Oleh: Sony | Mei 4, 2009

TERMAKAN BUALAN

KERETA API PUN KUMAKAN ASALKAN KECIL

Setiap kali melihat pohon karet yang besar bercabang, tanpa sengaja aku selalu teringat dengan seorang sohibku bernama Firman. Ada kenangan yang sangat berkesan dan tak akan pernah kulupakan dengan sohib yang satu ini.

Balai Laki                                                       Foto: Wikipedia

Balai Laki Foto: Wikipedia

Cerita ini berkisah pada pertengahan tahun delapan puluhan, ketika kami masih sangat muda belia. Kejadian ini berlangsung di Bumi Baja Sampai Kaputing, yakni di perbatasan antara Propinsi Kalimantan Selatan dengan Kalimantan Timur. Pada waktu itu kami, sekelompok insinyur muda yang baru turun gunung menuju dunia persilatan, ditugaskan oleh sebuah Perusahaan Konsultan untuk melakukan inventarisasi sumberdaya alam guna sebuah proyek pembangunan bersekala nasional. Kami merupakan tim yang utuh, terdiri dari dua pemuda batak, satu pemuda sunda, tiga pemuda jawa, satu pemuda melayu, satu lagi pemuda betawi.

Dengan latar belakang kehidupan dan universitas yang berbeda-beda, kami menjadi satu tim yang sangat komplit. Termasuk keterampilan diluar keahlian akademik. Sohibku Firman ini sangat mahir bermain gitar, dan pandai berdendang melayu. Maka setiap kali kami pindah kamp karena pergeseran lokasi kerja, maka Firman lah pemuda yang paling cepat dikenal oleh masyarakat setem[pat. Karena keluwesannya, dan karena kekocakannya. Orangnya juga sangat rendah hati.

 Satu ketika, kami terpaksa berhenti melakukan survai karena kami keperogok dengan ular yang sangat besar, yang merayap diatas pogon rambung dan masuk kedalam gua di percabangan Sungai Uya dengan Sungai Ayu. Keesokan harinya, kami diundang oleh bapak Pembakal (Kepala Desa) untuk menyaksikan penangkapan ular tersebut. Dan memang sungguh mendebarkan. Ketika para bapak bapaknya melemparkan gumpalan ilalang kering yang sudah dibakar kedalam gua, akhirnya ular itu melompat keluar gua. Seketika juru tombak melemparkan lembingnya persis pada leher ular itu, dan ularnya menggeliat meratakan seluruh rumput dan tanaman disekitar dataran itu. Kemudian empat orang mengangkat kayu dan menindih leher ular itu, selanjutnya digergaji dengan gergaji mesin (chain-saw). Dalam sekejab putuslah leher ular itu. Dalam sejurus ular itu masih bisa bergerak kesana kemari tanpa kepala. Merinding bulu romaku melihat ular yang bergerak tanpa kepala dan berlumuran darah.

Kemudian dua laki laki membawa dua batang bambu yang masih lumayan muda. Ujungnya yang sebesar ibu jari ditusukkan ke leher ular, dan selanjutnya ular diseret mengikuti alur sungai menuju desa. Sampai di tepian desa, ular dibersihkan dan silepaskan kulitnya. Setelah dilebarkan, pada bagian perut ular itu mencapai lebar 66 cm, dapatlah dibayangkan besarnya ular tersebut. Panjangnya saja sampai 14 meter. Kulit ular itu dijual dengan harga Rp 450.000 kepada seorang pedagang yang beroperasi di kecamatan daerah survai kami. Dan uang itu masuk kedalam kas desa.

 Kemudian oleh penduduk dibuatkan satu tempat pemanggangan dari kayu panjang, dan setelah dibelah bagian perutnya, bagian punggung ular tersebut dililitkan ke batang pemanggangan, kemudian dipanggang diatas api, seperti layaknya membuat kambing guling. Tubuh ular itu dirajah dengan pisau kemudian diolesi dengan bumbu-bumbu dan dipanggang sampai matang.

 Adapun rekanku Firman, pada hari itu tidak di desa, karena ditugaskan bersama dua orang pemuda kampung menjemput peralatan survai ke kota Tabalong, sehingga dia tidak melihat proses penangkapan ular dan pemanggangannya. Tapi tentang ular besar ini dia memang sudah mengetahui sebelum pergi ke Tabalong. Nah ketika mereka udah sampai di desa, kami sudah siap siap mau makan malam. Tapi akrena dia bilang lapar, maka kami menunggu dia selesai mandi, dan makan bersama.

Ketika kami sedang mulai menyendok nasi masing-masing, maka anak bungsu Pak Pembakal menambahkan suguhan daging ular panggang tadi siang didalam sebuah panci. Dia bilang, ini daging ularnya bang, untuk obat gatal-gatal. Kamipun mengiyakan, karena sebenarnya tadi siang juga kamu sudah menyaksikan orang-orang mengambil bagian daging ular panggangnya di tepian sungai. Dan kami semua memang tidak berani dan tidak ingin memakannya. Lalu seorang teman bertanya kepada Firman, Apakah kamu mau daging ular Fir? Lalu rekan kami menjawab: Jangankan ular, kereta api pun kumakan kalau kecil. Kami semua tersenyum, dan Firman menyendok daging ular itu kedalam piringnya.

Ular Kalimantan                                              Foto : Wikipedia

Ular Kalimantan Foto : Wikipedia

Selesai makan, kami masih duduk di tikar sambil merokok. Ibu Pembakal datang mengumpulkan piring kotor, tapi dia melihat daging ular panggang itu masih utuh, berkurang dua tiga sendok saja. Maka dia bertanya: Kenapa daging ularnya nggak dihabiskan? Kalian makanlah ini bagus untuk obat gatal-gatal. Kami menjawab, kami nggak bu, cuma Firman aja yang doyan.

Mendengar jawaban kami, Firman bertanya kepadaku: Son, yang jujur kau, apa betul daging di panci tadi daging ular? Tanyanya dengan agak gugup. Aku dengan santai menjawab: Bener, ular yang kita perogoki kemaren, tadi ditangkap dan dagingnya dipanggang. Kalau kau mau lihat kulitnya, itu dibelakang sedang dijemur. Tiba tiba Firman berdiri dan lari menuju pintu, tapi belum sempat dibuka pintu, dari perutnya sudah menembak muntahan membulat di daun pintu, Firman terduduk lemas. Kami tertawa terbahak bahak, melihat Firman merengut. Dia menuduh kami pengkhianant. Tapi aku beralasan, kami membiarkan dia makan daging ular itu karena dia katakan kereta api saja dia makan kalau kecil. Firmaaaannn oh Firman. Entah dimana sohibku itu sekarang, dan mudah-mudahan dibacanya postinganku ini.


Responses

  1. Nggak cuma kereta api Bang, aspal, baja, sampai tinta Pemilu pun sekarang dimakan orang …😀
    Aku lihat ularnya aja ngeri, apalagi makan dagingnya …. hwaduh ….
    Sis
    Kalau bisa makan aspal dan baja, pasti itu Keturunan Kuda Lumping alias Jaran Gepang.
    Ular saat ini, kayaknya sudah menjadi santapan khas, bahkan empedu ular jadi obat tradisional yang diyakini manjur seribu guna.

  2. Koreksi Bang, bukan Jaran Gepang, tapi Jaran Kepang 😀 (bukan Jawa, sok tahu bahasa Jawa … 😀 )
    ‘Kepang’ itu anyaman bambu yang dipakai sebagai bahan pembuat kuda lumping. Kalau ‘kuda gepeng’, nah … itu malah betul, soalnya kuda lumping itu memang gepeng (pipih).

    Nah, kalau kuda liar, itu lain lagi …
    Sis:
    Berarti guru les nya yang salah Tut. Nanti aku konfirmasi ama beliau.
    Yang anti bocor dan menyerap banyak itu kuda lumping juga kan?

  3. wah.. cerita yg sangat natural.. bang sonny mantep gaya nulisnya.. sangat alami.. di daerah saya belum pernah nemuin ular sebesar itu…
    Sis
    Kalau hutan semakin digunduli, maka ular itu akan musnah dan punah.

  4. Kalo posting pasti selalu pake foto..jadi tambah semangat bacanya ..

    banyak pelajaran yang bisa diambil di postingan ini..

    makasih Oom..

    Sis:
    Iya aku dong yang terima kasih, sudah dikunjungi.

  5. Kalo saya dikerjain kayak teman abang itu bisa gak makan berhari-hari saya, kebayang terus ularnya.
    Tahun 2006 saya wira-wiri Tabalong-Kelua-Muarakoman-Banjarmasin. Sudah maju kali daerah itu bang, malah banyak tambang batu bara dan kebun sawit.

  6. Bang, sebulan lebih nggak posting, ngapain aja?
    Sibuk tandatangan sertifikat tanah ya …
    Sis:
    Sssssssstttttttttttttt ……Rahasia kok disebar sebarin….

  7. aku suka Pak postingan ini..

    jadi bisa ngebayangin proses penangkapan ular itu, asli serem banget, sampe pake gergaji mesin segala

    tapi setidaknya akhirnya lucu
    “kereta apipun kalo kecil ku makan” kwkwkkwkw😛

    Sis:
    Hmmmm lama nggak nyapa….kenapa?

  8. masih sibuk ya..?
    blm ada cerita baru sepertinya..

    nanti datang lagi deh..

    permisi pulang duluuu…

    • Itu udah ada posting baru, namanya hati terbelenggu, cibaca yaaaa

  9. wah mas pasti mencekam tuh , wah ngeri juga ya. si firman emang dari awal ga tau ya bahwa yang dimakan ular. nga dah makan ular . oke selamat malam .

  10. Wah, masih sibuk ya? Saya udah pasang link nya di http://babesajabu.wordpress.com/. Tolong di link balik ya…?
    Salam…

  11. jalan2 d dunia maya, eh,…ada bacaan seru, kreatip.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: