butir butir yang telah terhempas oleh gelombang waktu.

  9. wahh…kapan lanjutannya nih bang? seru banget nih ceritanya! bisa aja motong cerita pas lagi panas – panasnya!…kaya iklan di tv aja! he…..

    Sis:
    Kelanjutannya masih menunggu persetujuan dari pemilik tangan yang terkilir itu. Sabar ya….

  10. Panjang bener ceritanya mas, sampe bingung … nanti baca lagi deh, sekarang mau nyapa aja dulu🙂
    Sis:
    Iya deh, dibaca satu satu aja, karena lain judul kan lain topik, kecuali Pawang Ternalem. Trims udah datang ke blogku.

  11. mampir aja… salam kenal😀
    Sis:
    Terima kasih sudah berkunjung. jangan lupa mampir lagi ya.

  12. wah….ceritanya seru, gmana kelanjutan ?

    asrama ku Ratnaningsih..

    Sis
    Yang serunya hanya disitu itu, seterusnya biasa saja


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: